23 Februari 2015 | 12:59 wib | Kisah

Daryunah, Ogan Terakhir di Pasar Pagi Tegal

image

 

Berbekal burung gelatik mas dan kartu bergambar, Daryunah membaca nasib.

 

Usia lanjut  tak menghalanginya menekuni profesi sebagai tukang ‘Ogan’ atau peramal yang telah dijalani lebih 35 tahun. Kemampuan tersebut merupakan warisan dari kakek neneknya, Wiryo dan Mbok Sadri, serta almarhum ayahnya, Suramerta, yang sebelumnya dikenal sebagai Ogan di Tegal. Daryunah merupakan ‘Ogan’ generasi ketiga, dan hingga sekarang menjadi satu-satunya di kawasan pantura barat itu.

Istilah tukang ‘Ogan’ menurut  cerita masyarakat Tegal merupakan peramal dengan media burung gelatik dan kartu  warna warni yang terlipat. Kartu tersebut merupakan media  bergambar untuk membaca ramalan seputar nasib, karier, kondisi keuangan, dan keadaan keluarga, bahkan jodoh.

Untuk meramal seseorang, Daryunah tidak melalui proses yang sulit. Setelah terjadi akad pembayaran, ia akan membaca doa terlebih dulu. Kemudian mengeluarkan kotak korek api yang berisi butiran padi. Setelah semua siap, sang Ogan Daryunah kemudian membuka pintu kotak sangkar burung dan membiarkan burung gelatik mematuk butiran padi yang telah di tebar di atas kartu yang berjajar tiga bagian kiri dan kanan.

Burung gelatik yang telah dilatih dengan baik oleh sang ‘Ogan’ seakan mengerti maksud yang diramal Ia hanya mematuk salah satu kartu kemudian masuk ke kandang lagi. Setelah kartu diambil, pintu sangkar burung kembali dibuka dan butiran padi yang telah disebar di kartu mulai dipatuk sang burung. Proses itu berlanjut hingga mencapai 12 kartu yang dipilih sang gelatik.

Setelah proses pertama selesai, giliran sang Ogan Daryunah yang bekerja. Ia membaca kartu peruntungan kliennya. Kartu ramalan tersebut tidak sembarangan kartu. Setiap gambar di dalam kartu memiliki tema dan cerita yang menggambarkan sifat,dan kiasan-kiasan kehidupan manusia. ‘’Ya misalnya gambar jalan, hewan bertarung, kereta kencana yang artinya akan membawa kesuksesan dan lebe desa berarti harus sering-sering berdoa dan ingat pada sang kuasa,’’ Kata Daryunah sambil menunjuk kereta kencana untuk <I>Cempaka<P>.

Selama menjalani profesi sebagai ‘Ogan’ banyak cerita dirangkai Daryunah. Ada suka, ada pula dukanya. Daryunah mengaku pernah diusir satpol PP. Peralatan ramalanannya akan disita karena aktivitas tersebut mengganggu jalan raya. Namun Daryunah sadar diri. Ia memilih tempat yang cocok. Hingga sekarang Daryunah tidak lagi berpindah pindah tempat. Ia mangkal di Blok A Pasar Pagi, tepatnya di depan pintu masuk Pasar Tegal.

 

Lakon Ritual

Sang Ogan Daryunah mengaku mendapat ilmu  itu tidak mudah Ia harus melakoni ritual yang tidak gampang , banyak orang yang ingin menekuni ritual ini namun kebanyakan dari mereka mengaku tidak sanggup

Ditemui Cempaka di Blok A Pasar Pagi Kota Tegal, Daryunah membeberkan rahasianya menjadi  ‘Ogan’. Ia harus puasa mutih selama tiga bulan, tidak berkata kotor dan jorok serta berdzikir kepada  Allah SWT supaya dimudahkan. ‘’Alhamdulillah saya tidak mengalami hambatan karena niat saya baik untuk membantu orang yang membutuhkan, makanya ritual ini penting. Jika gagal ya sudah jangan berharap bisa menekuni profesi ini,’’ ujar ibu 6 anak ini.

 Banyak kisah suka dan duka yang dialami Daryunah. Ia juga harus sabar ketika Satpol PP mengusirnya untuk pindah dan menutup dagangannya karena mengganggu jalan. ‘’Selama Tiga puluh lima tahun saya baru mendapat tempat yang nyaman, dulu selain kucing-kucingan dengan petugas satpol PP, saya juga harus cepat-cepat menutup lapak ramalan karena hujan,’’ ujar Daryunah sambil tertawa

Profesi yang telah ditekuninya selama tiga puluh lima tahun ini ia jalani dengan senang hati. Ia berangkat dari rumahnya di Desa Dukuhlo, Kec. Lebaksiu pukul 06.00. Jika hujan ia biasanya datang terlambat.  ‘’Kalau cuacanya baik saya sudah di tempat ini namun kalau kondisi kurang memungkinkan biasanya saya terlambat atau memutuskan untuk tidak berangkat. Kalau saya tidak di tempat biasanya ada pelanggan yang datang ke rumah,’’ kata Daryunah

Dalam sehari orang yang datang ketempatnya tidak menentu jumlahnya. Setidaknya ketika ditemui Cempaka hari itu, ia mengaku sudah enam orang yang datang untuk diramal tentang kehidupan, jodoh, dan usaha mereka.

Apakah ia akan mewarisi ilmu turun temurun ini pada salah satu anaknya ? Daryunah hanya tersenyum. ‘’Saya tidak memaksakan anak saya untuk bisa menekuni profesi saya. Biarkan saja suatu saat pasti ada yang muncul  dan meneruskan profesi ini? Kata Daryunah sambil mempersiapkan antrian berikutnya.

 

 

 

(akbar budi)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com