05 April 2013 | 23:07 wib | Griya

Rumah Belajar Ahmad Bahrudin

image

RUMAH menghadap ke utara itu hanyalah sebagian rumah komunitas Ahmad Bahrudin yang baru saja menerima plakat Kick Andy Hero 2013. Pendiri komunitas belajar Qoryah Thayyibah di Kalibening, Salatiga, yang akrab disapa Kang Din itu menegaskan, rumahnya yang berdiri di atas lahan sekitar 2000 m2 itu tak sekadar untuk meneduh, baik secara fisik maupun hati. Rumah itu juga fondasi kreativitas. Rumah adalah ruang-ruang khusus untuk karakter sosial, menjalin interaksi bagi anggota keluarga. Kenyamanan sebuah rumah akan membuatnya bukan sekadar ampiran, melainkan menjadi tujuan.

''Karena itu rumah jangan sampai diberi batas pagar yang kuat, sehingga siapa saja bisa masuk tanpa terhalang birokrasi bertele-tele. Rumah komunitas dan komunikasi bagi siapa saja,'' tutur suami Miskiyah dan ayah dari Rasih Mustaghis Hilmiy (22), Theofani Zahra (17), serta Yudhatama Abdurrahman Addakhil (12) itu.

Kang Din menuturkan rumahnya merupakan warisan orang tua. Lalu dia merenovasi sesuai dengan fungsi dan kebutuhan. Hunian yang semula rumah tradisional itu dia sulap menjadi rumah komunitas belajar. Lantai bawah terdiri atas ruang tamu, ruang internet masyarakat, ruang tidur, dapur, dan kamar mandi. Di ruang atas ada lima  ruang tidur. 

Ada yang spesial di ruang tamu 5 x 6 m. Tak hanya keberadaan tiga rak besar yang menjadi tempat ratusan penghargaan Kang Din dan para siswa. Bukan pula televisi LCD yang selalu siap menghibur siapa pun yang datang. Namun fasilitas internet yang disediakan bagi siapa saja yang berminat. Mereka bisa menjelajah dunia maya sambil tiduran santai di ruang itu. ''Saya yakin setiap tamu akan nyaman bila disambut secara tidak formal. Siapa saja boleh klekaran,'' kata dia sembari tertawa.

Tak cukup di ruang tamu, di sayap kiri bangunan Kang Din membangun ruang internet masyarakat. Ada 10 komputer yang terkoneksi internet dan bisa diakses siapa saja. Gratis! Karena itu dia menamakan internet masyarakat. Hanya bagi yang main game diwajibkan membantu pulsa.

Rumah itu juga sekaligus menjadi ruang belajar bagi 150 orang anak didik. Dalam komunitas Qoryah Thayyibah, anak-anak berkreativitas dan beraktivitas secara merdeka untuk menuangkan ide, wawasan, dan keterampilan masing-masing. Mereka berkembang secara optimal sesuai dengan bakat, baik seni musik, seni rupa, menulis, maupun sinematografi. ''Karena tidak ada batasan, anak-anak setara SMP sudah bisa membuat film dan menulis buku yang diterbitkan penerbit terkenal. Setara SMA sudah mampu merancang arsitektur bangunan dan petani pun melek teknologi,'' kata dia bangga.

Bagi Kang Din, rumah adalah komunitas belajar. Bukan rumah ibadah. ''Rumah ini tak lepas dari aspek sosial, menjadi ruang untuk tolong-menolong,'' ucap Kang Din.

(Kamdie Yaslan)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com