07 April 2013 | 20:16 wib | Curhat

Kesunyian di Ujung Senja

image

Aku tak pernah membayangkan, jika di masa tua ini harus menjalani hidup sebatang kara. Keluarga yang amat aku sayangi, satu persatu telah mendahuluiku menghadap sang pencipta!

Aku terlahir di ibukota negeri ini 59 tahun lalu. Usiaku memang telah merangkak senja. Beragam cobaan hidup juga telah aku alami. Susah dan senang datang silih berganti. Namun mengapa di usiaku yang sudah ‘maghrib’  ini harus aku lewati dengan kesendirian dan kesunyian.

Dulu, aku hidup sangat bahagia. Dua jagoan kecil dan suami yang selalu setia melengkapi kebahagiaanku menjalani kehidupan ini. Jarang sekali ada pertengkaran dalam keluargaku. Suamiku amat penyayang, perhatian dan penuh tanggungjawab. Dua orang puteraku juga tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan berbakti kepada kedua orang tua. Suamiku bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan, sedangkan aku sendiri bekerja pada sebuah bank swasta nasional. Meski kami berdua sibuk, namun kami selalu berusaha meluangkan waktu untuk bisa berkumpul dan berekreasi dengan anak-anak, terutama pada hari libur. Pun pada saat jam istirahat siang, aku sering menyempatkan diri untuk pulang menengok anak-anak, atau jika tidak sempat aku akan menelponnya. Hal ini sengaja aku lakukan agar anak-anak tak kehilangan kasih sayang dan perhatian orang tuanya. Alhamdulillah, putera-puteraku  tumbuh menjadi anak-anak yang berbakti kepada kami, orang tuanya.

Cobaan mulai datang saat anak-anak mulai dewasa. Cobaan pertama adalah kepergian suamiku yang mendadak menghadap Sang Illahi. Aku sangat berduka, apalagi dia tidak meninggalkan pesan apa pun untuk kami. Terseok-seok aku menata hati dan hidupku atas kepergiannya yang tiba-tiba. Anak-anaklah yang menjadi sumber kekuatanku. Ya..meski separuh jiwaku ikut terkubur bersama jasad suamiku, namun aku terus berusaha untuk menyalakan kembali lentera hidupku yang nyaris meredup. Berkat motivasi dan semangat hidup dari anak-anak, aku bisa bangkit. ‘’Life must go on, mama!” Begitu kata putra sulungku.

Sayang, belum lama aku berduka atas meninggalnya suami, anak bungsuku yang saat itu sudah duduk di bangku kuliah semester 2, juga ikut dipanggil Sang Khaliq, karena sakit. Pembaca, hatiku kembali hancur menyaksikan jasad putera bungsuku tertutup selimut putih di rumah sakit. Duniaku serasa gelap. Aku histeris dan pingsan! Dua orang yang amat aku sayangi, kini pergi meninggalkan aku. Tak bisa aku lukiskan suasana hatiku saat itu…

Pembaca, hanya kekuatan imanlah yang membuatku mampu untuk kembali bersemangat menjalani hidup. Dengan putera sulungku, aku berusaha untuk lebih memperhatikannya, termasuk kesehatannya. Aku tak ingin kejadian adiknya terulang pada si sulung. Hari berganti, Tuhan pun kembali menghadirkan kebahagiaan. Si sulung menikah, kehidupan keluarga pun kembali ceria dengan kehadiran anak mantu.

Namun sekali lagi, manusia berkehendak, Allah yang menentukan. Di tengah kebahagiaanku menimang cucu, hasil pernikahan si sulung dengan seorang gadis asal Kota S, cobaan kembali menerpa. Anak sulungku sakit hepatitis, lantaran kecapaian bekerja. Berbagai upaya pengobatan, dari medis hingga alternatif telah kami lakukan demi kesembuhannya. Sayang, Allah memanggilnya. Ya, putera sulungku pun akhirnya pergi meninggalkan kami, menyusul ayah dan adiknya ke alam abadi.

Ya Allah…cobaan apalagi ini..? Air mataku kembali mengalir, tapi hatiku seperti sudah siap menerima kepergiaannya. Mungkin, ini karena aku telah tiga kali mengalami kejadian yang sama, jadi aku bisa lebih ikhlas dalam mengantar kepergian anakku ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Pembaca, menantuku lah yang saat itu shock dengan kepergian suaminya. Aku berusaha menghiburnya dan menguatkan hatinya. Cucuku baru berusia dua tahun saat itu. Dia belum paham tentang situasi yang menimpa keluarganya. Matanya yang bening, kulitnya yang bersih dan rambut ikalnya kerap mengingatkan ku pada wajah papanya yang telah tiada. Itu sebabnya sejak kepergiaan putera sulungku aku lebih sering menginap di rumahnya. Semata-mata agar aku terhibur dan tidak termangu dalam kesendirianku.

Sayangnya, hal itu tidak dipahami oleh menantuku. Dia memilih pulang ke rumah orang tua dan menjual rumah peninggalan suaminya. Pembaca, sejak saat itu aku seperti kehilangan semua orang yang aku sayangi. Satu-satunya keturunanku kini juga telah dijauhkan dari aku, neneknya. Sering aku memohon-mohon di telepon pada bekas menantuku yang sekarang telah menikah lagi, agar cucuku diantar menginap di rumah, tapi tak dihiraukannya. Hatiku sakiiit sekali dengan sikapnya. Jika sudah begitu, tak ada yang bisa aku lakukan selain mengadu kepada Sang Khaliq. Pembaca dalam sunyi ini aku masih berharap, cucu atau menantuku membaca tulisan ini, sehingga hati nuraninya terbuka untuk menengokku sekadar mengobati rinduku pada mereka yang telah pergi….Semoga!

 

Diceritakan Nenek RN dari Kota S

()

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com