20 Januari 2016 | 15:31 wib | Kisah

Mimpi Hajatan, Sang Adik Pulang dalam Peti Jenazah

image

 

 Bripka Taufik meloncat ke sungai Ciliwung menghindari keroyokan sindikat narkoba. Ia ditemuikan tewas.

 

Duka menyelimuti keluarga anggota Polsek Senen, Jakarta Pusat, Bripka Taufik Hidayat, di Kampung Cilegong, Desa Jatiluhur, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Meski ramai kerabat dan tetangga yang menemani keluarga itu, suasana tampak hening. ''Kami mendengar kabar Taufik itu pada Senin malam. Kami keluarga kaget apalagi setelah mendengar kepastian Taufik meninggal, kami keluarga sangat kehilangan,'' kata kakak ipar Taufik, Elwin.

Bripka Taufik ditemukan tewas di kali kanal besar Jakarta, setelah sebelumnya menghilang pasca melakukan penggerebekan bandar narkoba di kawasan Berlan, Jakarta Timur. Taufik diduga tenggelam setelah berusaha menyelamatkan diri dari aksi pengeroyokan. Menurut Elwin, Taufik sempat pulang ke rumah dua minggu sebelum kejadian untuk berlibur bersama anaknya. Namun, tidak ada kejanggalam yang dirasakan keluarga sebelum kejadian nahas itu. ''Hanya saja saya sempat bermimpi di rumah ini ada hajatan, ada pesta, saya enggak tahu ada hajatan apa,'' ujar Elwin.

Selama ini, Taufik bertugas menjadi anggota kepolisian di Jakarta sejak 2002. Ia dikenal keluarga sebagai pribadi yang baik. ''Kalau almarhum tugas di Jakarta, memang keinginan dirinya,'' ujar Elwin.

 

Dekat Ibunda

Bripka Taufik dikenal sebagai sosok humoris dan sportif. Ia meninggalkan istri dan seorang anak.  Kapolsek Senen Kompol Kasmono mengatakan, semasa hidup Bripka Taufik dikenal sebagai sosok yang baik dan pekerja keras. ''Dia itu rajin dan ulet kalau disuruh belum berhasil, Taufik belum mau balik. Di keluarga juga dia orang yang penyayang,'' kata Kasmono di RS Polri Kramatjati, Selasa (19/1).

Rekan korban, Bripka Ari (38) mengenal Taufik sebagai sosok yang humoris dan sportif. ''Kerjanya bagus, sportif dan tinggi solidaritasnya. Sebelum atau setelah tugas Taufik yang sering mencairkan suasana. Humoris orangnya,'' tambah Ari sambil berlinang airmata.

Ari mengatakan tidak memiliki firasat apa-apa sebelum kematian rekan kerjanya itu. "Bripka Taufik meninggalkan istri dan seorang anak," ujarnya.

Pria kelahiran 2 Februari 1981 itu dimakamkan di samping makam sang ibu. Kakak Taufik, Yuyun Sri Rahayu (37), mengatakan anak ketiga dari empat bersaudara itu dikenal sangat dekat dengan sang ibunda yang lebih dulu pergi, Hajah Rokayah, yang meninggal Juni 2015 saat menginjak usia ke-58. ''Dimakamin di samping Ibu. Taufik paling dekat sama Ibu,'' ucap Yuyun.

Prosesi pemakaman diiringi duka dan tangis keluarga. Bahkan adiknya jatuh pingsan saat melakukan tabur bunga. Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, turut hadir dalam pemakaman itu. Upacara penghormatan terakhir dipimpin langsung Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Hendro Pandowo. Korban meninggal dengan kondisi luka pada bagian tangan. Bripka Taufik Hidayat sempat dinyatakan hilang dalam peristiwa penggerebekan bandar narkoba, di daerah Berlan, Matraman, Jakarta Timur. Namun ternyata dia bersama seorang informan meloncat ke kanal banjir barat, menghindari amukan sindikat narkoba.

Kakak korban, Yuyun menambahkan keluarga sangat kehilangan dengan berpulangnya Taufik. Selain dikenal doyan humor, almarhum yang masuk tes kepolisian pada 2002 itu juga terkenal sebagai anak yang baik. Menurut Yuyun, adiknya itu berjiwa sosial tinggi. ''Kehilangannya berasa, Mas. Dia doyan bercanda. Iseng, tapi ramah. Anaknya itu baik, enggak pernah pelit. Baik ke siapa aja mulai dari ponakan-ponakannya sampai temannya,'' tutur Yuyun sambil mengelus-elus dada.

Namun keluarga telah ikhlas. Apalagi Taufik tewas saat menjalankan tugas memerangi narkoba. Yuyun pun terharu dengan kehadiran teman seprofesi adiknya. ''Semoga khusnul khotimah. Dia enggak pernah mengeluh beratnya pekerjaan dan tanggung jawab dia sebagai polisi. Setiap bertemu selalu aja bercanda dan nyengir-nyengir,'' kenang Yuyun.

 

Provokasi Warga

Perlawanan sindikat narkoba ini tak lepas dari peran A alias N atau AM. Melalui seruannya, AM dapat memanggil sekelompok orang yang kemudian menyerang polisi yang sedang menggerebek rumah ibunya, Y. Polisi mengungkap, ternyata AM juga bertugas mengawasi jika ada polisi yang datang untuk melakukan penangkapan. ''AM ini termasuk sindikat narkoba. Dia yang bertugas memprovokasi massa kalau ibunya mau ditangkap polisi,'' kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Timur Ajun Komisaris Besar Nasriadi, di Mapolres Metro Jakarta Timur, Selasa (19/1).

Provokasi AM saat lima anggota Unit Narkoba Polsek Metro Senen dan tiga informannya datang menggerebek rumah ibunya pun sukses. Mendadak, sekelompok pemuda asal Komplek Berlan datang dan langsung menganiaya sejumlah petugas Unit Narkoba Polsek Metro Senen dengan senjata tajam. Kepala Unit Narkoba Metro Polsek Senen Iptu Haryadi Prabowo luka akibat dibacok. Nasib Bripka Taufik lebih tragis lagi. Taufik ditemukan tewas di sungai Ciliwung.

Kepala Subbagian Humas Polres Metro Jakarta Timur Komisaris Husaimah menyatakan, pelaku penyerangan terhadap petugas diduga warga asal Komplek Berlan. Polisi mencatat, dua belas orang diduga terlibat dalam penganiayaan itu. ''Yang lagi kami kejar ada 12 orang. Mudah-mudahan dalam waktu dekat kami tangkap,'' ujar Husaimah.

Pihak kepolisian telah mengamankan enam warga, salah satunya AM, yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Sementara itu, lima lainnya masih berstatus saksi. ''AM kami tetapkan sebagai tersangka karena menghasut, lalu polisi jadinya dikeroyok,'' ujarnya.

 

(Eko Edi)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com