24 Juni 2013 | 15:18 wib | Griya

Jendela Ganjil Griya M Agus Mazid

image

Di rumahnya ada 17 pilar, dan jendela yang berjumlah tiga, tujuh dan sembilan.

 

Rumah milik  arsitek dan seniman serta kolektor lukisan dari Yogyakarta ini, memiliki sejarah panjang. Rumah yang semula kantor itu difungsikan sebagai tempat tinggal keluarga. Sejak 2012, Ir M Agus Mazid, tinggal di rumah merupakan hasil karya pribadinya itu. Lelaki kelahiran Randublatung, Blora 25 Desember 1969 itu mulai membangun huniannya itu sejak 2005.  Rumah di Jalan Kutu Dukuh No 38, RT 02/28, Sleman, Yogyakarta seluas 170 m2 itu berdiri di atas tapak seluas 250 m2.

Pria yang akrab disapa Mazid itu mengatakan yang terpikir olehnya saat mendesain huniannya adalah kebutuhan ruang agar cukup. Ventilasi udara di atur sedemikan rupa agar mampu menghadirkan kesegaran, sedangkan ruang ditata agar memudahkan penghuninya untuk saling berkomunikasi.

''Memang bangunan ini awalnya untuk kantor, akhirnya saya memutuskan untuk menempati bangunan ini sebagai rumah. Ketika difungsikan sebagai rumah, saya dapat menemukan energi di dalam rumah ini, yaitu ternyata dengan adanya jumlah pilar 17 dan jendela-jendela yang berjumlah ganji, seperti halnya mengingatkan kita. Bahwa yang kita cari sesungguhnya adalah bagaimana kita bisa lebih dekat dengan Tuhan kita,'' terang Mazid di rumahnya.

Mazid juga menjelaskan, bahwa rumahnya dari halaman depan difungsikan oleh istrinya Sri Hayati Murtiningsih sebagai taman mini, dengan teras kecil dimana dua kursi dan satu meja dapat digunakan sebagai tempat santai. Tanaman-tanaman sengaja difungsikan untuk menyegarkan rumah, sehingga ketika mata memandang beradu dengan kesegaran bunga dan tanaman.

Ruang tamu dengan kursi sederhana, penuh  beberapa penghargaan dan lukisan. Satu kursi sofa di sisi ruang tamu menjadi penghangat ruang baca kedua anaknya. Uniknya Mazid yang dikenal juga sebagai kolektor lukisan justru meletakkan kursi panjang dari kayu, untuk menata buku-buku koleksinya. Sedangkan ruang keluarga yang berada di ruang tengah, menjadi pusat berkumpul keluarga kecil ini. Biasanya bersama istri tercinta dan dua anaknya, Rayhan dan Ahnaf, ia berbagi ide dan pengalaman.

Di sisi tangga, ia memaksimalkan ruang itu untuk dapur dan kamar mandi. Di sebelahnya Mazid membuat ruang studio musik untuk anaknya.

''Saya dalam memanfaatkan ruang ini melihat desain awal, bahwa ketika membuat rumah dengan sudut kemiringan tertentu ternyata kita bisa memiliki banyak ruang. Jika dilihat dari luar, rumah ini kelihatan kecil dan minimalis, namun kenyataanya tidak,'' ujar Sarjana Teknik Sipil Jurusan Struktur dari  Universitas Islam Indonesia itu.

Mazid yang banyak memanfaatkan kayu-kayu yang tak populer, memfungsikan lantai dua sebagai ruang privasi.

''Saya menyiapkan satu buah gazebo di pojok rumah. D isanalah saya biasamenjamu tamu-tamu yang memiliki kebiasaan merokok,'' ujar dia.

Mazid dengan bangga mengatakan akan terus merenovasi atau menambahi rumah dengan ide baru untuk menghilangkan kebosanan.

Bagi Mazid, memiliki rumah seperti halnya memandang seni,  bagaiman kepedulian seseorang diasah untuk peka terhadap lingkungan sekitar. Sehingga membangun rumah bukan asal gaya, tetapi bermanfaat. ''Yang terpenting kita harus peka terhadap lingkungan, sehingga rumah selain nyaman, juga indah,'' tutur dia.

 

(wiwin)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com