20 September 2013 | 14:31 wib | Pelesir

Mengintip Khazanah Budaya Jawa di Museum Ullen Sentalu

image

 

Banyak dokumen jadi koleksi museum itu, antara lain gamelan, batik berbagai corak dan gaya, pakaian bangsawan, serta lukisan dan foto tentang budaya Jawa.

 

JOGJA memang menarik sebagai tujuan wisata. Cukup banyak objek wisata bisa dikunjungi, dari pesona alam, pusat kerajinan, sampai museum yang menyimpan benda-benda bersejarah. Nah, salah satu objek wisata yang terhitung baru dan dikunjungi banyak orang adalah Museum Ullen Sentalu.

Museum Ullen Sentalu berada di Taman Kaswargan, Kaliurang. Lokasi museum itu tidak jauh dari gerbang masuk kawasan wisata Kaliurang atau Jalan Boyong Kaliurang Km 25 Sleman, Yogyakarta. Tak sulit mencapai museum itu. Bila berjalan dari pintu masuk arah selatan, Anda bisa mengikuti jalur ke utara melewati tugu udang, belok kiri akan menemukan bangunan mirip kastil. Bangunan itu sebagian besar tertutup pohon dan tanaman yang merambat sehingga berkesan teduh baik di luar maupun di dalam ruangan.

Museum Ullen Sentalu bukan museum yang dikelola negara. Museum itu milik swasta, yakni Yayasan Ulating Blencong. Museum itu didirikan atas inisiatif keluarga Haryono dan diresmikan KGPAA Paku Alam VIII, 1 Maret 1997. Nama Ullen Sentalu mengandung makna yang dalam, yaitu <I>ulating blencong sejatine tataraning lumaku<P>. Artinya, museum itu menjadi pelita yang menyinari jalan kehidupan.

Falsafah itu diambil dari lampu minyak dalam pertunjukan wayang kulit, <I>blencong<P>, yang merupakan sumber cahaya yang selalu bergerak untuk mengarahkan dan menerangi perjalanan hidup kita. Di Museum Ullen Sentalu, kita dapat mengetahui bagaimana para leluhur Jawa membuat batik yang memiliki arti dan makna yang mendalam dalam setiap corak. Ada juga berbagai sejarah mengenai keadaan budaya Jawa kuno dengan segala aturan. Museum yang dibangun dengan baik itu mampu membuat pengunjung seperti terserap ke masa Jawa kuno yang mengagumkan.

Visi Museum Ullen Sentalu adalah menjadi jendela peradaban seni dan budaya Jawa. Misinya, menurut situs resmi museum, untuk mengumpulkan, mengomunikasikan, dan melestarikan warisan seni dan budaya Jawa yang terancam pudar untuk menumbuhkan kebanggaan masyarakat pada kekayaan budaya Jawa sebagai jati diri bangsa.

Banyak dokumen menjadi koleksi museum itu, antara lain gamelan, batik dengan berbagai corak dan gaya, beberapa pakaian bangsawan, lukisan dan foto tentang budaya Jawa. Berbagai peristiwa terekam dalam sebuah tampilan di setiap ruang yang disediakan di museum, terutama empat keraton: Kasunanan Surakarta, Istana Mangkunegoro Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, dan Pura Pakualaman Yogyakarta. Empat keraton itu menjadi fokus utama sumber koleksi museum, sehingga sangat menarik dicermati para pengunjung. Itu menjadi pelajaran berharga bagi generasi saat ini yang mulai melupakan budaya sendiri.

Unik dan Istimewa

Pengunjung yang  baru mengenal Museum Ullen Sentalu tentu akan heran melihat arsitektur bangunan serta lingkungan yang melingkupi. Dari depan terlihat bangunan penuh pohon serta tanaman yang menjulur menutupi  wajah museum, sehingga seolah hanya berupa pintu masuk tak begitu lebar. Namun manakala memasuki setapak demi setapak akan terlihat bangunan itu cukup megah dan tertata rapi dengan gaya arsitektur gotik Abad Pertengahan mirip istana kuno di Eropa.

Lorong-lorong sepanjang rute antarruang displai dibuat dengan batu hitam dan tumbuhan merambat. Penampilan museum seperti itu menjadi keistimewaan yang tentu berbeda dari museum lain sehingga memiliki keunikan yang sulit dicarikan kesamaan karya arsitektural sejenis di Indonesia.

<B>Koleksi Museum<P>

Menapaki setiap ruangan untuk melihat koleksi museum, pengunjung akan diajak melihat ruang antara lain Gua Selo Giri. Di sini pengunjung diajak mengenal kehidupan dari empat keraton serta tokoh keempat kerajaan dengan foto serta lukisan yang di pajang di setiap dinding ruangan. Selanjutnya, pemandu mengajak ke kampung  kambang yang dikelilingi air di atas Gua Selo Giri dengan lima ruangan pameran meliputi Ruang Tineke, Ruang Paes Ageng Gaya Yogyakarta, Ruang Batik Vorstenlanden, Ruang Batik Pesisiran, dan Ruang Putri Dambaan. Di setiap ruangan, pengunjung diajak melihat surat-surat Tineke (putri Sunan Pakubuwono XI), lukisan pengantin wanita Jawa, berbagai macam batik, serta kisah hidup seorang putri cantik keraton yang menolak dimadu, yakni Nurul Koesoemowardani, putri tunggal Mangkunegara VII, dengan Permaisuri GKR Timur.

Pada bagian selanjutnya pengunjung diajak melewati Taman Arca Durga. Pengunjung sampai ke ruang pameran terakhir yang merupakan ruang budaya. Di bagian itu pengunjung diajak melihat patung penari Jawa klasik, patung pengantin Jawa, serta beberapa koleksi lukisan.

Setelah cukup melihat serta mengamati setiap detail ruang serta koleksi museum, pengunjung akan dipandu memasuki ruang khusus yang merupakan ruang terakhir. Di sanalah pengunjung akan disuguhi minuman segar khas keraton yang menurut penuturan pemandu akan membangkitkan energi yang terkuras sehingga memulihkan kekuatan. Di tempat itu pengunjung diperkenankan mengambil gambar atau foto sesuai dengan kehendak, tidak seperti di tempat sebelumnya oengunjung tak diperbolehkan mengambil gambar.

Akses dan Fasilitas

Pengunjung bisa menuju ke museum dengan kendaraan sendiri atau angkutan umum. Perjalanan dapat ditempuh sekitar satu setengah jam dari pusat kota Yogyakarta. Namun bisa pula menggunakan taksi dengan ongkos lebih mahal.

Museum buka Selasa-Jumat pukul 08.30-15.00, Sabtu-Minggu pukul 08.30-16.00, sedangkan Senin tutup. Harga tiket masuk untuk wisatawan domestik dewasa Rp30.000 dan anak-anak Rp 15.000. Adapun untuk wisatawan asing harga tiket masuk dewasa Rp 50.000, sedangkan anak-anak Rp 30.000.

Tempat kunjungan wisata itu menyediakan pula Restoran Beukenhof. Pengunjung dapat mencicipi masakan  suasana Eropa dan bernuansa istana. Pengunjung juga membeli cendera mata di ruangan khusus: Putri Malu Souvenir Shop.

(sumardi)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com