22 April 2013 | 13:07 wib | Serambi Prie GS

Prie GS - Komunitas Telat Mandi

 

SEMULA saya mengamati perilaku diri sendiri dan maaf kalau perilaku ini tak dianjurkan untuk begitu saja diduplikasi, yakni kebiasaan saya telat mandi, terutama kalau alasannya memadai. Celakanya saya memiliki cukup alasan itu hampir setiap kali karena jadwal saya yang penuh improvisasi.

Ada kalanya pada pagi buta saya sudah mandi karena sebuah alasan, yang terbanyak adalah alasan bepergian. Tapi ada kalanya sore hari saya baru mandi dan pernah begitu sorenya saya mandi pagi sampai sehari terpaksa cuma mandi sekali. Jadi ada indikasi yang jelas: jika saya mandi pagi-pagi sekali bukan karena saya rajin, jika saya mandi pagi kesorean bukan berarti saya malas. Dorongan mandi ternyata bukan karena rajin dan malas, melainkan karena  unsur paksaan dan tekanan. Siapa yang sanggup memaksa saya mandi pada pagi buta, dengan mata masih sedikit terpejam itu kalau bukan karena harus bepergian. Akhirnya di kata "harus" itulah letaknya persoalan. Ketika tak ada lagi keadaan yang mengharuskan maka waktu mandi sungguh tak bisa ditentukan.

Ketika sekolahnya libur, saya baru sadar bahwa sesore itu anak saya belum mandi. Pada kali lain saya juga menemui kasus yang sama pada istri. Apakah kami keluarga jorok, rasanya tidak karena pada kasus lain saya menemukan soal serupa pada tetangga, saudara, dan kolega. Kadangkala seorang teman mengabarkan, nyaris dengan gembira, betapa dua hari ia pernah tak mandi. Bukan soal apa alasan di sebaliknya, melainkan soal ekpresinya yang gembira itulah yang menarik minat saya. Ekspresi serupa juga saya lihat pada anak saya ketika di sore itu ia belum mandi pagi. "Belum," kata itu ia ucapkan dengan nada mendekati bangga. Saya sendiri setiap telat mandi dan diledek anak-anak dan istri rasanya malah menikmati. Terasa diperhatikan dan disayangi. Mereka yang menegur pun rasanya tidak sedang benar-benar menegur melainkan lebih mirip geli dan basa-basi.

Saya tertarik untuk menguji tesis ini. Adakah jika tak ada keharusan dan paksaan, memang ada kecenderungan manusia untuk telat mandi. Di Twitter saya menguji soal ini. Pertama, setiap tweet saya yang menyoal keadaan telat mandi segera direspons sana-sini. Lalu kenapa tak kita bentuk saja komunitas telat mandi, iseng saya lagi. Tak butuh waktu lama seorang follower membuat akun komunitas ini lengkap dengan avatar wajah saya dan segera mengundang banyak pengikut. Lalu entah siapa yang menyulut, akun telat mandi bermunculan di berbagai daerah Solo, Surabaya, Kediri, Balikpapan, Makassar, Jember, Pati... Sudah tentu semangatnya adalah main-main. Tapi saya sedang berpikir: adakah yang serius dari dunia yang tampaknya main-main ini. Salah satunya ialah kecurigaan saya tentang ekspresi kemerdekaan yang sedang dirayakan. Intinya, telat mandi itu tak ada hubungannya dengan kejorokan melainkan gambaran seseorang yang sedang menegaskan kemerdekaannya sebagai pribadi yang sedang tidak ditekan keadaan.

(Prie GS)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com