20 Agustus 2013 | 12:49 wib | Pelesir

Ziarah Makam di Tengah Laut

image

 

Di makan itu kita bisa ziarah sambil menikmati pemandangan laut.


NAMA KH Abdullah Mudzakir, atau biasa disebut Mbah Mudzakir, di kalangan pesantren sudah cukup dikenal. Tak heran bila banyak santri datang ke makamnya untuk berziarah. Mereka tidak hanya dari Demak, tetapi juga luar daerah. Juru kunci makam Kiai Fauzan (54) menuturkan meski berada di tengah laut, makam kiai karismatik itu tak pernah tergenang air pasang. Padahal saat Cempaka bertandang ke sana belum lama ini terlihat tanda-tanda banyak makam di sekitarnya tergenang air. Itulah keunikannya. Hanya makam Mbah Mudzakir bersama istri dan anak-anaknya yang tak terjamah air laut.

Itulah yang merupakan keajaiban makam wali tersebut. Ya, tak pernah tenggelam walau air laut pasang atau naik, gelombang tinggi atau banjir besar. Itulah yang dituturkan Solekhan(54), warga sekitar yang sedang berziarah. "Permukaan makam segitu terus. Kalau air pasang seakan-akan makam Syekh Mudzakir naik," tutur Solekhan.

Dari situlah sampai saat ini makam Syekh Mudzakir terus dipadati peziarah siang dan malam. Mereka adalah warga sekitar, warga luar kota Demak, dari rakyat biasa, pejabat, atau santri. Mereka ngalap berkah dari Allah dengan berwasilah atau lewat perantaraan Syekh Mudzakir.

Meski berada di tengah laut, sampai saat ini makam itu tak pernah sepi dari peziarah. Biasanya peziarah datang pada Jumat atau saat haul Mbah Muzakir pada bulan Zulkaidah. Warga sekitar selalu mengadakan haul di sekitar makam. Jadi banyak jamaah berdoa dan berzikir di atas perahu karena makam tak muat menampung semua pengunjung

"Yang datang telat ndak kebagian tempat, ya berdoa di tengah laut sekitar makam. Rata-rata mereka berdoa di atas kapal di sekitar makam," tambah Fauzan.

Fauzan yang masih memiliki garis keturunan dengan Mbah Mudzakir menuturkan, semula itu kompleks pemakaman menyatu dengan daratan Dusun Tambaksari. Namun sejak 1998 Tambaksari terkikis oleh abrasi pantai.

Ketika air laut pasang seluruh perkampungan tergenang. Semula air pasang hanya menggenangi jalan, tetapi lama-kelamaan mencapai 60 cm. Tak pelak, 80 keluarga di dusun itu memilih pindah. Sekitar 1999, mereka memilih pindah ke Desa Purwosari.

Namun lima keluarga yang mempunyai hubungan saudara dengan Mbah Mudzakir memilih untuk , termasuk Fauzan. Mereka tetap bertahan karena merasa berkewajiban menjaga makam leluhurnya itu.

Pemandangan Laut

Daya tarik wisata ziarah itu tak hanya terlihat dari keunikan makam di tengah laut. Namun perjalanan menuju makam juga merupakan pengalaman menarik dan bisa menjadi salah satu magnet. Dari jalan utama Semarang-Demak, pengunjung terlebih dahulu harus menempuh beberapa kilometer menuju kompleks Pantai Morosari di Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Setiba di sana, pengunjung harus menempuh jarak sekitar 1 kilometer untuk mencapai makam. Pengunjung bisa berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang terbagi menjadi tiga zona. Itu termasuk keunikan tempat tersebut. Zona pertama, pengunjung akan berjalan sekitar 500 m dengan sejauh mata memandang, di kanan-kiri terlihat pemandangan laut. Suasana laut makin terasa dengan semilir tiupan angin dan pengunjung juga bisa melihat beberapa warga sekitar baik dewasa, remaja maupun anak-anak memancing. Keindahan lain adalah saat memasuki zona kedua kurang-lebih 200 m menuju makam. Di lokasi ini, pengunjung akan disuguhi pemandangan hutan mangrove begitu indah. Jalan setapak yang berupa jembata kayu membawa suasana teduh. Lokasi ini juga sangat bagus bagi para pengunjung yang hobi fotografi, karena nuansa suasana yang disuguhkan akan terlihat menarik di dalam frame kamera.  Selain itu banyak sekali populasi burung yang tinggal di sana menabah suasana hutan mangrove menjadi lebih hidup. Di lokasi itu banyak anak muda berdatangan untuk ziarah, memancing, atau bermain dan berfoto bersama.

Di zona terakhir, pengunjung akan menyusuri jembatan kayu yang menghubungkan daratan dan makam Mbah Mundzakir ± 100 m yang kanan- kiria dalah lepas pantai. Di makam berukuran 7 x 7 meter itu udara seketika terasa sejuk. Selain terlindung cungkup, angin laut yang bertiup terasa menyegarkan. Dari makam itu pengunjung akan merasakan suasana laut, karena juga bisa melihat kapal-kapal yang akan menepi, melihat pantai dan merasakan sayup-sayup deburan ombak.

Jika tak ingin melalui jalur darat, perjalanan bisa di tempuh dengan perahu bermesin sehingga bisa merasakan perjalanan lewat laut. Fauzan menuturkan salah satu keajaban alam itu tak lepas dari asal-usul Mbah Muzakir, yang tak lain ulama yang menyiarkan Islam di kawasan Pantai Sayung. Semasa muda, pria kelahiran Dusun Jago, Desa Wringinjajar, Kecamatan Mranggen, tahun 1869 itu banyak berguru pada ulama dari berbagai daerah.

Setelah merasa cukup, sekitar tahun 1900 dia menetap di Tambaksari, Bedono, serta menikahi Latifah dan Asmanah. Beberapa waktu kemudian dia menikah lagi dengan Murni dan Imronah. Dari keempat istrinya Mbah Muzakir dikaruniai 18 anak.

Di tempat itu, dia mulai melakukan syiar Islam. Sebuah masjid pun didirikan. Cara penyampaian materi keagamaan mudah dicerna sehingga banyak santri mengaji padanya. Mereka kebanyakan takmir musala serta masjid di Demak dan daerah sekitarnya. Karena itulah dia sering disebut pencetak kader kiai. Bahkan semua keturunannya menjadi pemangku masjid dan musala.

Kiai yang sehari-hari menjadi petani tambak itu juga menguasai ilmu <I>kanuragan<P>. Dia kerap dimintai orang untuk mengatasi berbagai penyakit. Namun dia tak mengharapkan imbalan. Tak dimungkiri keahlian dan keikhalasan membuat nama Mbah Mudzakir makian dikenl orang. Dan, itu amat mendukung upayanya melakukan syiar Islam. Pada 1950 Mbah Mudzakir meninggal dunia pada usia 81 tahun.

 

 

 

 

 

(Pitra Kurniawan)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com