12 Juli 2013 | 11:47 wib | Asuh

Dik, Makan Sahur Yuk!

image

Ajak anak akrab dengan suasana sahur pada pagi hari.

 

MEMBANGUNKAN anak untuk makan sahur memang gampang-gampang susah. Lihat saja Bimbi. Bocah 11 tahun yang sejak usia sembilan tahun berpuasa sehari penuh itu tergolong bocah yang sulit dibangunkan untuk makan sahur. Setiap kali  tiba waktu sahur, dia butuh waktu lama untuk  benar-benar membuka mata dan beranjak dari  tempat tidur. Begitu pula saat di meja makan, Bimbi malas-malasan menyuapkan makanan ke mulut. Padahal, sahur sangat penting agar bisa menjalankan puasa siang hari dengan baik.

Pengalaman itu pula yang sebelumnya dialami Sakira. Bocah perempuan usia sembilan tahun itu semula juga malas-malasan diajak makan sahur. Namun sejak sang ibu memiliki trik, yakni selalu menyediakan makanan kesukaan, Sakira pun mudah dibangunkan. Bahkan dengan senang hati membantu ibunya menyiapkan makan sahur untuk keluarga.

Saat memasuki bulan puasa, hal yang sangat akrab dirasa, khususnya bagi anak-anak adalah sahur, buka puasa, dan lebaran. Untuk sahur, memang perlu pengenalan secara perlahan pada anak-anak. Karena saat sahur anak diperintah bangun pada waktu tidak biasanya. Orang tua juga harus bersemangat agar sang anak bersemangat.

Mengajak anak sahur memang penting. Selain sunah berpuasa, sahur dapat menjamin kecukupan gizi dan cairan tubuh selama berpuasa. Walaupun anak masih berpuasa setengah hari atau beberapa jam, menjaga kecukupan gizi tetap penting.

Untuk menyiasati anak agar terus bersemangat sahur, orang tua dapat melibatkan anak menyiapkan daftar menu selama sahur. Biarkan anak menentukan pilihan menu. Namun orang tua harus tetap mengarahkan anak pada menu sehat dan seimbang. Jangan terus memanjakan anak dengan menu yang tergolong kurang menyehatkan dan mengandung sedikit nilai gizi.

Persiapan masak untuk sahur dapat dilakukan bersama. Anak dapat dilibatkan untuk melakukan hal-hal ringan untuk menyiapkan hidangan sahur. Misalnya, ayah menyiapkan meja makan dan piring, anak menyiapkan minuman hangat, ibu memasak. Agar cepat dan praktis, tentukan pilihan menu yang dimasak mudah tetapi kandungan gizinya seimbang, seperti makanan yang terkandung dalam empat sehat lima sempurna.

Sahur merupakan hal penting sebagai pemasok energi selama seharian berpuasa. Melati Ismi Hapsari MPsi, psikolog anak sekaligus dosen Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Muhamadiyah Purwokerto, menyatakan sekalipun anak-anak masih tahap belajar puasa baik penuh maupun setengah hari, mereka harus diajak berdisiplin. Misalnya, tidak meninggalkan waktu sahur dan menjalani hal lain walau hukumnya sunah, bukan wajib seperti puasa Ramadan.

"Mengajak anak sahur terkadang tidak mudah. Ada yang penurut dan mudah dibangunkan. Ada pula yang malas, harus ada sedikit tekanan dan motivasi. Perkenalkan anak dengan suasana sahur, seperti memberi tontonan yang menghibur atau menu sahur yang menarik," ujar ibu Michelle (empat setengah tahun) itu.

Jika telah dibiasakan sejak dini, saat beranjak dewasa mereka telah terbiasa berdisiplin untuk tidak melewatkan waktu sahur. Karena itu perlu penanaman sedini mungkin soal sahur dan berbagai manfaatnya. Ajak anak akrab dengan suasana sahur pada pagi hari.

Pada saat sahur, tidak ada salahnya membebaskan anak memakan cemilan kesukaan mereka, seperti cokelat dan snek. Itu untuk menghindari godaan pada tengah hari saat anak melihat cemilan kesukaan. Apabila saat sahur anak dilarang memakan makanan yang mereka inginkan, saat siang hari melihat makanan itu anak akan sangat ingin menikmati. Usahakan pula anak tetap memiliki berbagai kegiatan selama berpuasa agar lupa dengan lapar dan haus.

 

 

Tips Bersahur Asyik pada Anak

 

1. Beri penjelasan betapa penting sahur

Anak menyukai sesuatu yang menyenangkan dan bermanfaat. Awalnya jelaskan mengenai keutamaan puasa, mengapa penting, dan kegiatan-kegiatan yang dapat menambah banyak pahala, termasuk betapa penting sahur. Jelaskan pula betapa penting mengonsumsi hidangan pada waktu sahur agar tubuh tetap kuat dan tidak kekurangan nutrisi. Jelaskan juga risikonya jika tidak mau bangun dan melewatkan waktu sahur, seperti merasa lemas pada tengah hari.

 

2. Variasi menu

Anda harus rajin membuat variasi menu agar si kecil tidak bosan saat sahur. Jika terus-menerus dengan menu instan seperti mi atau <I>nugget<P>, tentu anak merasa bosan pada makanan. Selain itu, kandungan nutrisi juga kurang memadai. Hidangan sederhana dengan variasi berbeda dapat menjadi pilihan. Menu-menu variatif dapat Anda akses melalui tabloid atau internet.

 

3. Ajak berpartisipasi

Ajak anak terlibat menyiapkan hidangan sahur. Anak bahkan terkadang senang jika ikut bercengkerama dengan ibu di dapur. Tidak perlu meminta dia bangun lebih awal untuk membantu memasak. Ajak dia memilih menu makanan sahur pada malam hari sebelum tidur. Ajak juga membersihkan meja makan, sehingga saat bangun sahur anak lebih bersemangat melihat hasil kerjanya.

 

4. Atur waktu tidur

Pastikan anak tetap mendapat waktu istirahat cukup, sekalipun harus bangun lebih awal pada dini hari untuk sahur. Memajukan waktu tidur bisa dilakukan agar tubuh si kecil tetap fit dan siap menjalani puasa seharian. Anda bisa meminta anak tidur setelah tarawih. Jangan bangunkan anak terlalu awal karena akan mengantuk saat menunggu waktu imsak dan salat subuh.

 

5. Buat anak nyaman

Ada beberapa anak yang tidak mau bangun karena udara dingin. Itu bisa dimaklumi karena sahur selalu dilakukan sebelum matahari terbit. Siapkan jaket dan sandal atau hal yang dapat menghangatkan buah hati Anda.

 

 

(Dianingtyas S)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com