26 September 2014 | 14:45 wib | Kisah

Lembaran Baru Norman Kamaru

image

Mendadak tenar lewat youtube, bekas anggota Brigade Mobil Gorontalo ini mencicipi dunia keartisan. Kini untuk menghidupi keluarganya, ia jualan masakan Manado.

 

Bagi seorang Norman Kamaru, roda kehidupan memang berputar begitu cepat. Dia menjadi artis setelah video <I>lips sync<P> yang diunggah temannya sedemikian populer. Video meniru gaya Shahrukh Khan dengan lagu Caiya-Caiya mengantarkan Norman ke puncak ketenaran pada 2011. Namun, ia kemudian dipecat dari kesatuan Brimob Gorontalo pada akhir 2011 karena dianggap indisipliner. Ia pun total menekuni pekerjaan sebagai penyanyi dan artis sinetron. Sempat dua tahun Norman dikontrak sebuah label rekaman. Suami Desi Paindong ini bahkan sempat berakting di film Xia Aimei (2012). Tapi peruntungan cepat surut. Selepas itu nama Norman seperti hilang. Dua tahun lalu ia sempat menganggur.

Hidup ternyata harus berjalan. Itulah yang dirasakan Norman Kamaru. Hingga pada akhirnya, masyarakat terperanjat ketika dia jualan bubur Manado di kawasan Kalibata City, Jakarta Selatan. Ya, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya Norman Kamaru banting stir membuka rumah makan khusus masakan Manado.

Warung yang dirintis bersama istrinya memang selalu ramai. Aktivitas pria yang memiliki panggilan akrab Oman ini sudah mulai sejak pukul 04.00 pagi, berbelanja dan memasak hingga warung siap dibuka. Rumah makan yang diberi nama J&J Cafe ini menjual aneka menu khas semisal bubur Manado, ayam rica, ayam woku, dan cakalang suwir. ''Semua harus dijalani, tanpa harus merenungi nasib terus Mbak. Saya menjalani kehidupan di tengah kerasnya Jakarta. Mau tidak mau membuat kita berpikir keras untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tidak ada gengsi atau apapun kalau urusan perut,'' kata Norman mantap kepada Cempaka yang menemuinya di Kalibata City sepekan lalu.

 

Lupakan Malu

Keputusan Norman dan istri membuka warung  sebenarnya tak direncanakan. Mereka berdua memang memiliki hobi memasak. ''Selepas putus kontrak rekaman, saya enggak tahu mau bikin apa. Sudah tidak jadi polisi. Tiba-tiba istri punya ide bikin rumah makan. Saya bilang, kenapa tidak? Kebetulan saya hobi memasak. Akhirnya kami sepakat  bikin rumah makan ala Manado,'' terang Norman.

Norman tidak merasa malu atas pekerjaannya sekarang. Ia sendiri yang memasak dan menghidangkan pesanan untuk pelanggannya. ''Kenapa mesti gengsi? Rezeki dari Tuhan. Kenapa harus malu? Malah saya berdoa dan berharap  ada rezeki bagus, agar usaha ini bisa dibesarkan lagi. Alhamdulillah dalam sehari bisa meraup Rp 2 juta,'' katanya.

Pria kelahiran Gorontalo, 27 November 1985 itu mengaku sejak membuka warungnya tiga bulan lalu telah mendapat tanggapan positif dari pembeli.  Penghasilan yang diperoleh, kata Norman, bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. ''<I>Alhamdulillah<P> cukup banget. Sekalian juga bisa menutupi uang sewa tempat,'' ujar Norman yang juga tinggal di salah satu tower di Kalibata.

Pemberitaan yang gencar di berbagai media membuat warung Norman semakin banyak lagi didatangi pelanggan untuk makan dan berfoto. Tapi pemberitaan itu tentu saja mengejutkan orang tua Norman di Gorontalo. Mereka meminta Norman kembali ke kampung halamannya. ''Ha..ha..ha akibat pemberitaan itu sih efeknya banyak dari pembeli yang semakin banyak dan reaksi terkejut orang tua hingga menyarankan kami untuk pulang kampung. Tapi kami ingin bertahan, karena selain itu istri juga bekerja,'' ujar dia.

 

<B>Nasi telah Jadi Bubur<P>

Kepala Biro Penerangan Masyarakat-Divisi Hubungan Masyarakat (KaropenmasDivhumas Polri) Brigjen Polisi Boy Rafli Amar berharap Norman sukses. ''Kami hanya bisa mendoakan agar sukses.  Dia masih muda, masih banyak kesempatan meraih sukses. Tapi kalau balik ke kepolisian, jelas tidak bisa,'' ucap Boy.

Pekerjaan baru Norman Kamaru mengusik perhatian Bens Leo, pengamat musik yang dikenal sebagai pemerhati penyanyi. Kepopuleran Norman ketika itu juga tak luput dari pengamatannya. Bens mengatakan booming artis lewat youtube di Indonesia harus diimbangi dengan kemampuan diri mengolah talenta. Untuk itu Bens sangat menyayangkan bila Norman beralih menjadi penjual bubur Manado. ''Jual bubur adalah kegiatan kreatif. Dia ada investasi untuk masa depan daripada tidak punya kegiatan apapun,'' ucap Bens saat dihubungi Cempaka via telepon.

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Tapi nasi telah menjadi bubur. Perjalanan hidup Norman tak bisa diputar ulang. Kadang dia kangen dengan kawan-kawannya di kesatuan. ''Bicara menyesal, jujur saya sangat menyesal. Yang bikin saya menyesal itu, waduh… susah buat diomongin. Kenapa bisa jadi begini, ya karena keluar dari kepolisian. Tetapi sudahlah, hidup kalau diratapi terus bisa enggak maju-maju. Tetapi jujur saya kangen juga jadi polisi,'' lanjutnya.

Pilihan menekuni bisnis kuliner tak berarti Norman sepi job. Ia mengaku masih ada saja tawaran untuk pentas ataupun  berakting di dunia sinetron. ''Sebetulnya masih ada beberapa tawaran menyanyi. Bukan menolak,  jujur saya katakan mau pentas tetapi enggak punya lagu,'' tukasnya. ''Kalau main sinetron sempat saya main di beberapa judul FTV. Ke depan lihat saja nanti.  Sekarang fokus mengembangkan bisnis kuliner ini dulu,'' imbuhnya.

Foto: hayat

 

(Galuh)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com