10 Juli 2013 | 15:03 wib | Asuh

Puasa Yuuk, nak

image

Anak tak bisa dipaksa berpuasa. Pengenalan berpuasa dapat dilakukan lewat mendongeng atau bercerita tentang berpuasa.

 

RAMADAN tinggal dalam hitungan jari lagi. Ramadan tahun lalu, Abi, bocah lelaki kelas III sekolah dasar (SD) berpuasa selama sebulan. Namun Abi hanya puasa setengah hari. Saat waktu zuhur Abi sudah berbuka puasa. Ramadan tahun ini, atas keinginan sendiri Abi menyampaikan pada sang bunda hendak puasa sehari penuh hingga lebaran. Bunda Abi bersyukur dan mendukung niat baik sang anak bungsu itu.

Rere juga begitu. Bocah perempuan seumuran Abi itu sangat antusias menyambut bulan suci Ramadan. Walau sepertinya belum dapat menjalani ibadah puasa secara utuh, Rere sangat bersemangat. Dia termotivasi oleh kawan-kawannya di  madrasah ibtidaiyah, sekolahnya.

Menjalani ibadah puasa secara total memang bukan perkara mudah, terlebih bagi anak-anak. Orang tua perlu mendukung, memotivasi, dan memberi arahan yang tepat pada anak agar dapat berpuasa dengan niat yang benar. Bagaimana menjalani puasa tidak dengan keterpaksaan, tetapi dengan tuntunan nilai-nilai agama. Pengajaran itu makin baik dilakukan sedini mungkin.

Orang tua tak perlu menjelaskan arti dan manfaat berpuasa. Melatih anak berpuasa tidak dapat dilakukan secara paksa. Pengenalan dalam berpuasa dapat dilakukan lewat mendongeng atau bercerita tentang berpuasa dan bulan Ramadan.

"Bagi kaum muslim, ilmu tentang puasa jelas penting. Sebab, mengajari anak puasa dan membiasakan sejak dini lebih mudah. Berbeda dari orang yang berlatih puasa setelah remaja atau dewasa. Mereka lebih sulit menyesuaikan secara fisik dan menekankan motivasi," ujar Rahmawati Wulansari SPsi MSi, psikolog anak.

Puasa dapat mulai dilatih sejak anak balita. Itu tidak berbahaya, asal kebutuhan energi tetap terpenuhi dan tidak dilakukan terlalu lama. Untuk balita sekitar usia empat tahun yang baru belajar berpuasa, diawali dengan latihan puasa tiga-empat jam terlebih dahulu. Bila anak kuat dan sanggup, dapat ditingkatkan menjadi setengah hari. Dan bila sudah melatih diri sejak balita, biasanya pada usia tujuh tahun anak mampu berpuasa sehari penuh.

Rahmawati mengemukakan memperkenalkan puasa harus dengan bertahap. Anak balita bisa dimulai dengan sahur bersama, buka bersama, dan bertahap untuk waktu puasa. Misalnya, sejak sahur sampai pukul 10.00 puasa, dibatalkan, lalu dilanjutkan puasa lagi. Tahap selanjutnya, puasa sejak sahur sampai zuhur, dibatalkan, kemudian lanjut puasa sampai magrib dan seterusnya.

Banyak amalan dapat diperoleh dari berpuasa. Misalnya, melatih seseorang lebih bersabar, berdisiplin, dan berpikiran lebih jernih. Begitu pula bagi anak-anak. Mereka dapat melatih kesabaran dan mengendalikan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Karena, amalan berpuasa dapat mengolah emosi anak ke arah lebih stabil. Dengan kata lain, puasa meningkatkan kecerdasan emosional (EQ) anak.

"Anak mengeluh berdasar apa yang mereka rasakan pada fisik. Kita bisa memberikan dukungan psikis untuk memotivasi anak tetap berpuasa. Orang tua bisa menceritakan mengenai hikmah puasa seperti merasakan bagaimana kaum miskin kelaparan, juga mengenai janji Allah pada orang yang berpuasa, seperti mendapat balasan surga dan seterusnya. Harus disampaikan dengan kalimat konkret dan jelas," kata ibu dua anak itu.

Agar suasana dalam menjalani puasa tetap menyenangkan dan bersemangat, orang tua dapat bekerja sama dengan sang anak menciptakan kegiatan selama Ramadan. Kegiatan positif yang tentu tidak menguras energi anak. Berikan pemahaman yang baik sehingga anak tertarik dan nyaman puasa. Karena puasa hakikatnya melatih kesabaran, kedisiplinan, dan kejujuran.

 

Tips

 

Mengajak Anak Berpuasa

1. Sahur bersama

Ajaklah anak makan sahur bersama keluarga. Itu melatih anak memahami waktu sahur, yakni sebelum waktu subuh tiba. Sahur penting sebagai asupan gizi dan sumber energi saat berpuasa.

 

2.Makanan kesukaan

Sebisa mungkin membuat menu makanan sahur dan berbuka kesukaan anak. Tentu dengan mengutamakan kandungan gizi yang cukup. Itu untuk merangsang anak makan sahur. Sebab, terkadang anak enggan sahur lantaran masih mengantuk.

 

3.Beri penghargaan

Berikan motivasi dan penghargaan pada anak-anak jika mereka berhasil berpuasa satu hari penuh. Penghargaan tidak harus berupa uang, tetapi bisa dengan memberikan menu spesial kesukaan anak saat berbuka atau tawaran lain yang memotivasi anak.

 

4. Buka bersama

Sekali-kali Anda dapat mengundang teman-teman dekat anak untuk berbuka puasa atau sahur bersama. Itu untuk mengondisikan lingkungan bermain dan kehidupan sehari-hari anak hingga senang dan tertarik untuk mencoba.

 

5. Alihkan rasa lapar

Ajak anak melakukan hal-hal yang disenangi untuk mengalihkan rasa lapar. Misalnya, mengajak anak membaca buku, membuat kerajinan tangan, atau menonton VCD untuk anak.

 

(Dianingtyas S)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com