01 Juli 2013 | 15:32 wib | Asuh

Kenali Kemauan Bayi dari Tangisnya

image

Tak selalu bayi menangis karena lapar. Bayi menangis bisa karena panas, sakit, atau butuh perhatian.

 

TANGIS Ratri, ibu muda yang baru empat bulan memiliki bayi, pecah. Seolah berlomba, ketika sang  bayi tak henti menangis, Ratri pun menangis. Dia tak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan tangis bayinya. ''Tadi sih pipis sudah saya ganti popok. Terus sudah saya susui, tetapi tetap nangis. Saya tidak tahu mesti bagaimana lagi?'' ucap dia, sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi setengah putus asa.

Apa yang dialami Ratri dialami pula oleh Shinta dan Yanti. Mereka sama-sama memiliki bayi yang belum bisa bicara. Karena itu walau mereka sudah memberikan susu atau mengganti popok, bayi tetap merengek dan menangis. Maka tak heran jika banyak ibu muda, khususnya yang baru kali pertama memiliki bayi, sering bingung.

Psikolog Dewi Umaroh SPsi di rumahnya Jalan Pala Barat, Mejasem, Kabupaten Tegal, menuturkan untuk meredakan tangis bayi, para ibu acap memberikan susu. Padahal, tak semua tangisan menandakan isyarat bayi lapar. ''Ada berbagai kemungkinan. Bisa saja bayi kurang nyaman dengan posisi tidur, perut kembung, panas, atau bisa juga ada ruam dan demam yang disebabkan oleh flu,'' katanya.

Namun mengapa bayi mesti menangis? Dewi menyatakan tangisan adalah cara komunikasi pertama yang dikuasai bayi. Dengan tangisan itulah, bayi ingin menyampaikan keinginan dan keperluan secara efektif. Psikolog berkerudung itu menuturkan tangisan bayi mempunyai arti berbeda. Setiap tangisan bayi menyampaikan pesan tertentu kepada orang yang lebih dewasa, terutama sang ibu.

Kebanyakan ibu muda masih menebak-nebak makna tangis bayi. Misalnya, tangis karena lapar, mengantuk, atau sakit. Karena itu mereka mencoba berbagai cara agar bayi tenang dan tidak menangis lagi.

Namun berbagai upaya bisa tak berhasil. Banyak masalah timbul gara-gara ibu tak bisa menenangkan bayi yang menangis. Upaya ibu bukan membuat bayi berhenti menangis, sebaliknya justru menangis makin kuat dan kencang. Tidak heran saat kebingungan seperti itu ibu bisa bertindak bodoh dan membahayakan jiwa bayi. Itu berbahaya. Hampir di seluruh dunia ada kasus kematian bayi karena tindakan yang dipicu stres atau tekanan dan putus asa dalam menangani tangisan bayi.

"Ibu muda biasanya kaget ketika bayi menangis karena belum memahami suara tangis. Terkadang ibu muda akan lebih menekankan pemberian susu pada bayi daripada memahami tangis bayi," katanya.

Padahal, lapar bukanlah satu-satunya penyebab bayi menangis. Jika bayi tak ditenteramkan dan dibiarkan menangis akan meninggalkan kesan negatif, terutama dari segi perkembangan mental dan emosi bayi. Karena itu ibu perlu memahami bentuk dan pola tangisan bayi sebagai komunikasi bayi kepada orang tua.

 

Lima Makna Tangisan Bayi

Ada lima suara tangis bayi yang umum dan yang perlu diketahui maknanya.

1. Suara "neh" menandakan aku lapar. "Neh" diucapkan bayi berdasar refleks. Bayi yang baru lahir memiliki refleks kuat untuk mengisap. Ketika bayi mengombinasikan dengan tangis akan menghasilkan bunyi "neh". Jika mendengar tangis itu, segera susui bayi.

Bayi menggunakan bunyi "neh" dengan beberapa kombinasi suara dan gerakan lidah di langit-langit mulut. Bersamaan dengan itu, bayi akan menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan sambil menjilat bibir atau mengisap tangan. Bila mendengar bayi menangis seakan muncul bunyi "neh", ibu bisa memberikan susu.

2. Suara "owh" menandakan aku mengantuk. Bunyi itu didasari refleks. Bunyi "owh" pertama biasanya sangat panjang. Terkadang dengan tindakan menguap. Ketika mendengar bunyi itu, bantu bayi tidur. Jangan tunggu sampai menangis dan makin lelah, sehingga bayi makin sulit tidur. Perhatikan isyarat mengusap mata dan menguap.

3. Suara "eaairh" berarti rasanya tak enak. Bunyi itu terdengar berbeda dari "neh" karena bunyi sangat jelas bunyi "h"-nya. Bunyi itu pertanda bayi buang air besar atau kecil. "Eairh" berarti perutku kembung. Ketika bayi merasakan ada gas di perut, refleks kakinya mengangkat ke arah perut dan mulutnya berbunyi "eairh". Suara itu akan terdengar ketika bayi merasa ada tekanan di perut. Gas di perut bisa membuat bayi sakit perut dan rewel.

4. Bunyi "eh" berarti aku mau sendawa. Bayi memang butuh sendawa. Bila Anda mendengar bayi mengucapkan bunyi "eh", bantu dia sendawa. Tangisan yang mengandung kata itu akan diucapkan pendek. Bunyi itu terjadi karena ada kontraksi di bagian dada untuk mengeluarkan angin melalui mulut. Jika situasi itu dibiarkan, angin di perut akan menekan ke bawah dan menimbulkan rasa sakit di perut. Penanganan masalah itu perlu berulang-ulang dan hati-hati. Letakkan bayi di bahu atau di atas perut Anda dalam posisi telungkup, lalu tepuk-tepuk perlahan punggungnya.

Situasi itu akan tampak jelas jika bayi menggeliat ketika dibaringkan. Dada bayi menegang dan selepas diberi susu biasanya menangis. Itu tanda tidak enak. Itu juga perlu dipahami sebagai bukan lapar atau minta susu lagi, melainkan ingin bersendawa.

5. Suara "heh" adalah suara bayi yang berarti dalam keadaan panas, dingin, atau terkena ruam atau popok basah. Suara itu terdengar jelas dan bayi biasanya berhenti menyusu bila tidak sesuai dengan kondisi yang diinginkan.

Karena itu ibu perlu mengetahui bahasa bayi menangis pada usia nol sampai tiga bulan. Namun jika bayi sudah berusia empat bulan, suara tangisnya akan terdengar berbeda.

(Akbar Budi)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com