13 Februari 2015 | 14:18 wib | Kisah

Tentara di Panggung Dakwah

image


Serka Untung Widiyanto anggota TNI, biasanya lebih banyak berdinas di Markas Kodim atau Koramil. Tapi tidak dengan Serka Untung Widiyanto. Pria berwajah ganteng yang kerap disapa Gus Untung ini, tiap hari lebih banyak blusukan ke kampung.  Untuk apa? Apakah suami dari Siti Sholehah, perawat di RSUD Tidar Magelang ini mendapat tugas dinas dari atasannya? Tidak. Pasalnya, ayah satu putra dan dua putri ini, keluar masuk kampung untuk berdakwah. Maklum selain sebagai anggota TNI yang berdinas di Koramil Sapuran Wonosobo,  Gus Untung juga dikenal sebagai dai yang cukup disegani di daerahnya. Maka di luar jam dinas, Sabtu dan Minggu, dia acap naik panggung.
Bahkan jika pas undangan mengisi pengajian padat, atas iziin atasannya, dia terpaksa datang ke desa masih dengan pakaian kebesarannya, seragam doreng tentara maupun pakaian dinas harian (PDH). Kostum doreng atau PDH dengan peci hitam membalut kepalanya, membuat Gus Untung sebagai tentara sekaligus dai, punya daya tarik sendiri di mata jamaah.
Lantunan sholawat yang diiring musik rebana, biasanya menyambut Gus Untung sebelum naik ke panggung. Di saat itu pula banyak jamaah mendekat berebut berjabat tangan.
Pria kelahiran Purbalingga 9 Mei 1973 ini ternyata mampu memecahkan mitos. Sebagai pendakwah, rumah Gus Untung yang terletak di Silempah Sedayu Sapuran Wonosobo pun tak pernah sepi dari tamu. Cempaka yang pagi itu hendak mengambil foto dan wawancara pun harus rela menunggu tiga jam lebih. Pasalnya, pria murah senyum ini, harus melayani satu per satu tamunya yang datang. ‘’Maaf ya Mas sampai nunggu lama,’’ katanya.

Mbah Mangli
Gus Untung kecil tumbuh seperti anak kebanyakan. Pagi sekolah dan sore mengaji di masjid tak jauh dari rumahnya. Dia hidup berpindah-pindah tempat mengikuti orang tuanya yang berdinas sebagai anggota TNI. Ayahnya , almarhum Rumidi, dulu anggota TNI dan ibunya Siti Sholehah hanyalah ibu rumah tangga. Dari garis nasab ibunya Gus Untung termasuk cucu Mbah Mangli Magelang. Darah kekiaiannya mengalir dari kakeknya itu.
Menurutnya, sewaktu kecil da  menuntut ilmu di SD Negeri Patimura Semarang. Selulus SD melanjutkan di SMP Negeri 1 Purbalingga. Kala liburan dia sempatkan untuk nyantri kalong di PP An Nur Banyuwangi Jawa Timur. ‘’Saya juga pernah ngaji di PP Al Barokah Sukabumi Jawa Barat,’’ kisah Gus Untung mengenang perjalanan hidup masa kecilnya. Sayang, ketika masih di bangku SMP, ayahnya meninggal.
Dia pun lalu diasuh ibunya seorang diri. ‘’Ibu saya sampai rela tidak nikah lagi karena ingin konsentrasi mendidik saya,’’ ucap anak tunggal itu.
Rampung menuntut ilmu di SMP dia meneruskan ke SMA Negeri 1 Purbalingga. Bakat pidatonya terasah ketika di SMP dan SMA. Jiwa kepemimpinan Gus Untung mulai terlihat kala masih duduk di bangku SMP dan SMA.
Saat di sekolah ada acara keagamaan, Gus Untung sering diminta untuk mengisi pengajian di hadapan guru dan teman-temannya. Sebagian guru dan teman sekolah suka dengan gaya pidatonya yang tegas dan penuh humor. Karena itu, ketika duduk di bangku SMP dan SMA, Gus Untung didapuk menjadi Ketua OSIS dan aktif di kegaiatan Pramuka. Karena menjadi aktifis sekolah, nyaris waktu remaja Gus Untung habis untuk beraktifitas di organisasi. 
Sejak kecil, dai yang punya moto "Tentara Berdakwah, Ulama Bersatu" ini, sudah punya cita-cita menjadi TNI seperti orang tuanya. Maka pada tahun 1993 dia mendaftar Calon Tamtama (Catam) TNI di Gombong Kebumen. ‘’<I>Alhamdulillah<P> saat pengumuman saya termasuk yang diterima menjadi anggota TNI. Tugas pertama saya waktu itu di bagian Perhubungan dan Komunikasi Akademi Militer (Akmil) Magelang,’’ kenang Gus Untung.
 
Problem Kehidupan
Dia mengaku mendapat panggilan berdakwah setelah berziarah ke makam ulama. Dalam ziarah itu, Gus Untung mendapat pengalaman spiritual. ‘’Setelah kejadian tersebut serasa ada panggilan jiwa untuk melanjutkan perjuangan Mbah Mangli menegakan kebenaran melalui syiar Islam,’’ ujar ayah dari Anggit Widiyanto (20), Ari Khikmawati (15) dan Amik Khikmawati (11) ini.
Kali pertama mengisi pengajian, imbuh Gus Untung, dirinya diundang sesama anggota TNI pada acara sunatan. Entah mengapa, sejak itu, undangan berdakwah mengalir.
Kini dia mengaku dalam sehari, terutama di hari libur, bisa mendatangi lima titik lokasi pengajian. Gus Untung acap keluar rumah pukul 06.00 WIB dan baru pulang tengah malam.
Selain diminta mengisi pengajian, tiap hari rumah Gus Untung juga kerap didatangi tamu dengan berbagai keperluan. Semua tamu dia terima dengan tangan terbuka. Dan siapa pun yang bertamu untuk meminta doa atau solusi problem kehidupan, Gus Untung tidak menerima imbalan apa pun.
‘’Saya hanya minta didoakan agar keluarga saya diberi kesehatan dan keberkahan hidup,’’ ujar Gus Untung menutup perbincangan karena sudah ditunggu jamaah pengajian.

(muharno zarka)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com