09 September 2013 | 16:14 wib | Pelesir

Terpikat Danau di Tengah Pulau Tagaytay

image

Mal-mal besar disatukan dengan selasar dan taman atau hutan kota. Pohon-pohon besar dirawat baik dan dibiarkan tumbuh subur. Bahkan kerindangan pohon dimanfaatkan sebagai peneduh kafe-kafe out door yang banyak berdiri di tengah taman.

 

FILIPINA sampai saat ini belum jadi tujuan wisata favorit, jika dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, Thailand, Hong Kong, atau negara lain di Asia. Padahal, negara berbahasa Tagalog itu punya banyak objek unik dan tak kalah menarik. Salah satunya Danau Taal. Itulah danau atau lebih tepatnya kawah di tengah pulau dan pulau itu berada di tengah danau cukup luas. Kawasan wisata sekitar dua-tiga jam perjalanan dari Manila melalui darat itu dikenal dengan sebutan Tagaytay.

Meski berada di tengah pulau, tak sulit menjangkau danau yang sesungguhnya kawah setengah aktif itu. Dari hotel di pusat kota Manila banyak tersedia bus umum yang bakal berhenti di terminal kota Tagaytay. Lalu, untuk sampai ke tepi danau Anda bisa memilih kendaraan tradisional dengan sistem sewa per jam. Yang paling banyak diminati adalah <I>jeepne<P>. Itulah jip yang dimodifikasi sedemikian rupa hingga menyerupai mobil angkot yang bisa memuat banyak penumpang. Perjalanan ke tengah pulau dilanjutkan dengan perahu kayu tradisional. Perahu itu ramping dengan kedua ujung lebih tinggi dan lancip mirip ekor ikan pari.

Tiba di pulau, ternyata sangat tandus dan terjal. Tak seperti terlihat dari jauh, yang tampak hijau. Perjalanan menikmati danau atau kawah di tengah pulau bisa kita lakukan dengan naik kuda. Terasa menyenangkan karena kuda tunggang yang jinak itu gemuk dan terawat serta nyaman ditunggangi dua orang sekalipun. Setelah berpanas-panas menyusuri jalan setapak yang gersang, sampailah di tempat luas. Nah, di kawasan itulah kita bisa memuaskan mata melepas pandangan ke seantero danau yang luas membentang.

Dari atas terlihat nyata perbedaan warna air yang kehijauan, sedangkan air danau di sisi luar pulau lebih biru. Di kejauhan terlihat deretan gedung menjulang tinggi berjajar rapi di atas bukit. ''Ya, Tuhan, betapa indah karya-Mu,'' ucap saya dalam hati.

Menikmati keelokan alam Tagaytay belum lengkap tanpa menyantap hidangan khasnya. Banyak menu bisa kita jadikan pilihan. Didorong rasa penasaran tentang sebuah nama restoran yang beberapa kali saya jumpai di tempat berbeda, jadilah menu ikan bakar berbumbu khas Filipina sebagai pilihan. Pengunjung restoran waralaba itu bisa makan nasi sepuasnya, sebagaimana tertulis: <I>rice unlimited<P>. Ada satu jenis makanan khas Filipina, yakni telur anakan rebus, yang banyak dijual di pinggir jalan. Telur anakan itu konon banyak dikonsumsi sebagai obat kuat. Saya penasaran, ingin mencoba. Namun,ketika tetapi terbayang aroma amis, akhirnya niat itu pun menyurut. Saya harus puas melihat orang lain yang menikmati.

<B>Mal Greenbelt<P>

Tak beda dari kota besar lain, di pusat kota Manila banyak mal. Di sana terpajang berbagai produk lokal dan produk impor. Dari ragam produk tampak produk yang tergarap dengan kualitas baik. Misalnya, baju dengan <I>branding<P> lokal. Dari segi desain dan bahan, produk lokal itu tak kalah dari barang impor. Produk fesyen lokal itu jauh lebih murah dari produk sejenis yang dijual di Jakarta.

Bicara soal mal ada yang menarik, yakni konsep pembangunan mal menyatu dengan alam dan lingkungan hijau. Karena itu kawasan mal disebut Greenbelt 1, Greenbelt 2, hingga Greenbelt 5. Mal-mal besar itu disatukan  dengan selasar dan taman atau hutan kota. Pohon-pohon besar dirawat dengan baik dan tetap subur. Bahkan kerindangan pohon dimanfaatkan sebagai peneduh kafe-kafe <I>out door<P> yang banyak berdiri di tengah taman. Konsep itu mulai ditiru beberapa mal di Indonesia, misalnya Central Park di Jakarta.

Menapaki daratan Filipina rasanya sayang melewatkan kawasan pusaka (<I>heritage<P>). Kalau di kawasan Kota Lama Semarang ada Gereja Blenduk, di Filipina ada pula gereja berusia 440 tahun. Dari luar bangunan gereja yang masih digunakan untuk misa itu tak terlalu istimewa. Namun begitu kita memasuki ruang dalam, terlihat interior terutama bagian atap gereja sungguh indah. Begitu juga altar berikut patung Yesus dan Maria yang telah berumur ratusan tahun. Kekaguman pun memuncak, terutama dibarengi rasa syukur atas segala kemurahan Tuhan. Sungguh, terasa betapa Tuhan hadir, memberkati negara yang dikenal dengan kota seribu gereja itu.

 

 

 

 

 

 

 

(Monica)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com