05 April 2013 | 19:00 wib | Griya

Bale Onthel

image

RUMAH di tepi Kali Progo, Dusun Bantar Kulon, Kulonprogo, Yog­yakarta, itu asri dalam balutan suasana pedusunan yang tenang. Walau tak jauh dari jalan raya Yogyakarta-Purwokerto, hunian berkonsep Jawa itu tak terjamah sama sekali oleh ingar-bingar mesin kendaraan. Di situlah Munthowil, dedengkot sepeda onthel Yogyakarta, mengisi hari-harinya. Secangkir teh hangat menemani Cempaka dalam perbincangan di teras rumah yang tenang dan hangat itu.

Ketua Persatuan Onthelis Jogja (Pokja) itu sadar betul sebuah hunian harus memberikan kenyamanan. Nyaman tidak hanya dilihat dari fisik dan arsitekturnya, tetapi juga batiniah. ‘’Saya penggemar sepeda. Jadi rumah ini juga harus nyaman bagi sepeda-sepeda saya,’’ ujar dia.

Rumah yang berdiri di atas lahan 300 m2 itu merupakan paduan eksotis bata ekpose dan kayu. Batu bata merah tanpa pelester berpadu dengan cokelat kayu jati dan kuning kayu nangka menghadirkan kesan natural yang kuat.  ‘’Saya memang menginginkan kesan natural. Saya pikir ini pas dengan selera turis asing yang merindukan suasana alami,’’ ujar dia, yang menyewakan sepedanya bagi para turis asing.

Dia membeli bangunan rumah itu tahun 2009. Ada tujuh gebyok kayu seharga Rp 2,3 juta. ‘’Saya bersyukur, karena itu sangat murah,’’ ujar dia.

Dia menyebut rumahnya dengan sebutan Bale Onthel. Karena di gubuk ­itulah, dia beraktivitas, menerima wisatawan mancanegara yang datang menyewa sepeda untuk jalan-jalan keliling kampung. Dia ingin kelak mengembangkan huniannya. ‘’Agar saya tak kehilangan privasi, tamu-tamu saya pun tetap merasakan kenyamanan tinggal di rumah ini.’’ 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Sumardi)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com