12 Januari 2015 | 17:07 wib | Kisah

Kehidupan Kedua Mantan Pramugari

image

 

 

Tubuh Laura Lazarus pernah dikumpulkan bersama jenazah. Rintihannya sayup-sayup terdengar di antara korban musibah pesawat Lion Air di Bandara Adi Sumarmo, Solo 30 November 2004 silam.

 

Tragedi AirAsia QZ 8501, sungguh membuat Laura Lazarus (29) bergetar. Ia sangat bisa merasakan kepedihan yang tak tertanggungkan keluarga korban. Sepuluh tahun lalu, mantan pramugari Lion Air itu merasakan bagaimana sekujur badan patah dan remuk karena kecelakaan pesawat. Sampai kini, ia sangat ngeri membayangkannya. Laura harus hidup terbaring selama lebih enam bulan, dan kini hidup cacat setelah 17 kali operasi. ''Muka saya kelihatannya mulus sekarang, padahal ini sebetulnya harus dilapisi plat metal dan harus dioperasi 5 kali. Kaki, tangan, dan pinggang saya patah. Mata keluar dan harus dioperasi berkali-kali. Tulang kaki sekarang retak lagi karena menggunakan tulang kaki orang yang sudah meninggal dan ditanamkan ke kaki saya, tapi tak bisa bertahan lama,'' tutur perempuan yang pada saat kecelakaan itu masih berusia 19 tahun.

Laura Lazarus, entah kenapa dinamai Lazarus, tokoh yang pernah dibangkitkan setelah mengalami kematian. Nama ini ternyata membawa Laura mengalami hal yang sama dengan Lazarus. Sejak kecelakaan pesawat ia koma tiga hari, dan ia merasakan sudah berada di alam yang terasa gelap namun kemudian hidup kembali. ''Saya masih ingat waktu pesawat Lion jatuh dan tersungkur menghantam kuburan, rekan sesama pramugari yang duduk di samping saya ketika pesawat jatuh seketika meninggal dengan kepala remuk. Saya pun masih mendengar para penumpang berteriak minta tolong dan mengaduh kesakitan namun tidak bisa apa-apa karena setengah tidak sadar dikarenakan terjepit oleh reruntuhan pesawat,'' cerita Laura dalam buku yang diberi judul <I>The New Unbroken Wings<P>.

Buku The New Unbroken Wings pertama kali ditulis 5 tahun lalu sejak Laura mulai sembuh dari operasi berkali-kali. Berniat menuliskan cerita hidupnya karena dorongan dari suara gaib yang menyuruh dirinya kembali lagi ke alam dunia pada saat koma. ''Kondisi saya sejak kecelakaan tidak mungkin lagi untuk bekerja normal apalagi kembali menjadi pramugari. Menulis adalah pilihan yang saya ambil. Berbagi kisah hidup melalui buku,'' cerita Laura dalam <I>breaking news TVOne<P>, Senin (05/01) malam.

Dalam buku itu, Laura menceritakan bahwa kecelakaan di Solo merupakan kecelakaan pesawat yang kedua kali dialami Laura. Kecelakaan pertama dialami di Palembang, lima bulan sebelum kecelakaan di Solo. Kala itu, pesawat mendarat melewati batas landasan pacu. Pesawat berhenti sejauh 50 meter dari bentangan kabel tegangan tinggi setelah roda ambles sedalam 50 cm ke dalam tanah. Tak ada korban meninggal dalam peristiwa itu.

 

Impian Masa Kecil

Laura kecil hidup dalam keluarga sangat sederhana. Ayahnya tertimpa masalah pekerjaan. Rumah pun dijual untuk menutup hutang. Peristiwa pahit itu menimbulkan rentetan panjang masalah keluarga. Namun cita-cita Laura tak pernah berubah. Saat ia masih kanak, wajah, penampilan dan gaya pramugari melekat erat dalam pikirannya. Terpatri di hati kecilnya yang paling dalam. Ia senyum-senyum sendiri tatkala membayangkan berseragam rapi, menenteng koper, berjalan anggun. Pramugari yang pernah ia dengar, banyak uang, pintar dan bisa keliling dunia.

