14 Mei 2013 | 12:24 wib | Griya

Ducati di Teras Belakang H Achmad

image

Sederhana, tapi tak membosankan. Itulah konsep huniannya.

 

Aliran udara dalam hunian  di atas lahan 1300 m2 itu terasa segar. Itu juga berkat ventilasi yang bagus dengan desain jendela yang lebar-lebar. Selain itu juga desain interior yang simpel. Begitulah Drs H Achmad mendesain huniannya. ''Saya penginnya memang sederhana saja, tidak macam-macam. Sebelum orang bilang minimalis, rumah saya sudah minimalis. Ruang-ruangnya semua fungsional, sesuai kebutuhan saya, dan itu tidak perlu mewah,''' ungkap ayah dari lima orang anak ini.

Suami Hj Maryam Achmad ini, juga menghindari hiasan atau pun pernak-pernik yang macam-macam. Karena menurut dia, hiasan dan ornamen yang seperti itu musiman dan tidak tahan lama.

''Kalau melihat rumah ini kan tidak banyak ornamen, sederhana sekali. Dari dulu yang begitu, tidak saya ganti. Meski desain sederhana, tidak membosankan,'' ujar mantan Wakil Gubernur Jateng itu.

Kalaupun ada perubahan, hanya ruang kerja yang dipindah dari samping ruang tamu ke ruang belakang. Ruang kerja itu kini menjadi satu menjadi ruang tamu. Sedangkan ruang tamu yang semula melintang ke belakang, disekat dan difungsikan untuk mushola. ''Mushola ini memang agak luas, saya pakai untuk jamaah dengan istri kalau tidak sempat ke masjid. Kadangkala juga bersama anak-anak jika mereka datang,'' cerita alumni Universitas Gajah Mada tahun 1963.

Ruang keluarganya juga lapang. Di sudut bangunan utama, ada ruang kerja istrinya.  Dan di ruang anak-anak yang kini difungsikan 11 cucunya jika berkunjung, berisi koleksi aneka mainan anak-anak, terutama mobil-mobilan. Sementara ruang makan berada di teras belakang yang berhubungan langsung dengan taman. ''Rasanya segar bisa langsung berhubungan dengan udara luar,'' kata tokoh yang menjadi pembina di sejumlah lembaga pendidikan seperti Universitas Wahid Hasyim, Perguruan Al Azhar, dan lain-lain.

Di teras belakang itulah, mantan Ketua PW NU Jateng ini, memajang sepeda motor Ducati tahun 1957 yang digunakannya semasa kuliah, juga koleski dua sepeda kuno. Di paling ujung dari bangunan model leter L itu, dipergunakan sebagai ruang kerjanya. ''Meski sederhana, rumah ini sangat berarti,'' tambah mantan dosen Undip itu.

Di rumah itulah, dia mengajari mengaji kelima anaknya, mendidik, menyekolahkan, dan mengentaskan mereka menjadi orang. Dari rumah itu pula karirnya mencapai puncak sebagai wakil gubernur. Begitu pula, selesai menjabat, dia kembali tinggal di rumah itu. Jadi betapa sangat berarti rumah tersebut bagi pria kelahiran 17 Agustus 1935 itu.

 

foto : eko

(eko)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com