05 April 2013 | 14:13 wib | Komunitas

Terpikat Kalung Aksesori

image

BAGI Emmy Tarsono (55), kalung identik dengan dirinya. Ya, perempuan pemilik Krishna Resto Garden Wonosobo itu suka memakai kalung aksesori. Karena suka memakai aksesori itu, penampilan Mbak Emmy - begitulah dia kerap disapa - tampak muda, trendi, dan anggun. Di lehernya paling tidak selalu tersampir dua kalung.

Satu kalung di leher dan satu lagi di kerah baju. "Kalung aksesori merupakan bagian dari hidup saya. Rasanya ada yang kurang kalau saya berdandan tanpa kalung aksesori," ujarnya.

Dia menuturkan pemakaian aksesori itu yang bisa menjadi identitas diri serta menambah kepercayaan diri. Selain itu, aksesori itu melengkapi penampilan seseorang.

Ada banyak warna, bentuk, dan variasi kalung yang dia punyai. Bagi perempuan yang tinggal di Jalan Mayor Muin 100 Wonosobo itu, warna paling menonjol adalah hitam, cokelat, biru, putih, dan merah. Kalung-kalung itu terbuat dari kayu, batu logam, monel, mote, dan mutiara. Setiap hari dia selalu memakai aksesori itu bergantian sesuai dengan kostum yang dia kenakan. "Setiap hari paling tidak ada dua kalung saya pakai. Satu saya pakai di leher dan satu di leher baju," kata Emmy di rumahnya, Rabu (3/4) sore.

Selain mengoleksi kalung aksesori, Emmy punya koleksi gelang, ali-ali, dan anting. Namun koleksi terbesar dan terbanyak tetap kalung. Dia hati-hati merawat koleksinya. Biar tidak rusak dan sulit mencari kalau mau memakai, dia mencantelkan kalungnya ke paku di dinding kamar. Sebab, jika kalung ditempatkan begitu saja bisa rusak dan sulit mencari untuk dicocokkan dengan baju yang hendak dia kenakan hari itu.

 

Dari Ibu

Emmy suka mengoleksi kalung sejak kecil. Itu bermula dari kebiasaan sang ibu. "Namun ibu saya suka kalung ukuran kecil dan tidak banyak warna, sedangkan saya suka kalung besar serta bermacam variasi," katanya.

Saat ini, tak terhitung kalung milik ibu satu putra itu. Sebab, sejak kecil dia sudah gemar mengumpulkan kalung hiasan. Kalaupun kini berkurang karena dia acap memberikan kalung itu kepada teman atau famili yang datang. "Namun jika kalung itu tidak dipakai dan hanya diletakkan, saya tidak mau memberikan. Wong di tempat saya selalu saya pakai. Meski dapat sudah lama, karena saya suka selalu saya pakai," katanya.

Ratusan kalung yang dia koleksi berasal dari berbagai tempat. Ada beberapa kalung dia peroleh dari luar negeri. Namun yang paling banyak berasal dari dalam negeri, termasuk luar Jawa. "Yang dari luar Jawa saya peroleh dari Kalimantan, Lombok, Bali, dan Sulawesi. Yang lain sebagian besar saya buru dari Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Semarang," tutur dia.

Harga termurah Rp 25.000, sedangkan termahal Rp 400.000. Dia mengakui tak membeli semua kalung itu. Ada koleksi yang merupakakan hadiah, kenang-kenangan, atau pemberian saudara dan teman-teman. "Teman atau saudara yang tahu saya suka kalung aksesori, pas memberikan oleh-oleh atau hadiah selalu berupa kalung. Saya jika ke luar kota selalu mencari kalung," tuturnya.

Kesukaan mengoleksi kalung itu ternyata tak disenangi sang anak, Krishna Anggara (21), yang kini kuliah di Universitas Ahmad Yani (Unjani) Bandung. "kalau saya mau beli kalung, anak saya bilang itu tidak dijual, Ma," ujar dia sembari tersenyum.

Emmy menuturkan kalung sudah menyatu benar dalam dirinya. Dia selalu menyesuaikan kalung yang dia pakai setiap hari dengan baju yang dikenakan. Karena itu dia selalu berganti-ganti kalung saat berdandan, baik hanya di rumah maupun bepergian. Dalam memilih kalung, dia tak mematok dengan harga mahal atau bentuk istimewa. Asal suka, kalung itu dia beli dan pakai. Dia memilih kalung yang baik bukan dari harga, melainkan nyaman dan pantas dipakai. Namun dia menyukai kalung yang berwarna dan berbentuk klasik.

"Kalung mutiara hitam dari Lombak ini saya suka. Karena berwarna klasik dan terbuat dari kuningan," ujar perempuan yang pernah bekerja sebagai hubungan masyarakat pada PT Dieng Djaya itu.

(Muharno Zarka)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com