02 Januari 2014 | 15:53 wib | Pelesir

Menelusuri Jejak Hewan Purba di Bukit Semedo

image


Fosil-fosil itu diperkirakan berusia sejuta tahun, antara lain berupa tulang gajah purba, badak, kuda nil, rusa, sapi, dan babi. Sayang, tulang-belulang binatang purba berukuran besar itu kurang dihargai dan sebagian hanya digeletakkan di teras rumah Dakri.

PERBUKITAN Semedo terhampar sekitar 2,5 kilometer di  baratdaya Desa Semedo. Di sanalah ragam fosil ditemukan. Situs itu berada di area terbuka hutan pohon jati antara desa dan bukit setinggi 148 meter di atas permukaan laut.
Area hutan itu masuk wilayah Perhutani Pemalang. Dalam perjalanan menuju ke lokasi itu, kita disuguhi pemandangan tegal yang ditanami tebu serta hamparan perbukitan di sisi selatan jalan. Jalan menuju ke sana masih diperbaiki.
Area perbukitan di Sembbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbedo memang tak tampak terikat dalam rentang sejarah evolusi manusia Jawa yang panjang. Namun jika merunut ke situs Sangiran dan fisiografi Pulau Jawa, Semedo merupakan bagian paling barat dari jajaran Pegunungan Serayu Utara dan daerah batas dengan jajaran Bogor, Jawa Barat. Daerah itu terdorong ke atas oleh gerakan geosinklinal Jawa bagian utara dan setelah melewati Kala Plestosen Bawah sekitar 1,8 juta tahun lalu tertutup endapan vulkanik. Ada kemungkinan, bersama Cijulang, Prupuk, Bumiayu, dan Ajibarang, kawasan Semedo merupakan batas Pulau Jawa bagian timur pada akhir Kala Pliosen, ketika Jawa Tengah dan Jawa Barat masih berada di bawah laut sekitar 2,4 juta tahun lalu.
Gambaran itu menjelaskan, Semedo adalah ladang kehidupan bersejarah. Kini, Semedo terbuka luas bagi para peneliti dalam dan luar negeri untuk mengkaji lebih lanjut. Semedo siap menjadi laboratorium arkeologi dunia. Masih banyak misteri tersimpan di perbukitan Semedo.
Semedo merupakan nama desa sekaligus perbukitan yang menyatu dengan Pegunungan Serayu Utara di Kecamatan Kedungbanteng, 30 kilometer sebelah timur kota Slawi atau 20 kilometer dari Suradadi, Kabupaten Tegal. Semedo semula hanya sebuah desa biasa. Sebagian besar penduduknya petani. Mereka membuka lahan perbukitan untuk bercocok tanam. Tahun 2005, Dakri (58), petani dan pencari kayu bakar dari Semedo, menemukan batu menyerupai tulang seperti kaki gajah. Dia menempatkan batu itu sebagai hiasan di teras rumah. "Setelah itu makin banyak yang menemukan batuan berbentuk tulang di Semedo," kata Dakri.
Penduduk yang menemukan fosil sejenis antara lain Duman, Sunardi, dan Ansori. Dakri menuturkan saat menemukan tulang-belulang mereka tak tahu itu fosil. Tulang-belulang itu berat dan besar.
Makin hari kian banyak tulang ditemukan. Tulang yang diyakini sebagai fosil binatang purba itu digeletakkan begitu saja di sekitar rumah mereka. Mei 2011 ditemukan fosil manusia purba jenis <I>Homo Erectus<P>. Dakri menemukan fosil itu di aliran Sungai Kawi, Semedo. Fosil yang ditemukan berupa kepingan tengkorak, yang diperkirakan sisa peninggalan Kala Pleistosen Tengah 700.000 tahun lalu. Ditemukan pula fosil binatang purba seperti tulang gajah, babi, macan, dan ikan hiu.
Fosil-fosil itu diperkirakan dari binatang purba, seperti <I>Mastodon sp, Stegodon sp, Elephas sp<P> (gajah purba), <I>Rhinoceros sp<P> (badak), <I>Hippopotamus sp<P> (kuda nil), <I>Cervidas<P> (sejenis rusa), <I>Suidae<P> (sejenis babi), <I>Bovidae<P> (sapi, kerbau, banteng), yang hidup antara 1,2 juta dan 0,4 juta tahun lalu di Semedo.
Melengkapi temuan fosil, di lokasi tersebut juga ditemukan kapak penetak (<I>chopping tool<P>), serpih (<I>flake<P>), serut (<I>scrapper<P>), tatal/limbah (<I>debris<P>). Ada juga batu yang digunakan sebagai alat, antara lain jenis batu rijang (<I>chert<P>), batu gamping kersikan (<I>silisifide limestone<P>), dan batu kalsedon.
Penemuan itu tentu menguatkan bahwa Semedo dulu tak hanya ditinggali binatang purba, tetapi hidup juga manusia purba. Bukit itu pun menjadi bukti nyata ada leluhur manusia pada zaman dahulu. Temuan itu menjadi bahan penelitian untuk mengungkap kehidupan manusia purba yang berperadaban tinggi dengan bukti alat berburu yang tergolong modern pada zamannya.
Peneliti dari Museum Sangiran, Dr Harry Widianto, pun meneliti di Semedo. Dia menuturkan dalam bukunya, <I>Nafas Sangiran Nafas Situs-situs Semedo<P> (2011), fosil di Semedo memberikan data tentang evolusi manusia, budaya, dan lingkungan setidaknya sejak 1,5 juta tahun lalu. Fosil yang ditemukan dan terdata sejak 2005 sebanyak 2.947. "Dari sejumlah itu, 1.447 fosil hewan purba di rumah Dakri, antara lain gigi ikan hiu, kerang laut, tulang lutut gajah, babi, dan gading gajah 2,5 meter serta kura-kura purba. Sebanyak 1.500 fosil dibawa ke Slawi katanya untuk bahan penelitian," ujar Tanti, anak ketiga Dakri, yang merawat dan memberikan keterangan lengkap tentang situs Semedo.
Fosil-fosil yang ditemukan terus bertambah. Sayang, fosil itu tak diperlakukan sebagaimana benda bersejarah yang berharga. Fosil-fosil itu dipajang di rumah Dakri yang sempit dan tak memadai. Di rumah yang sangat sederhana itu ada tiga etalase kaca berukuran sedang untuk memajang fosil. Tulang-belulang binatang purba berukuran besar digeletakkan begitu saja di teras rumah

(Akbar Budi)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com