12 April 2013 | 12:00 wib | Griya

Rumah Hujan Valentina Tatang

image

 

Siapa pun yang masuk ke rumahnya, akan merasa berada di rumah sendiri.

 

 

RUMAH tak boleh dijadikan sebagai ruang privat. Itulah yang diugemi Valentina Sutini Tatang (48). Karena itu, General Manager Surya Asia Hotel dan Asia Restaurant Wonosobo itu membangun rumah dengan konsep terbuka. Rumah di Perum Limas Garden Wonosobo itu minim sekat. Ruang tengah dibuat los atau terbuka. ''Konsep ruang terbuka mengakrabkan tamu dan pemilik rumah,'' kata dia.

Siapa pun yang masuk rumahnya akan merasa berada di rumah sendiri. Betapa tidak? Pasalnya, Bu Tatang tidak memberlakukan ruang tamu atau ruang pribadi di rumahnya. Semua tamu yang berkunjung bebas memilih duduk di mana saja. Dengan model terbuka, dia menginginkan tamu bisa akrab dengan tuan rumah. Tidak canggung harus memilih duduk di mana. ''Bisa di teras, bisa di sofa, atau di ruang samping yang lebih santai,'' tutur dia.

Dia menuturkan rumah bukan hanya milik dan untuk dinikmati sendiri. Rumah yang baik adalah kediaman yang nyaman ditinggali tuan rumah atau tamu. ''Saya sering bawa teman ke sini. Mereka ternyata kerasan,'' ujar dia.

Selain terbuka, rumah Ketua Ikatan Wanita Katolik Republik Indonesia (IWKRI) Wonosobo itu juga berkesan terang. Penerangan berasal dari cahaya alami matahari. Seluruh ruangan terang benderang. Ibu dua putri dan satu putra itu mendesain rumahnya tanpa plafon. Atap rumah disangga pilar-pilar beton. Di bagian atas di antara pilar-pilar itu kaca berderet.

Sementara itu, di sudut bagian belakang yang berupa taman dan kolam mini dibiarkan terbuka tak beratap. Di dekat dua posisi itu dipasangi atap dan diding kaca. ''Jika hujan turun, tirai air kelihatan dari balik kaca,'' ucap dia.

Di antara ruang terbuka adalah ruang santai keluarga. Dengan atap fiber trasparan, jika hujan turun rintik airnya menghadirkan suasana alami.

Tembok rumah selain disusun dari batu lempeng, dipadukan dengan bata ekspose. Untuk lantai rumah, perempuan kelahiran Yogyakarta, 19 Februari 1965, itu memilih material keramik yang divariasi dengan batu lempeng.

Uniknya, setiap kamar tidur di memiliki akses keluar rumah. ''Jadi meski di kamar dan lampu tidak dihidupkan, kamar tetap terang,'' tutur dia.

Dia mengatakan, semua material antik rumah yang berdiri di atas lahan 4.00 meter persegi itu berasal luar negeri. Namun dia memburu material alami itu hanya dari Banjarnegara, Wonosobo, dan Magelang.

 

 

 

(Muharno Zarka)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com