24 Juni 2013 | 15:31 wib | Asuh

Rumahku, Istanaku, Surgaku

image

Agar anak betah di rumah, orang tua harus menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan.

 

LIBURAN kali ini Dimas tak mau pergi ke luar kota. Saat sang ibu memberikan pilihan antara berlibur ke rumah Nenek di luar kota atau jalan-jalan ke Jakarta, dengan mantap bocah berusia 11 tahun itu menyatakan mau di rumah saja. ''Di rumah enak,'' katanya.

Itu pula yang dipilih Lia (10 tahun). Anak perempuan yang centil itu menyatakan lebih senang liburan di rumah. Apalagi saat liburan tidak harus belajar dan bisa bermain dengan boneka dan anjing kesayangan. ''Uang untuk jalan-jalan buat beli buku saja,'' ucapnya.

Namun lain dari Ryan. Bocah berusia delapan tahun itu tak betah di rumah. Jangankan saat liburan, sehari-hari pun dia lebih senang main di rumah teman. Tak jarang sepulang sekolah dia lebih senang main di rumah teman. Baru pada sore atau malam hari minta dijemput di rumah temannya.

Menyikapi dua hal itu, psikolog, konsultan pendidikan anak usia dini sekaligus konsultan permasalahan ibu dan anak pada BKD Pemerintah Kota Tegal, Dewi Umaroh SPsi, menyatakan orang tua perlu memperhatikan anak. Karena, perhatian orang tua sangat memengaruhi perilaku anak. Karena itu, orang tua perlu menunjukkan kasih sayang pada anak dan memberikan kenyamanan. Jika sudah merasa nyaman, bisa membuat anak betah berada di rumah.

Untuk membuat anak betah di rumah, kata dia, orang tua harus menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan. Orang tua mesti menjalin komunikasi yang hidup dengan anak dan anggota keluarga lain. Bila memungkinkan sediakan fasilitas belajar dan bermain yang dibutuhkan anak. Menciptakan keharmonisan dalam keluarga bisa memengaruhi perkembangan mental dan cara anak bersikap. Jika kehidupan keluarga selalu harmonis dan saling memperhatikan, anak akan merasa nyaman. Ketika sudah merasa nyaman, anak pun jadi betah berada di rumah dan menghargai orang tua.

Lantas apa yang membuat anak tak betah di rumah? Salah satu faktor yang memicu, menurut  pendapat Dewi, adalah ketiadaan komunikasi yang hangat antara anak dan seluruh anggota keluarga. Juga ada larangan orang tua bila anak bermaksud mengajak teman main ke rumah, kurang fasilitas pendukung belajar dan bermain anak, serta tak ada ruang yang memungkinkan anak bebas berekspresi, bermain, dan belajar dengan santai.

"Bila anak lebih nyaman di rumah orang lain berarti anak tidak mendapatkan perhatian dari orang tua. Mereka merasa kebutuhannya terpenuhi dengan menginap di rumah orang lain. Itu bisa merugikan orang tua dan orang lain karena mengganggu privasi," ujar aktivis Aisyiyah Kota Tegal itu.

Agar rumah nyaman bagi para penghuni, ciptakan keharmonisan dengan seluruh anggota rumah, jalin keakraban dengan anak, misalnya dengan makan bersama. Kebersamaan di meja makan adalah saat yang tepat untuk berbagi cerita, sehingga bila anak menghadapi permasalahan, orang tua bisa mendengar dan memberi solusi. Saat seperti itu juga bisa menjadi sarana bercanda, sehingga terbangun keakraban antara orang tua dan anak. Sampaikan pada anak supaya sesekali mengajak teman belajar atau bermain di rumah.

Menjadi orang tua yang aktif bisa jadi cara lain membuat anak betah di rumah. Dewi menuturkan hubungan yang dekat antara orang tua dan anak atau anak dan anak membuat seseorang merasa diterima dan dicintai. Orang tua yang baik perlu memahami perkembangan anak dari waktu ke waktu dan menyesuaikan kebutuhan mereka sesuai dengan usia. Jangan memperlakukan anak seperti boneka, yang harus menuruti semua perkataan orang tua.

''Orang tua yang baik bukan hanya bisa memberikan segala kebutuhan anak. Namun juga harus mau berbagi dengan anak,'' ucapnya.

Dia mengemukakan saat anak sedih atau senang, orang tua harus bisa memancing agar mereka mau bercerita. Jadilah orang tua yang bisa menjadi teman atau sahabat bagi anak. Jadi anak akan merasa nyaman dan lebih menghargai orang tua.

Jika anak betah di rumah, jangan larang keluar rumah. Bagaimanapun anak harus bersosialisasi dengan lingkungan di sekitar agar bisa membangun rasa percaya diri dan tidak pemalu. Orang tua sebaiknya tidak bersifat diktator atau otoriter dalam menyampaikan keinginan dan harapan. Ajak anak mengobrol atau melakukan hobi bersama-sama sehingga merasa nyaman. Ketahuilah, bersifat diktator hanya membuat anak merasa tertekan dan tidak betah di rumah

Selain itu penting menata rumah senyaman mungkin. Selain kehidupan keluarga yang nyaman, penataan rumah yang nyaman bisa membuat anak betah di rumah. Ajak anak menata kamar atau tata letak barang elektronik, mebel, tempat mainan anak, dan ruang belajar demi kebaikan mereka. Bila perlu, tanyakan pada anak bagaimana tata letak yang nyaman untuk belajar dan bermain di rumah, khususnya kamar mereka.

Memberikan anak kamar pribadi  atau ruang bermain bisa menjadi alternatif. Perlu diingat, biasanya anak-anak yang memasuki usia balita akan sangat senang menempelkan gambar atau mencoret-coret dinding. Itu tidak buruk. Justru wajar dan sangat normal bagi anak. Setiap anak memiliki daya khayal dan impian berbeda-beda. Karena itu, berikanlah anak kamar untuk dijadikan tempat curahan isi hati. Biarkan anak menata kamar sesuka hati, tetapi perlu juga mempertimbangkan dengan keluarga soal biaya dan lain sebagainya. Jika sudah terencana dan ada dana, mengapa tidak? Toh semua itu dilakukan demi perkembangan anak-anak.

(Akbar Budi)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com