25 Februari 2014 | 14:29 wib | Pelesir

Surga yang Hilang di Desa Pamriyan

image

 

Alam desa itu masih sangat asri, dikelilingi tebing dengan pepohonan rindang dan sedap dipandang mata. Juga ada air terjun berair sebening kristal.

 

''Inilah yang saya cari selama ini. Ajaib sekali!'' ucap Lauro Pucci (22), mahasiswa asal Perugia, Italia. Siang itu Lauro bersama rekan senegaranya, Martina, dan Cempaka mengunjungi Desa Pamriyan, Kecamatan Pituruh, Purworejo. Lauro dan Martina sangat senang menemukan tempat asri di Desa Pamriyan. "This is lost paradise!” seru Martina girang.

Perjalanan mengunjungi desa yang masih dikelilingi hutan pinus itu terhenti di sebuah sungai berair jernih dan segar. Sungai itu dihiasi bebatuan besar yang bersera di sepanjang aliran hingga menimbulkan suara riak air yang mengalun bak musik indah. Tak tahan godaan kesegaran air sungai, kedua remaja Italia itu pun terjun ke sungai. ''Woow the water’s so fresh here. Come on! Join with us, jump!" seru Martina mengajak Cempaka segera terjun menyusul mereka. "It’s like Jacuzzi!" teriak Lauro saat menikmati arus deras di celah bebatuan.

Ya, bisa menikmati sungai jernih dan segar serta didukung alam nan hijau saat ini telah menjadi kemewahan tersendiri. Maka wajar jika tempat itu dijaga, bahkan dikembangkan menjadi tempat wisata pilihan. "Kami sepakat lewat musyawarah warga desa selalu menjaga keasrian lingkungan di Desa Pamriyan. Warga dan lembaga terkait menetapkan denda dan sanksi bagi siapa pun yang mengganggu keasrian desa ini!" kata Sutarman, warga desa itu, kepada Cempaka.

Budi Susilo (37), tokoh pemuda, yang baru pulang dari Amerika menyatakan sangat mendambakan keasrian desanya. Keindahan alam Pamriyan sangat potensial dijadikan objek wisata. Kedatangan wisatawan lokal, terlebih turis asing, kata dia, bisa menjadi sumber pendapatan untuk kesejahteraan masyarakat desa. Karena itu masyarakat sekitar sepakat menjaga keasrian alam Pamriyan. "Jangan sampai arus kedatangan wisatawan malah mengurangi keasrian alam Pamriyan. Karena itu selain tetap menjaga lingkungan Pamriyan, kami siap mengagendakan prasarana dan sarana yang bisa membuat orang merasa nyaman tanpa menggangu keasrian," ujar Budi Susilo.

Ada beberapa mata air di atas bukit. Air yang mengalir deras ke sungai membentuk air terjun memesona.  Keindahan alam itu ditunjang kerimbunan aneka tanaman yang tumbuh subur. "Kami siap mengawal mereka menyusuri jalan di sela hutan untuk menikmati air terjun yang tersembunyi itu!” kata Budi.

Meski belum resmi ditetapkan menjadi desa wisata, pengunjung tak perlu khawatir tak bisa mendapatkan fasilitas yang mendukung keamanan dan kenyamanan berwisata. Selain telah tersedia vila dan penginapan, pengelola menyediakan petugas untuk menjemput dan mengatar ke rumah warga yang bisa dipakai untuk menginap.  Rumah warga yang bisa ditinggali umumnya bangunan luas dan memiliki banyak kamar.

Untuk suguhan hiburan, pengunjung bisa menikmati sajian kesenian tradisional berupa cingpoling. Kesenian yang hampir punah itu berupa tarian dan musik yang didominasi ketukan perkusi, kendang kenong, dan batangan logam.

Pamriyan berada di dataran tinggi sederetan dengan perbukitan Menoreh dan berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo serta Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo. Pamriyan memiliki kekayaan alam beragam, dengan alam sejuk, pemandangan indah, dan masyarakat yang sejahtera. Tak ayal, Pamriyan menjadi salah satu desa yang potensial dijadikan desa wisata.

(gam)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com