12 April 2013 | 11:37 wib | Curhat

Akibat Pernikahan Dini

 

Tak diizinkan kuliah, aku masih bisa terima. Tapi menikah? Apalagi dijodohkan dengan lelaki pilihan orang tuaku, sungguh tak bisa aku terima.

 

Panggil saja namaku Iyem, perempuan yang lahir di pelosok desa di kota kecil di Jawa Tengah. Meski tumbuh dan besar di lingkungan pedesaan, aku memiliki cita-cita yang tinggi. Bersekolah setinggi-tingginya, agar kelak derajatku bisa lebih tinggi. Jujur saja, aku sangat terpesona dengan perjuangan RA Kartini. Sejak aku mengetahui kisah perjuangan dari guru sekolah dasar di kampungku, semangatku terus menyala. Aku ingin seperti Kartini, menerbangkan cita-citaku setinggi langit. Tujuanku sederhana saja, aku tak ingin jadi perempuan petani, seperti kebanyakan perempuan di kampungku.

Aku bersyukur, meski dari keluarga petani, orang tuaku termasuk berada. Jadi segala kebutuhanku, tentu untuk ukuran anak desa, tercukupi. Aku sangat bahagia. Kebahagiaan terbesarku adalah aku diperbolehkan sekolah tanpa harus turun ke ladang. Tentu saja kesempatan ini kumanfaat sebaik-baiknya. Selulus sekolah dasar, aku bisa melanjutkan ke jenjang SMP. Meski hanya diterima di sekolah negeri di kota kecamatan, aku bahagia. Walau setiap hari harus berangkat dan pulang belasan kilometer, aku menjalani masa itu dengan kesungguhan. Karena aku selalu menanamkan tekad kuat dalam hatiku, aku harus sekolah setinggi-tingginya.

Masa itu kulalui dengan mulus. Hingga akhirnya, aku diterima di sekolah menengah kejuruan di kota kabupaten. Betapa bahagianya hatiku. Apalagi di kampungku saat itu, tak banyak perempuan yang bisa menginjak pendidikan hingga tingkatan itu. Aku bersuka cita, orang tua ku pun bangga. Pada awalnya, aku sangat bersemangat sekolah, meski harus menempuh jarak yang lumayan jauh. Setiap hari ulang alik, tubuhku loyo. Tetapi karena kasihan melihat aku selalu pulang dalam kecapaian, orang tuaku menyarankanku untuk kost. Berat sebenarnya. Tapi bagaimana lagi, aku akhirnya memilih jalan ini demi tubuhku juga. Aku harus berpisah dengan orang tua. Tetapi aku bersyukur, orang tuaku mendukungku. Tiga tahun tak terasa lama. Akhirnya, aku pun lulus dari SMK di kota kabupaten itu. Aku kabarkan berita bahagia itu kepada orang tuaku. Mereka pun tak kalah bahagia, melihat anak perempuannya berhasil lulus SMK.

Tapi pembaca, itu ternyata puncak kebahagiaanku. Setelah itu, aku harus melewatkan hari-hari yang membuatku frustasi. Keinginanku untuk kuliah ditolak keras kedua orang tuaku. Aku telah salah duga. Orang tuaku yang amat mendukungku untuk menempuh pendidikan SMK tak setuju aku kuliah. Karena menurut mereka, anak perempuan seperti aku, tak perlu harus sekolah tinggi. Bagi mereka, sekolah di SMK sudah sangat luar biasa. Pembaca, aku layu.

Tapi, selanjutnya, hatiku seperti diremuk-remuk. Ternyata orang tuaku memintaku segera menikah. Usia 18 tahun bagi mereka, telah terlampau tua untuk menikah. Jadi mau tidak mau aku harus menikah. Pembaca, nasibku ternyata tidak lebih baik dari RA Kartini, yang dipaksa ayahnya untuk menikahi pria pilihan orang tuanya. Begitu juga aku. Air mataku berleleran, hatiku semakin hancur. Andai saja, tak diizinkan kuliah, aku masih bisa terima. Tapi menikah? Apalagi dijodohkan dengan lelaki pilihan orang tuaku, sungguh tak bisa aku terima. Aku masih belia. Tapi meski air mataku hampir habis, orang tuaku tak berubah pada keputusannya. Aku memohon kepada Ibuku, Ibu tak bisa apa-apa. Ya, aku harus menikah dalam usia yang menurutku masih amat muda.

Baik aku meski mengalah, demi keduaorang tuaku. Aku menikah dengan lelaki pilihan mereka. Umurnya juga masih muda, 20 tahun. Dia anak orang kaya! Harapan orang tuaku sederhana saja, kehidupanku mapan, punya anak. Bagi mereka jika aku kuliah, belum tentu aku bisa cepat menikah, dan dapat jodoh anak orang kaya.

Setelah menikah, kami benar-benar hidup sebagai keluarga kecil. Kami tinggal di rumah kecil, terpisah dari orang tua. Meski amat berat, aku akhirnya pasarah. Kujalani, sambil berdoa, mudah-mudahan, ini jalan yang terbaik.

Perlahan aku mulai merasakan kebahagiaan. Benih-benih cinta tumbuh dlam hatiku. Suamiku, mengelola toko kelontong, sedangkan aku murni menjadi ibu rumah tangga. Aku mulai bisa berdamai.

Tetapi, hati yang susah payah kubangun, kembali hancur berkeping-keping. Terhitung lima bulan sejak pernikahan, prahara datang. Suamiku, kelihatan wajah aslinya. Ia mulai sering pulang malam, layaknya anak muda. Dia acap nongkrong di perempatan jalan dengan anak-anak sebaya yang belum menikah. Di tinggal begadang, aku hanya bisa termangu di rumah. Perlahan aku tegur suamiku. Tapi reaksinya sangat tidak aku duga. Dia tak terima, marah, dan menantang akan menceraikanku. Ya Tuhan!

Mendengar itu darahku pun mendidih. Perjuangan berat ku untuk menempuh perkawinan itu, ternyata tak ada artinya sama sekali. Aku pun muntab. Kuterima tantangannya. Saat itu juga, aku kabur dari rumah. Sejak saat itu, rumah tanggaku hancur. Kami bercerai.

Di mata orang lain, aku memang masih bisa tegar. Tapi hatiku sangat hancur, semuda ini, aku harus menyandang gelar janda. Aku hanya menyesali, kukorbankan masa depanku demi pernikahan ini, tapi yang kuterima adalah kehancuran. Sungguh tidak sebanding.

 

Diceritakan Iyem kepada redaksi.

 

 

 

 

 

 

 

()

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com