18 Februari 2014 | 14:57 wib | Curhat

Dia Bukan Lagi Imamku

     

 

Jika melihat dua buah hatiku, aku tak ingin menempuh jalan ini. Tapi mengingat bagaimana suami memperlakukanku, mengkhianatiku, rasanya perceraian adalah jalan terbaik.

 

Sebut saja aku Hesti. Usiaku tak lagi bisa dikatakan muda, 54 tahun. Aku ibu dari dua orang anak. Sebetulnya, rumah tanggaku baik-baik saja. Ya, andai saja, aku tak terlalu penurut, mungkin rumah tanggaku baik-baik saja. Tapi aku adalah jenis istri yang terlalu percaya pada suami. Hingga akhirnya, kepercayaan itulah yang menghancurkan rumah tanggaku.

Pembaca, pernikahanku dengan Mas Dani, sebelumnya baik-baik saja. Kami menikah atas dasar cinta, bukan paksaan. Cinta, juga kasih sayanglah yang mendekatkan kami. Aku perempuan yang bekerja, demikian juga suamiku, bekerja pada sebuah perusahaan kontraktor di sebuah kota di Jawa Tengah. Aku akui sejak awal pernikahan, kami memang terpisah jarak. Proyek perusahaan suamiku yang lebih banyak di luar kota, mengharuskan kami berpisah. Tapi bagi kami, jarak bukanlah hambatan. Karena soal itu terkalahkan oleh cinta kami yang bergelora.

Pada awalnya memang baik-baik saja. Hingga lahir dua anak kami, tak ada persoalan serius. Walaupun ia hanya pulang setidaknyasatu kali dalam seminggu, tapi itu bukan penghalang bagi kami untuk menguatkan cinta kami. Aku merasakan bahwa keadaan itu membuat hubungan kami awet. Ada perasaan kangen yang terus terpelihara. Rasanya, kami seperti sepasang kekasih yang sedang pacaran saja. Keadaan itu terjaga hingga dua anak kami tumbuh dewasa. Duh indahnya.

Aku selalu berdoa dan berharap, keindahan itu selalu terjaga hingga kami tua. Tapi, manusia hanya bisa berharap dan berharap. Selebihnya, nasib manusia sepenuhnya di tangan Ilahi. Walaupun aku tak hendak menyalahkan Tuhan atas tragedi rumah tanggaku.

Ya, pembaca keadaan yang kuanggap baik itu ternyata tidak benar-benar baik. Suamiku ternyata mendua. Ini aku ketahui setelah, kami mulai sering ribut. Pada awalnya, aku tak tahu jika di belakangku, Mas Dani ternyata berkhianat. Mungkin aku terlalu lugu sebagai seorang istri.

Kisruh rumah tanggaku bermula justru dari tudungan Mas Dani. Ia menuduh aku berselingkuh dengan teman kerjaku. Aku kaget setengah mati. Aku tak merasa melakukan apa yang ia tuduhkan. Jelas aku mati-matian membantah. Yah, sejak itulah, rumah tangga kami mulai goyah. Ada persoalan kecil saja, langsung membesar. Dan dia, selalu memojokkanku dengan tudingan selingkuh itu. Begitu selalu berulang. Rumah tanggaku pun tak lagi nyaman. Keindahan yang dulu pernah kami rasakan, sepertinya tak berbekas sama sekali. Sakit rasanya hati ini.

Pada tahun pertama kami mulai sering ribut, Mas Dani masih memberi nafkah. Dia juga masih sempat pulang ke rumah, mesti dua minggu sekali. Itu pun cuma menengok dua buah hati kami. Aku pun mulai terbiasa dengan keadaanku. Tapi aku tak diam. Lewat teman-temanku, aku mencari info tentang Mas Dani. Dari mereka pulalah aku tahu, bahwa Mas Dani telah berselingkuh. Lebih menyakitkan lagi, perselingkuhan itu terjadi bersamaan ketika dia menuduhku berselingkuh. Duh Gusti.....baru aku sadari, rupanya tuduhan Mas Dani itu hanyalah cara dia untuk mencampakkanku. Mas Dani...teganya dirimu....

Akhirnya, dari mulut Mas Dani aku mendengar pengakuannya. Dia mengaku telah tiga tahun berhubungan dengan seorang perempuan dari rekanan kantornya. Dan lebih hebat lagi, saat itu juga, dia mengatakan niatnya berpoligama. Duh sakitnya hatiku.

Bahkan di depan orang lain, dia mengatakan sesuatu yang jelek tentang diriku untuk membenarkan tindakannya berselingkuh. Aku yang telah jatuh, makin terpuruk. Yah, apa kurangnya diriku. Padahal aku selalu menuruti kehendaknya.Aku menolak keinginannya. Bagiku lebih baik menjanda daripada harus dimadu. Toh sejak badai menghempas rumah tanggaku, aku telah terbiasa sendiri. Aku menuntutnya untuk menceraikan diriku.

Sesungguhnya, hati kecilku tak ingin menempuh cara itu. Aku ingat dua buah hatiku, masih membutuhkan bimbingan seorang ayah. Kadang aku bimbang. Tapi jika mengingat bagaimana Mas Dani memperlakukan aku, rasanya perceraian itu adalah jalan terbaik. Bagiku, Mas Dani telah kehilangan kewibawaannya sebagai seorang lelaki. Dia telah mencurangi istrinya sendiri, perempuan yang siang malam berdoa untuk keselamatan dan kebaikan dirinya. Yah, akhirnya aku sadari dan memantapkan hati bahwa dia bukan lelaki yang pantas untuk menjadi suamiku. Dia memang ayah dari anak-anakku. Tapi dia tak pantas untuk jadi imamku.

 

Diceritakan Ny Hesti di Kota P

()

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com