05 April 2013 | 14:22 wib | Pelesir

Menelusuri Jejak Peradaban Megalitikum di Blora

image

BLORA tak hanya dikenal dengan tahu lontong atau ledre dan sate. Di antero Blora juga tersimpan berbagai situs purbakala yang menakjubkan. Sebut saja situs fosil fauna purba, situs Wura-Wari, petilasan Kadipaten Jipang Panolan, dan terakhir ditemukan peradaban megalitikum(batu besar) di tengah hutan di wilayah Cepu.

 

Situs fosil hewan purba berada di Dukuh Kawung dan Singget, Desa Menden dan Dukuh Sunggun, Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora. Lokasi itu berada di tepian aliran Bengawan Solo dan berjarak sekitar 65 km arah selatan dari Kota Blora. Di lokasi itu ditemukan fosil kepala kerbau purba, kura-kura purba, dan gajah purba. Diperkirakan umur fosil antara 200.000 dan 300.000 tahun.

Situs Wura-wari berada di Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, Blora. Haji Wura-Wari adalah penguasa bawahan (vasal) yang tahun 1017 Masehi menyerang Kerajaan Mataram Hindu (semasa Raja Darmawangsa Teguh). Situs yang ditemukan tim ekspedisi berada di tengah tegalan, di tepi persawahan, berupa tumpukan batu bata kuno berlumut yang kini dijadikan areal pemakaman. Sejak tahun 2000 telah dikumpulkan serpihan batu bata kuno berukuran 20 x 30 sentimeter dengan tebal 4 cm, serpihan keramik, serta serpihan perunggu yang kini disimpan di Museum Mahameru Blora.

Petilasan Kadipaten Jipang Panolan berada di Desa Jipang, sekitar delapan kilometer dari Cepu. Petilasan itu berwujud makam Gedong Ageng yang dahulu merupakan pusat pemerintahan dan bandar perdagangan Kadipaten Jipang. Di tempat itu juga terlihat petilasan Siti Hinggil, petilasan Semayam Kaputren, petilasan Bengawan Sore, dan petilasan masjid. Ada pula makam kerabat kerajaan antara lain makam R Bagus Sumantri, R Bagus Sosrokusumo, RA Sekar Winangkrong, dan Tumenggung Ronggo Atmojo. Di utara makam Gedong Ageng ada makam Santri Songo. Disebut begitu karena ada sembilan makam santri dari Kerajaan Pajang yang dibunuh prajurit Jipang karena dicurigai sebagai telik sandi atau mata-mata Sultan Hadiwijaya.

Jejak peradaban megalitikum ditemukan di Gunung Plontang di wilayah Pegunungan Kendeng Utara, tepatnya di Petak 5023KRPH Bleboh, BKHP Nanas, yang berada di KPH Cepu. Wujudnya fosil-fosil bersejarah dan sembilan makam batu. Di titik pertama di ketinggian sekitar 350 meter dari permukaan laut itu ada enam makam, satu di antaranya masih utuh. Di tempat lain ditemukan tiga makam yang antara lain ada yang masih lengkap berikut tutup makam. 

Makam batu besar itu tak sebagaimana lazimnya makam zaman sekarang, khususnya makam Islam, dengan kepala di utara dan kaki selatan serta kepala menghadap kiblat. Di makam batu itu kepala ke arah timur dan kaki ke arah barat. Pemakaman seperti itu menganut konsepsi chtonis, yakni timur merupakan arah matahari terbit yang bisa diartikan sebagai awal kehidupan, sedangkan barat arah tenggelam matahari yang dimaknai akhir kehidupan.

 

Tak Mudah Dijangkau

Tempat penemuan makam kuno itu tidak mudah dijangkau. Berjarak sekitar 27 kilometer dari pusat kota, melewati perempatan Cabak di KPH Cepu. Jalanan di tengah hutan jati itu banyak berlubang. Bahkan tak sedikit di antara lubang jalanan itu yang dipenuhi air bak kolam.

Sekitar dua kilometer dari tempat penemuan makam batu besar, yang oleh masyarakat dikenal dengan kubur kalang, harus berjalan kaki melewati jalan setapak, melalui semak-semak penuh kerikil dan medan sangat berat. Bisa juga melewati dengan motor roda dua, namun harus ekstrahati-hati. Perjalanan dengan kendaraan bermotor roda dua itu pun tak bisa sampai ke tempat tujuan. Masih butuh waktu sekitar 15 menit jalan kaki melewati semak belukar.

beberapa makam batu selebar satu meter dan panjang 2,5 meter serta lebih kecil itu sudah tidak utuh. Kamituwa Desa Bleboh, Kecamatan Jiken, Ngetmiyanto, menuturkan makam itu tak utuh lagi karena ada bagian yang diambil orang-orang yang tak mengetahui bahwa itu peninggalan bersejarah. "Saya mendengar ada salah seorang warga mengambil lempengan batu besar dari makam ini untuk tempat shalat. Kalau memang harus diminta karena ini peninggalan bersejarah, saya akan memintanya baik-baik," ujarnya.

 

Aset Wisata

Makam batu besar masa peradaban megalitikum di Blora itu merupakan penemuan besar bernilai sejarah dan ilmu pengetahuan. Berdasar catatan sejarah, peradaban megalitikum ada sebelum Masehi (SM). Di Prancis, jejak peradaban itu sudah ditemukan pada 5.800 SM, Swedia 3.300 SM, Portugal 4.500 SM, Afrika 200 SM, dan India 800 SM. Selain berbagai negara itu, di Peru dan Bolivia, fakta sejarah megalitikum sudah ditemukan antara 2.500 dan 1.800 SM, Meksiko 110-600 SM, Korea 800-300 SM, dan Jepang 300 SM. Di Indonesia, beberapa peninggalan megalitik baru memberikan bukti keberadaan antara awal Masehi dan sekitar abad ke-17.

Aset sejarah itu dapat menarik wisatawan masuk ke Blora. Sebab, memang tak banyak daerah memiliki kekayaan sejarah seperti itu. Dengan berkunjung ke tempat itu, wisatwan dapat memperkaya pengetahuan tentang peradaban  nenek moyang. Apalagi daerah yang melingkupi penemuan megalitikum itu masih alami dengan alam pedesaan dan hutan asri dan asli. Pengunjung dijamin betah menikmati alam pedesaan dan hutan alami.

Namun masih perlu penataan kawasan cagar budaya yang terjamin dan terlindungi, sehingga benda-benda cagar budaya itu tidak hilang atau dirusak orang. Yang terpenting, perlu membangun fasilitas umum dan memperbaiki infrastruktur jalan dan jembatan untuk mempermudah pengunjung menuju dan kemudian menikmati kawasan cagar budaya tersebut.

(Sunaryo)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com