30 Januari 2015 | 11:55 wib | Kisah

Ketika "Vallentino Rossi" Jualan Sayur

image

 

Sebagai penjual sayur Dwi memang terlihat bergaya di atas sepeda motor sport 250 cc. Ia menabung enam tahun untuk mewujudkan impiannya itu.

 

Beberapa pekan belakangan ini sosok seorang penjual atau ''tukang'' sayur keliling di Magelang menjadi bahan perbincangan. Bahkan ''tukang'' sayur keliling tersebut juga ramai diperbincangkan di media sosial. Tanto Dwi Anggoro (29), nama pria itu. Warga Kampung Jambesari, Kelurahan Wates, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang itu setiap hari berkeliling menjajakan dagangan dengan menunggang sepeda motor sport berkapasitas mesin besar.

Setiap hari Dwi mengendarai sepeda motor sport terbaru Yamaha R25 dengan kapasitas 250 cc, berkeliling dari kampung ke kampung menyapa langganannya. Sepeda motor Dwi berwarna kombinasi putih-biru, dan tampak masih baru. Dwi hanya menambahkan kotak kayu tempat sayur, atau biasa disebut kerombong di jok belakang motor. Kerombong diisi dengan aneka sayur-mayur, buah-buahan, bumbu dapur dan sebagainya. Kerombong itu juga bisa dibongkar pasang.

Berbeda dengan tukang sayur keliling lainnya, Dwi pun terlihat rapi dengan pakaian kasual, celana jins panjang, serta sepatu kets. Bisa dikatakan, penampilan Dwi memang nyentrik dengan rambut diwarna pirang. Agar lebih menarik perhatian warga dan para pelanggan, Dwi memasang sebuah speaker active yang terhubung dengan telepon selulernya. Dari speaker itu terdengar musik dangdut dan musik berirama riang lainnya. ''Ini penampilan asli saya, tanpa rekayasa. Keseharian saya, apa adanya,'' terang Dwi sambil tertawa kepada Cempaka.

Ia pun tak perlu teriak-teriak memanggil pelanggannya. ''Saya tinggal menghidupkan musik ini, pelanggan berdatangan. Ini cirikhas saya,'' ujarnya.

Motor Impian

Dwi berkisah menjadi ''tukang'' sayur sejak enam tahun silam. Dahulu pria lulusan SMP itu sempat mengendarai motor Tiger. Kemudian beralih menggunakan motor Yamaha Mio dan terakhir dengan motor sport seharga Rp 54 juta itu. ''Saya beli kontan motor ini. Baru beli tiga bulan lalu, dari hasil menabung selama enam tahun,'' ujar Dwi bangga.

Ayah dari Evan Faiz Vavian (9) ini mengaku sudah lama bercita-cita ingin memiliki sepeda motor yang biasa dipakai untuk balapan. Harganya yang selangit, sekitar Rp 54 juta, membuat ia prihatin dan bekerja keras menyisihkan penghasilannya setiap hari. Bahkan, ia juga rela berjualan nasi goreng pada malam hari, setelah berkeliling berdagang sayur pada pagi-siang harinya. Dwi berjualan nasi goreng dibantu sang istri, Siti Aisyah (25), di sekitar rumahnya di Kampung Jambesari, Kelurahan Wates, Kota Magelang, Jawa Tengah. ''Pagi keliling jual sayur. Malamnya jual nasi goreng. Semuanya untuk keluarga dan demi mewujudkan cita-cita membeli motor sport,'' tuturnya.

Sejak kecil Dwi memang sudah terbiasa bekerja mencari penghasilan sendiri. Dwi mengaku tidak rendah diri, meski hanya mampu menamatkan sekolah menengah pertama. Sebelum berjualan sayur seperti sekarang, ia pernah bekerja di bengkel milik kakaknya di Jawa Timur. ''Pendapatan saya memang pas-pasan. Tetapi saya berupaya cermat mengaturnya, sehingga bisa mencukupi kebutuhan. Uang yang saya dapat tiap hari, saya bagi-bagi sesuai pos kebutuhan, misalnya untuk beli bensin per hari, jatah istri per hari, bayar sekolah anak, termasuk bayar utang, dan sebagainya,'' tutur Dwi.

Beragam komentar ditujukan kepadanya. Namun, Dwi tetap semangat dan tetap akan berjualan sayur untuk menghidupi keluarga kecilnya. Sebelumnya diberitakan, aksi Dwi ini menghebohkan sosial media setelah seseorang mengunggah fotonya di Facebook. Banyak komentar positif dan juga banyak pula komentar negatif ditujukan kepadanya tidak terkecuali teman-teman dan pelanggannya. ''Banyak yang komentar kalau saya ini gila, pelanggan saya juga bilang ‘nggaya’, masak tukang sayur saja naik motor balap kayak gini. Kenapa enggak sekalian pakai mobil,'' ujar Dwi tersenyum.

 

 

Rp 250 ribu

Selepas waktu Subuh, Dwi berangkat berbelanja sayuran di Pasar Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Setelah membeli sayur dagangannya, ia berkeliling menemui pelanggannya di kawasan Potrobangsan Kota Magelang-Kelurahan Wates-Polosari-Pucangsari hingga kembali ke rumahnya di Jambesari sekitar pukul 14.00 WIB. Tetapi, Dwi tak pernah menggubris perkataan orang lain. Toh, motor tersebut adalah hasil jerih payahnya menabung bertahun-tahun. Dwi mengaku tidak khawatir dengan motornya walaupun setiap hari harus keliling kampung dan melewati gang-gang sempit. ''Motor saya ini pernah jatuh dua kali waktu belanja di pasar, karena belanjaan terlalu berat, tetapi untungnya tidak apa-apa,'' ucapnya.

Dari hasil jualan sayur keliling ini, Dwi mengantongi laba Rp 250.000 per hari. Jumlah pendapatan tersebut dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya. Dwi tidak memungkiri jika pasang surut kehidupan selalu terjadi. Tidak setiap hari dagangannya habis terjual. Ia pun berkreasi mengolah sisa sayur segar itu menjadi kluban (urap sayur) siap santap yang kemudian ia jual kembali. ''Sebagian besar pendapatan untuk modal jualan, sekolah anak, dan buat makan sehari-hari. Sementara, Rp.20.000 ditabung sejak enam tahun lalu untuk beli motor sport ini,'' tandasnya.

(widodo)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com