18 April 2013 | 16:00 wib | Griya

Ruang Sunyi Budi Widianarko

image

 

 

Dia menginginkan gaya rumah yang membumi, minimalis, tanpa meninggalkan unsur alam.

 

BAGI sebagian orang, terutama yang sibuk dan punya jadwal padat, rumah menjadi sarana menepi. Karena itulah, memiliki rumah peristirahatan yang jauh dari ingar-bingar kota menjadi keharusan. Seperti Rektor Universitas Katholik Soegijapranata Prof Dr Ir Yohanes Budi Widianarko MSc. Dia merasa perlu memiliki rumah lain yang bisa dijadikan tempat beristirahat pada akhir pekan, baik untuk menjamu, berkumpul dengan teman, maupun tempat menginap sanak saudara dari luar kota.

Selain memiliki rumah utama untuk tempat tinggal di kawasan Jatingaleh, Semarang, Budi memiliki rumah lain di kawasan Bandungan. Rumah itu dia beri nama Villa Uilenstede. ''Di rumah Bandungan itulah biasanya saya mengundang teman untuk berkumpul, berdiskusi, atau beraktivitas ramai-ramai,'' kata suami Imevianti Lim itu.

Mengapa memilih Bandungan? Sebab, kata dia, relatif dekat dengan tempat tinggalnya di Jatingaleh. Selain itu, rekan-rekan yang dia undang sangat familiar dengan Bandungan yang berhawa sejuk.

Alasan Budi perlu memiliki villa karena rumah lamanya kurang representatif lagi untuk menerima tamu yang makin hari kian banyak. ''Kalau di vila Bandungan, selain udara sejuk, suasananya enak. Banyak ruang lapang, sehingga representatif untuk kumpul-kumpul. Mau masak atau acara barbeque pun bisa" kata ayah Arya Pratama Widianarko (23) dan Erlangga Dwitama Widianarko (21) itu.

Karena itulah, Budi tak menempatkan banyak perabotan di dalam vila. Dia hanya menempatkan sebuah kursi panjang di teras rumah, meja dan kursi kayu, dan rak buku kecil di ruang tamu, serta meja makan. Ruang tidur ditata dengan desain minimalis. Ruangan di Villa Uilenstede pun terlihat terang dan bersih.

Penulis buku Mainstreaming Environmental Ethics Ecology and Social Justice Environmental Toxicology in South East Asia itu memang menginginkan gaya rumah membumi atau berdesain minimalis, tanpa meninggalkan unsur alam. Karena itu di beberapa bagian rumah, dia mengekspos batu serta bata merah serta dominasi pemakaian kayu untuk kusen, pintu, serta daun jendela yang lebar.

Rumah itu dibuat split level mengikuti kontur tanah. Dari depan terlihat ada dua lantai, namun sebenarnya ada ruang bawah tanah yang dipakai untuk toilet dan dapur. Ruang tamu dan kamar tidur utama berada di lantai pertama dan lantai kedua kamar tidur dan ruang bersantai.

 

 

Foto: Sanjaya

 

 

 

(Unik A Mumpuni)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com