23 April 2013 | 15:34 wib | Cermin

Dari Pelatih Tari Orang Gila ke Batik Magelangan

image

Dia mengembangkan tarian terapi bagi penderita gangguan kejiwaan. Dia juga menjadi pioner batik magelangan.

 

PADA 2005, Sofie Noor Safitri beroleh tawaran melatih tari karyawan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof Dr Soerojo, Magelang. Dengan senang hati, perempuan yang akrab disapa Poppy itu menerima. Suatu ketika saat melatih para karyawan RSJ, Poppy melihat para pasien atau biasa disebut rehabilitan mengikuti gerakan tari yang dia ajarkan. Sebuah gagasan pun muncul di kepalanya.

Gagasan tersebut adalah menjadikan seni tari sebagai media terapi bagi penderita gangguan jiwa. Ya, sejak saat itu Poppy menyertakan para pasien RSJ dalam latihan. Perlahan-lahan mereka yang turut berlatih terus bertambah, hingga akhirnya melampaui jumlah karyawan. Poppy tak pernah menyangka para pasien bisa menari sebagus manusia normal.

Perempuan kelahiran Magelang 31 tahun silam itu percaya gerakan tari bermanfaat untuk terapi penderita gangguan kejiwaan. Tarian, kata dia, dapat membangkitkan semangat pasien dan menjauhkan mereka dari ketergantungan obat.

"Aktivitas menari membuat fisik para pasien lelah, sehingga setelah itu bisa tenang dan tertidur. Mereka tak lagi butuh obat penenang atau obat tidur," ujar jebolan Sanggar Tari Sunu Pratiwi Yogyakarta yang hafal 30 tarian itu.

Tentu tidak gampang melatih pasien RSJ menari. Butuh trik khusus agar mereka mau dan mampu mengikuti instruksi pelatih. Karena itu Poppy menggunakan pendekatan kemanusiaan. Penderita gangguan kejiwaan, kata istri Anshori Dedi Setiawan itu, membutuhkan perhatian. Maka dia harus bersedia memahami kondisi dan keinginan mereka.

"Prinsipnya, kalau kita menghargai mereka, mereka juga akan menghargai kita. Proses perkenalan dengan mereka biasanya butuh waktu lama. Selama proses itu, mereka akan bercerita apa saja, dan tugas kita harus mendengarkan dengan penuh perhatian," tutur wanita yang baru saja mendapatkan momongan bernama Devanizar pada 25 Februari lalu itu.

Berkat tangan dingin Poppy, para murid "luar biasa" itu mampu menguasai beberapa jenis tarian, antara lain tari kipas. Di bawah bimbingan Poppy, mereka kerap unjuk kebolehan pada acara-acara resmi di lingkungan RSJ Prof Dr Soerojo.

"Penonton dan tamu undangan umumnya tidak menyangka penari yang menghibur mereka adalah rehabilitan RSJ. Begitu tahu dari pembawa acara, mereka terkejut dan memberi apresiasi lebih," kata sesepuh Teater Fajar Universitas Muhammdiyah Magelang itu sambil tersenyum.

Poppy bangga atas kemampuan anak didiknya. Dia merasa jerih-payahnya selama ini tak sia-sia. Di luar dugaan, apa yang dilakukan Poppy beroleh apresiasi dari pemerintah. Pada 2009, dia dinobatkan sebagai juara I Pemuda Pelopor Tingkat Jawa Tengah dan juara III Pemuda Pelopor Tingkat Nasional pada kompetisi yang diselenggarakan Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Poppy dinilai berhasil mencipta dan mengembangkan gerak tari yang dipercaya dapat menjadi terapi bagi penderita gangguan kejiwaan. Gerak tari yang lembut diyakini memberikan kesejukan bagi jiwa mereka yang tidak tenang.

 

Meninggalkan Tari

Namun Poppy kini harus meninggalkan dunia tari yang telah memberikan kepuasan lahir-batin itu. Sebuah kecelakaan lalu lintas, Januari 2012, membuat kakinya patah. Dia pun terpaksa mengundurkan diri sebagai pelatih rehabilitan di RSJ Magelang. Namun kenyataan pahit itu tak membuat Poppy patah arang. Dia, yang kini menjadi PNS di Kantor Kelurahan Kramat Selatan, mengembangkan usaha kerajinan batik.

"Yang menarik, inspirasi batik datang dari mantan anak didik saya di RSJ. Saat itu, di sela-sela aktivitas melatih tari, saya belajar membatik dari rehabilitan RSJ. Saya diajari cara memegang canting dan menggoreskan malam ke kain. Saya pun tersentuh. Penderita gangguan jiwa saja bisa, kenapa saya tidak?" Kata Poppy bersemangat.

Dia lalu menyulap rumahnya di gang sempit Kampung Bodongan RT 3 RW 4 Kelurahan Kramat Selatan, Kecamatan Magelang Utara, menjadi rumah produksi batik. Tak hanya itu. Poppy juga mendirikan Kelompok Usaha Bersama Sekar Batik. Dengan bantuan ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumahnya, dia memunculkan corak batik magelangan yang saat itu belum ada.

"Bekal pelatihan di Bandung membuat saya lebih berani membuat batik. Awalnya saya pakai sendiri. Lalu, saya tawarkan kepada siapa saja di mana pun," katanya.

Poppy menciptakan motif-motif unik yang inspirasinya diambil dari nama-nama kampung di Kota Magelang. Dia menuangkan cerita legenda di kampung-kampung itu ke dalam motif batik yang didominasi ragam hias flora dan fauna. Dalam tempo relatif singkat, Poppy berhasil menciptakan 40 motif batik magelangan.

"Karena tak memiliki sejarah dalam bidang batik, batik magelangan harus punya ciri khas yang berbeda dari batik-batik daerah lain," tutur dia.

Motif batik yang diminati konsumen antara lain motif bayeman dan kebonpolo. Beberapa motif bahkan dipakai seragam di sekolah, kantor kelurahan, instansi, dan beberapa badan usaha milik negara. Cara memperkenalkan dan memasarkan batik produksi cukup sederhana. Dia mengajak ibu-ibu rumah tangga untuk memasarkan di lingkungan tempat tinggal masing-masing. Berkat ketekunannya, Poppy kembali meraih penghargaan dari pemerintah. Sekar Batik yang dia kelola berhasil menyabet gelar juara I Kelompok Usaha Bersama Tingkat Nasional.

"Menciptakan peluang dan prestasi bisa dimulai dari hal sederhana di sekitar kita. Saya mendapat banyak hal berharga dari para rehabilitan yang tidak dapat diperoleh dari orang normal," ujar Poppy.

(Widodo Setiawan)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com