29 April 2016 | 13:20 wib | Kisah

Ketulusan Cinta Yanglin

image

 

 

 

Bocah tujuh tahun itu merawat ayahnya yang lumpuh seorang diri. Ibunya memilih pergi.

 

Masa-masa kecil adalah waktu terindah sepanjang perjalanan hidup. Sebab pada saat itu, kita hanya mengenal bermain, bermain, dan bermain. Ya, kita tidak perlu bingung memikirkan pelajaran di sekolah, uang bulanan, maupun pekerjaan di kantor. Seolah saat masih kecil kita seperti tidak memiliki beban hidup.

Namun tak semua anak-anak mengalami indahnya bermain bersama teman-teman. Yanglin contohnya, bocah asal Tiongkok yang saat ini baru duduk di bangku sekolah dasar tersebut harus mengurusi ayahnya yang lumpuh.

Bocah tujuh tahun itu terpaksa mengurus ayahnya yang lumpuh sendirian setelah ditinggal pergi oleh ibunya. Kisah memilukan di Provinsi Guizhou ini menyentuh hati para netizen di Tiongkok. Menurut <I>Youth Daily<P>, Ou Tongming, buruh 37 tahun dari Desa Wangpu, jatuh dari lantai dua sebuah rumah yang sedang dibangun pada Juni 2013. Istri Tongming dan anaknya Ou Yanglin kemudian mengirimnya ke rumah sakit. Dia didiagnosis mengalami patah tulang rusuk, patah tulang belakang, dan cedera tulang belakang sehingga lumpuh dari pinggang ke bawah.

Biaya perawatan Tongming telah menguras habis tabungan keluarga itu. Namun kesehatannya tidak segera membaik. Sejak lumpuh, dia hanya bisa terbaring di tempat tidur. Setelah hampir satu tahun tidak ada perbaikan, istrinya bosan dan meninggalkan rumah dengan putri mereka yang waktu itu masih berusia tiga tahun. Sejak itu tidak ada kabar dari istri Tongming. Sehingga Yanglin terpaksa merawat ayahnya sendirian.

 

Memulung

Yanglin saat ini duduk di kelas satu SD. Ia bangun pukul 6 pagi setiap hari untuk menyiapkan makanan untuk ayahnya sebelum pergi ke sekolah. Begitu selesai makan siang di sekolah, ia bergegas kembali ke rumah untuk menyuap ayahnya. Usai pulang sekolah ia berjalan di sekitar sekolah mengumpulkan barang bekas untuk ditukar dengan uang. ''Ayah membutuhkan obat-obatan, tapi aku tidak punya uang,'' kata Yanglin.

Yanglin mengatakan kepada wartawan bahwa ia bisa mendapatkan hampir 20 yuan (sekitar Rp 43 ribu) setiap hari dengan

menjual barang bekas yang ia kumpulkan. Setelah kembali ke rumah, Yanglin membantu ayahnya berbaring di tempat tidur dan memberikan obat. Karena selalu di tempat tidur, Tongming mengalami luka di bagian belakang tubuhnya sehingga menimbulkan infeksi yang menyebar ke rongga panggulnya. Selain uang hasil berjualan barang bekas, ayah dan anak tersebut tidak memiliki penghasilan lain kecuali bantuan setiap bulan dari pemerintah sebesar 300 yuan atau sekitar Rp 650 ribu. Beberapa tetangga dan teman juga kadang-kadang menyediakan mereka makanan dan bantuan lainnya.

Karena tidak mau membebani anaknya, Tongming beberapa kali mencoba bunuh diri. ''Aku tidak bisa karena aku tidak tega meninggalkan anak saya jadi yatim,'' katanya.

Yanglin pun demikian. ''Aku tidak bisa hidup tanpa ayah,'' kata Yanglin kepada wartawan. Dia bertekad ingin cepat besar sehingga bisa mendapatkan uang untuk menyembuhkan luka ayahnya.

 

Cerita Guo Shi

Rasa bakti dan sayang terhadap orangtua juga diperlihatkan Guo Shi Jun. Pemuda ini rela merawat serta memboyong ayahnya yang mengalami kelumpuhan ke asrama dimana ia menuntut ilmu. Kondisi orangtua yang sakit-sakitan membuat Guo harus pintar membagi waktu antara belajar dan mengurus orangtua. Guo bersusah payah meminta izin pada pihak sekolah untuk memperbolehkannya merawat sang ayah yang lumpuh, akibat kecelakaan terjatuh dari jembatan setinggi 15 meter. Bagian pinggang hingga bawah lumpuh total.

Guo menyewa sebuah kamar kecil dekat asrama agar bisa sesekali menengok keadaan sang ayah saat jam istirahat. Tak ada yang tersisa dari kerabat serta keluarganya. Hanya sang ayahlah yang dimiliki. Ibunya telah meninggal akibat penyakit meningitis. Untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari, Guo mendapat dana pinjaman dari salah seorang teman. Beruntung berkat prestasinya pihak sekolah memberikan beasiswa yang sangat membantu hal itu sangat meringankan sedikit bebannya. ''Saya tidak bisa bilang kalau hidup itu mudah, tapi satu-satunya jalan untuk keluar dari masalah adalah kerja keras. Dan tidak mengeluh. Saya pikir, setelah saya lulus segalanya akan jauh lebih baik.''

Dua kisah itu setidaknya mematahkan pepatah lama bahwa cinta anak terhadap orang tua hanya sepenggalah. Yanglin dan Guo Shi Jun menunjukkan pada kita bagaimana bakti seorang anak kepada orang tua.

(eko)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com