12 April 2013 | 11:49 wib | Sehat

Jangan Biarkan Bayi Tengkurap

image

Tidur tengkurap jadi penyebab terbesar bagi bayi berusia kurang dari 12 bulan meninggal mendadak.

 

SINTA mempunyai pengalaman sangat menyedihkan. Bayinya yang baru berusia enam bulan meninggal tiba-tiba. Yang sangat menyedihkan dan tak bisa dia lupakan adalah kematian si bayi sungguh mengejutkan dan tidak diketahui. Bahkan Sinta baru mengetahui kondisi anaknya ketika hendak memandikan pada pagi hari. Sinta kaget putranya yang tertidur tengkurap saat diangkat sudah meninggal.

Kasus lain pernah terjadi saat mudik lebaran beberapa tahun lalu. Seorang ibu menggendong bayi mudik dibonceng sepeda motor. Bayi diselimuti rapat. Tiba di tempat tujuan, saat selimut dibuka, sang bayi sudah kaku dan biru, tak diketahui kapan meninggal.

Dua kasus itu dalam dunia kesehatan sering disebut sindrom kematian mendadak pada bayi atau sudden infant death syndrome (SIDS). Di temui di sela-sela kesibukan praktik, dr Pujiati Abas SpA mengemukakan  SIDS adalah kematian mendadak bayi usia di bawah setahun. SIDS sering terjadi pada saat bayi tidur dan berdasar statistik 90% terjadi pada bayi usia di bawah enam bulan.

Di Amerika, SIDS jadi penyebab kematian utama pada bayi usia antara sebulan dan setahun. Setelah berbagai penelitian dan dimulai kampanye "bayi tidur dalam posisi terlentang", angka kejadian SIDS menurun. Sejak tahun 1992 hingga 2001, angka kejadian SIDS menurun dari 1,2 ke 0,56 per 1.000 kelahiran hidup.

Kepala Bagian Anak RSI Sultan Agung Semarang itu menuturkan sampai saat ini tak diketahui penyebab SIDS. Namun diduga merupakan kelainan genetik disertai faktor lingkungan yang mempermudah kematian mendadak pada bayi. Beberapa penelitian mendapatkan faktor yang mempermudah terjadi SIDS antara lain tidur tengkurap, yang memiliki persentase terbesar penyebab bayi berusia kurang dari 12 bulan meninggal mendadak. "Menurut banyak penelitian, bayi yang mengalami SIDS akibat tidur tengkurap umumnya berusia kurang dari enam bulan. Sebab, sistem pernapasan mereka belum matang atau bekerja dengan sempurna," ujar dokter murah senyum itu.

 

Orang Tua Perokok Berisiko

Penyebab SIDS lain karena tidak disendawakan. Berdasar hasil riset ketika bayi gumoh, cairan bisa masuk ke saluran napas sehingga bayi kesulitan bernapas. Para dokter menganjurkan orang tua menyendawakan bayi setelah memberi ASI atau menyendawakan di tengah proses pemberian ASI. Bersendawa membuat udara yang tertelan bayi ketika menyusui ke luar dari perutnya. Menyusui sambil tidur kerap menyebabkan ASI tidak masuk ke dalam saluran pencernaan, tetapi masuk ke saluran pernapasan. Keadaan itu akan menyebabkan bayigumoh dan cairan gumoh bisa menyebabkan bayi kesulitan bernapas bila masuk ke dalam saluran pernapasan. Selain itu kebiasaan menyusui sambil tiduran membuat ibu tertidur saat menyusui. Lalu tanpa disadari tubuhnya menimpa bayi, sehingga bayi kesulitan bernapas sampai akhirnya meninggal.

Bayi yang memiliki orang tua perokok terbukti berisiko lebih tinggi mengalami SIDS dibandingkan denganbayi yang berorang tua bukan perokok. Bayi berorang tua perokok akan mengisap karbondioksida (CO2). Banyaknya volume karbondioksida yang diisap bayi perokok pasif itu menjadi faktor penyebab peningkatan gangguan sistem pernapasan yang menyebabkan bayi meninggal mendadak. Bayi meninggal akibat SIDS juga memiliki kadar neurotransmitter serotonin rendah (normal: 101-283 nanogram/milliliter) pada bagian batang otak, medula oblongata. Medula oblongata berfungsi mengontrol pernapasan, suhu tubuh, tekanan darah, dan detak jantung. Keadaan itu terjadi karena faktor genetik, sehingga tak ada upaya dapat dilakukan untuk mencegah.

Terakhir, bayi lahir prematur atau bayi lahir cukup bulan tetapi lahir dengan berat badan rendah (BBLR) berisiko 50% lebih besar mengalami SIDS. Tingginya risiko bayi prematur mengalami SIDS karena seluruh sistem organ tubuhnya, terutama paru-paru, belum mencapai tahap pematangan yang cukup sehingga belum siap berfungsi menopang kehidupan di luar rahim ibu. "Bayi dengan kondisi seperti itu sangat disarankan periksa secara teratur ke dokter anak untuk memantau perkembangan fungsi organ-organnya," kata Pujiati.

Dokter yang juga mengajar di FK Universitas Sultan Agung Semarang itu memaparkan tindakan pencegahan adalah satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk menghindari SIDS. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk menurunkan kemungkinan SIDS adalah meletakkan bayi dalam posisi telentang. Jangan biarkan bayi tidur tengkurap atau dalam posisi menyamping. Lebih baik meletakkan bayi di keranjang atau tempat tidur khusus bayi di ruangan yang sama dengan orang tua atau pengasuh tidur. "Jika orang tua menginginkan tidur di dekat bayi, sebaiknya bayi ditidurkan di keranjang yang diletakkan di samping tempat tidur dan bukan tidur di tempat tidur yang sama dengan orang tuanya," saran Pujiati

Sebaiknya tidurkan bayi di alas agak keras. Bukan di atas bantal, kasur air, sofa atau permukaan lunak lain. Jangan tidurkan anak di car seat, kecuali di dalam mobil. Singkirkan guling, boneka, dan benda-benda lunak lain dari tempat tidur bayi. Jangan gunakan bumper pads di sekeliling dinding tempat tidur bayi. Hindari menutup kepala bayi pada saat bayi tidur. Usahakan tidak memakaikan terlalu banyak baju dan jangan biarkan udara terlalu panas saat bayi tidur. Berhenti merokok dan jangan biarkan siapa pun merokok di dalam rumah atau mobil.

Pemberian ASI eksklusif juga menjadi salah satu alternatif pencegahan SIDS. Menyusui memberikan kekebalan tubuh bagi bayi dari risiko SIDS dan fakta itu telah terbukti. Organisasi kesehatan dunia merekomendasikan ibu menyusui bayi selama enam bulan pertama kehidupan mereka akan lebih aman jika dibandingkan dengan memberikan susu formula.

Penelitian lain menyatakan tingkat SIDS adalah 60% lebih rendah bagi bayi yang mengonsumsi ASI daripada yang tidak. Dan 70% lebih rendah pada bayi yang diberi ASI eksklusif, tanpa susu formula, untuk setiap periode waktu. Dengan ASI, bayi bisa terlindungi dari kematian mendadak atau SIDS. 

 

(Pitra Kurniawan)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com