21 Oktober 2013 | 14:17 wib | Pelesir

Pesona Makam Tujuh Meter di Gunung Tidar

image

Gunung Tidar yang berada di antara lima gunung dikenal sebagai paku Pulau Jawa. Di gunung itu ada makam sepanjang tujuh meter, yang diyakini sebagai makam tombak pusaka Syekh Subakir untuk menaklukkan raja jin, penguasa Gunung Tidar.

 

MASYARAKAT di Pulau Jawa tentu tak asing lagi mendengar kemasyhuran Gunung Tidar. Konon, gunung di jantung Magelang itu disebut-sebut sebagai paku Tanah Jawa. Gunung Tidar berada di tengah-tengah lima gunung, yakni Gunung Merapi, Merbabu, Menoreh, Sumbing, dan Telomoyo.

Gunung itu hanya berketinggian 503 meter di atas permukaan laut. Bukit itu dipenuhi vegetasi pohon pinus, cemara, dan salak sangat lebat. Karena itulah, Kota Magelang berhawa sejuk sehingga layak jadi salah satu kota tempat tinggal pensiunan, selain Yogyakarta.

Namun sepertinya tak banyak yang tahu Gunung Tidar dikenal sebagai salah satu destinasi wisata religi. Di puncak Tidar ada makam  tiga tokoh penting, yakni Syekh Subakir, Kiai Sepanjang, dan Kiai Ismoyo atau Kiai Semar. Ketiga makam itu dikunjungi banyak peziarah pada waktu tertentu, terutama bulan Syaban, Ramadan, dan Syawal.

"Para peziarah juga banyak berkunjung pada 1 Muharram (1 Sura). Pada hari biasa, Tidar hanya ramai setiap malam Selasa Kliwon, malam Jumat Kliwon, malam Minggu Legi, dan Jumat Legi," tutur juru kunci Gunung Tidar, Sutiyah, kepada Cempaka, belum lama ini.

Itu tak terlepas dari legenda tentang Syekh Subakir yang menaklukkan Kiai Semar, jin sakti penguasa Gunung Tidar yang kala itu masih hutan lebat. Banyak orang percaya mitos bahwa Jawa bakal terbawa arus laut jika para dewa tak menancapkan paku di tengah-tengah pulau.

Dikisahkan, para dewa menancapkan paku raksasa di pusat Pulau Jawa agar jadi penyeimbang. Paku raksasa itu dipercaya sebagai Gunung Tidar. Terlepas dari mitos itu, secara geografis Gunung Tidar memang berada di tengah-tengah Pulau Jawa.

Juru kunci Gunung Tidar yang berumur sekitar 70 tahun itu mengajak Cempaka merasakan aura legenda dan mitos Gunung Tidar. Sutiyah, atau lebih dikenal sebagai Ibu Paiman, mengajak Cempaka menyusuri kelebatan hutan. Sebelum sampai ke puncak, Sutiyah menunjukkan makam Syekh Subakir. Dialah ulama dari Turki yang menaklukkan Gunung Tidar dan menyebarkan agama Islam.

"Tujuan peziarah macam-macam. Ada yang sekadar berdoa. Ada pula calon pejabat yang meminta hajatnya dikabulkan. Mereka datang siang atau tengah malam. Mereka tak hanya dari agama tertentu. Ada dari semua agama dan golongan," ujar Sutiyah.

Makam Tujuh Meter

Tak jauh dari makam Syekh Subakir, setelah menyusuri jalan setapak yang sudah dipasangi <I>paving block<P>, ada sebuah cungkup panjang. Konon, yang dimakamkan di sana adalah tombak pusaka Syekh Subakir yang digunakan menaklukkan raja jin penguasa Gunung Tidar, yakni Kiai Semar. Bentuk nisannya tidak lazim. Panjang makam tujuh meter dan lebar semeter. Makam itu sudah dikeramik dan cukup bersih.