Kesempatan pertama datang saat ia berusia 16 tahun. Kenalan ibunya menyarankan dia melamar ke perusahaan penerbangan. Ia ikut seleksi. ''Namun saat itu saya disarankan datang kembali dua tahun lagi.  Yah..usia saya belum memenuhi syarat, belum cukup umur, baru 16 tahun. Ia sempat diterima menjadi staf administrasi bagian gudang. Pekerjaan yang membosankan bagi Laura. Penantian yang panjang menjadi pramugari.

Juli 2003. Ditemani ibunya, Laura kembali melamar menjadi pramugari. Kali ini Laura tersandung kelebihan berat badan. Oh, baginya tak masalah. Ia akan berjuang menurunkannya. Beberapa bulan kemudian, ia kembali datang ke perusahaan penerbangan swasta yang sama, Lion Air. Interview dilakukan beberapa tahap. Laura diminta mengikuti training! ''Wah…senangnya bukan main,'' ujar dia.

Laura sudah membayangkan, menyeret koper keluar dari gang sempit rumahnya, dan terbang. Menerima gaji dan berbagai tunjangan dari hasil pekerjaannya. Makan dan tidur di hotel berbintang sesampai di kota dan negara tujuan. Sejak menjadi pramugari, gaya hidup Laura berubah. Ia bisa membeli baju bermerk dan sepatu tiga pasang sekaligus. ''Sering sekali barang yang dibeli tak terpakai…hanya ditumpuk di rumah. Karena yang dibeli keinginan bukan kebutuhan,'' sesal Laura.

 

Kecelakaan Itu

Tepat 30 November 2004 Laura mendapat tugas rute Jakarta-Solo. Sudah beberapa hari sebelumnya perasaannya tak nyaman. Sampai di bandara, bergegas menuju flops, melihat nama <I>crew<P> yang bertugas hari itu. Hati Laura senang, Dessy, dijadwalkan pada penerbangan yang sama. Namun hari itu sikap Dessy tak biasa. Sahabat yang bawel ini terlihat pendiam. Laura tak ingin mengusik teman seperjuangan dalam musibah di Palembang.

Penerbangan sore, Lion JT 538 mengudara. Cuaca sangat buruk. Guncangan dan hentakan berulangkali. Perasaan Laura makin tak enak. Awak kabin memberi pengumuman agar para penumpang tetap menggunakan sabuk pengaman. Hitungan menit pesawat mendarat di bandara Adi Sumarmo 18.14 WIB. Detik berikutnya, peristiwa mengerikan itu terjadi. Badan pesawat terhempas. Awak dan penumpang histeris. Jeritan pilu, erangan, rintihan kesakitan beradu dari segala arah. Tubuh Laura dihantam dan tertindih berbagai benda keras. Bau anyir pekat mengumpul di hidungnya. Kepala Laura terasa sangat berat. ''Saya terlempar ke sayap pesawat,'' kenang Laura.

Badan pesawat nyungsep di kuburan yang tak jauh dari bandara. Korban tewas 34 orang! ''Ini ada kenang-kenangannya,'' ungkap Laura.

Laura menunjukkan pipi sebelah kanan bekas jahitan dan kaki yang bergumpal-gumpal bekas 17 kali operasi. Daging paha Laura dicangkokkan ke betis kanan yang hilang. Pinggangnya patah. Laura sangat bersyukur masih diberi hidup. Pastilah ada rencana Tuhan baginya. Kesempatan kehidupan yang tak boleh sedikit pun ia sia-siakan.

Lewat peristiwa itu, Laura mengenal Tuhan secara pribadi.

 

 

(eko - dari berbagi sumber)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com