03 Mei 2013 | 15:19 wib | Cermin

Membangun Kepercayaan Anak Eks LP

image

MEMBANGUN kepercayaan diri anak-anak penghuni penjara dan bekas penghuni penjara. Dengan tujuan, sekeluar dari penjara anak-anak itu bisa hidup di masyarakat sebagai warga yang baik.

Itulah yang dilakukan Prof Dr Yusti Probowati R. Dan itu bermula sejak tahun 2003, ketika dia meneliti di Lembaga Pemasyarakatan Anak (LPA) Blitar, Jawa Timur. Dalam penelitian itu, psikolog kelahiran 22 September, yang kini menjabat Dekan Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) tersebut, melihat betapa makin lama tindak kejahatan yang dilakukan anak-anak kian meningkat. Lulusan S2 dan S3 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu mencatat semula anak-anak penghuni LPA Blitar 80 anak. Namun kemudian bertambah menjadi ratusan anak.

"Kualitas kejahatan anak pun meningkat. Saya melihat banyak residivis kembali ke LP akibat kejahatan berulang yang mereka lakukan," katanya.

Kedekatan dia dan dunia yang berkait dengan hukum terbawa sejak kecil. Sebab, bapak dan ibunya yang menjadi hakim sering berdiskusi di meja makan. "Itu memengaruhi saya sampai beranjak dewasa, walau saya tidak terjun ke bidang yang ditekuni kedua orang tua saya. Ketika mengambil master di UGM, saya masuk ke psikologi yang berkaitan dengan hukum," katanya.

Yusti yakin psikologi bermanfaat diterapkan ke masyarakat. Dan, pengalaman meneliti di LPA Blitar membuat dia jatuh hati untuk terus mendampingi anak-anak penghuni dan bekas penghuni LPA.

Ibu dua anak perempuan buah kasih dengan Ir M Pujiono Santoso itu lalu membuat shelter tahun 2010. Itulah tempat tinggal sementara bagi anak-anak yang keluar dari LP dewasa dan LPA. Dia melakukan hal itu karena melihat di LP banyak petugas tak tahu cara mendampingi anak-anak. Sangat sedikit petugas LP memiliki kemampuan psikologi.

Rumah Hati, begitulah namanya. Di tempat itulah anak-anak yang tak hendak pulang ke keluarga yang tidak kondusif bisa tinggal. Apalagi masyarakat memberikan stigma buruk kepada anak-anak eks penghuni LP. Yusti bersama tim Ubaya mendampingi dan membina mereka agar kuat menjalani kehidupan dan bisa mandiri.

Di Rumah Hati yang berdiri di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, para psikolog memotivasi anak-anak yang terlibat permasalahan hukum agar dapat bertanggung jawab atas diri sendiri. Mereka mendorong anak-anak memiliki nilai-nilai positif dan beradaptasi dengan belajar bermasyarakat.

"Anak-anak di Rumah Hati adalah bekas penghuni LP Jombang, LPA Blitar, dan Rutan Medaeng Surabaya. Kami memberikan bekal keterampilan dan pengetahuan selama lima bulan. Kami melepas mereka ketika masyarakat tak lagi memberikan stigma buruk terhadap anak-anak itu," ujar Ketua Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia itu.

Yusti menuturkan penjara sudah menjadi dunia nyata dalam kehidupan anak-anak itu. Banyak kemungkinan harus mereka lewati secara susah payah untuk bisa kembali hidup di masyarakat. Acap kali terlihat betapa anak-anak itu hampir lupa bahwa mereka sebenarnya mempunyai kekuatan menahan rasa ngeri, takut, jemu, dan tak berdaya.

Karena itulah, ujar dia, kebutuhan mendesak adalah membantu mendampingi anak-anak itu secara psikologis. Mereka adalah anak yang berkonflik dengan hukum. Masa kanak-kanak seharusnya menjadi bagian terpenting dalam kehidupan, tetapi anak-anak yang semestinya masih berstatus pelajar itu harus mengenyam kehidupan di penjara. Rumah Hati mendampingi agar mereka siap kembali ke masyarakat.

Sejak berdiri tahun 2010, Rumah Hati merupakan satu-satunya di Jawa Timur yang membina dan mendampingi anak-anak penghuni dan bekas penghuni LP. Mereka mendapat program pendampingan psikososial dan terapi kerja. Program yang disusun Yusti bersama tim itu tak lain agar dapat membantu anak-anak memiliki tujuan hidup. Dengan bekal keyakinan diri dan keterampilan memadai, mereka akan lebih siap menjalani kehidupan di masyarakat.

Program pendampingan psikologis meliputi penyelesaian masalah berkait dengan diri, keluarga, dan masyarakat. Rumah Hati melatih anak-anak itu bertanggung jawab atas diri sendiri, memiliki nilai positif, dan beradaptasi dengan dan di masyarakat. "Ada hak anak yang harus diberikan. Jangan sampai hak anak-anak itu terabaikan. Sesuai dengan undang-undang perlindungan, anak di penjara adalah korban. Mereka korban dari keluarga, tempat tinggal, sekolah, lingkungan. Bagaimanapun mereka harus terlindungi," ujarnya. #Wiwin

(wiwin)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com