Makam lain di puncak Tidar berada di sisi tenggara. Itulah makam Kiai Semar. Makam itu juga terbilang unik. Cungkup makam Kiai Semar berbentuk kerucut berwarna kuning, mirip tumpeng raksasa. Bangunan makam dililit ornamen patung naga di keempat sisi. Itu membuat makam Kiai Semar memancarkan aura tersendiri. Gerbang makam terkunci rapat. Hanya dibuka pada waktu tertentu oleh sang juru kunci.

"Di dalam ada sebuah makam. Di atas makam ada keris berketinggian sekitar dua meter sehingga cungkup dibuat kerucut. Bentuk kerucut disesuaikan dengan falsafah bahwa kedudukan dan kuasa Tuhan berada di atas segala-galanya," ucap Sutiyah.

Setelah meninggalkan makam Kiai Semar, sampailah di puncak Tidar. Namun tak seperti yang dibayangkan, puncak Tidar hanya sebuah lapangan cukup luas. Di lapangan itu berdiri kukuh monumen Akademi Militer (Akmil) yang menjulang tinggi. Monumen itu sekaligus sebagai penanda Gunung Tidar masih merupakan kawasan Akmil. Lapangan itu juga digunakan sebagai tempat para taruna Akmil melaksanakan salah satu prosesi tahunan.

"Lapangan itu juga digunakan sebagai tempat mewisuda para jenderal purnatugas. Tempat itu disakralkan. Di tempat itulah para jenderal dan taruna bersumpah setia untuk menjaga keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia dari ancaman," tutur Sutiyah.

Di tengah-tengah lapangan ada tugu kecil dengan tulisan Jawa dikelilingi pagar besi. Tertulis huruf Jawa "sa" di ketiga sisi tugu. Terkadang ada canang, sesajen, dupa, dan kemenyan dibakar di bawah tugu pada hari-hari tertentu. Berdasar legenda yang hidup di masyarakat sekitar, tugu itulah yang secara kosmik menjadi simbol paku Pulau Jawa. Energi supranatural begitu kuat terpancar dari tugu itu.

"Banyak orang meyakini tugu itu adalah simbol paku Tanah Jawa. Namun semua itu tak lebih dari makna huruf 'sa' yang dihubungkan dengan pitutur Jawa, yakni sapa salah seleh. Artinya, siapa salah pasti ketahuan," kata Sutiyah.

Di balik legenda dan cerita mistis yang berkembang, masyarakat Kota Magelang biasa memanfaatkan Gunung Tidar untuk olahraga. Jalur pendakian cukup menantang memberikan sensasi tersendiri. Ratusan anak tangga sepanjang 1,5 kilometer siap didaki. Sudut elevasi jalur pendakian pun beragam, dari bagian menanjak hingga landai. Suplai oksigen terasa sangat melimpah karena hasil oksidasi cemara dan pinus yang tumbuh rimbun menjulang.

Bila mendaki Tidar dengan santai cukup butuh waktu 30 menit untuk sampai ke puncak. Waktu yang paling tepat untuk mendaki adalah pagi hari. Selain itu, lapangan atas bisa juga digunakan untuk sepakbola, futsal, atau latihan bela diri.

Untuk menjangkau Gunung Tidar cukup mudah. Satu-satunya akses naik dari Kampung Barakan, Kelurahan Magersari, Kecamatan Magelang Selatan. Lebih tepat di sisi utara lereng Tidar, belakang terminal lama Jalan Ikhlas Magelang. Pengunjung yang menggunakan kendaraan pribadi, seperti mobil dan motor, bisa parkir di depan gerbang masuk. Jika menggunakan angkutan umum, bisa menggunakan beberapa jalur dari Terminal Tidar Soekarno-Hatta. Biayanya pun cukup murah, lantaran tak ada tiket masuk. Pengunjung cukup membayar biaya parkir dan mengisi kotak amal seikhlas hati.

(slamet widodo)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com