04 April 2013 | 13:50 wib | Serambi Prie GS

Watak Asli

SALAH  seorang agen asuransi saya adalah pribadi yang ramah. Sangat ramah. Kecuali ketika ia tak menduga bahwa yang bertelpon adalah saya. Suaranya tiba-tiba menjadi orang yang sama sekali berbeda. Dingin, waspada dan sangat berjarak. Saya mencoba memahami gaya itu, tidak dari sudut pandang pihak yang kecewa walau godaan untuk kecewa itu sudah tentu ada. Tetapi jika saya memutuskan cuma untuk kecewa, saya akan kehilangan pembelajaran. Setidaknya ide menulis kolom ini.

Pelajaran pertama; keramahan transaksional itu ada. Dan pada keramahan jenis ini kita perlu meromantisir. Keramahan pramugari itu biarlah cuma sempurna di dalam kabin. Soal di luar pesawat ia berubah

menjadi pribadi yang judes itu tak boleh membuat kita patah hati. Karena setelah keramahan transaksional kita akan menginjak fase kedua, yakni keramahan konteksual. Itulah pelajaran kedua.

Keramahan kontekstual ini menambah modal kita untuk lebih memahami keadaan. Jadi kalau seseorang ramah hanya pada konteksnya memang begitulah lazimnya kita. Karena kalau kita adalah pelayan restoran, cuma ramah itulah yang kita bisa lakukan tak peduli betapa menyebalkan itu pelanggan. Maka menjadi judes setelah restoran bubaran adalah ajang pelampiasan. Biarlah ramah pada konteksnya saja. Jangan menuntut selebihnya, dan ini adalah pelajaran ketiga.

Karena aneka tuntutan itu adalah modal yang baik untuk ngomel pada keadaan. Semakin banyak tuntutan semakin mudah kita uring-uringan. Padahal hanya dengan sedikit uring-uringan itulah kebahagiaan yang banyak di sana menjadi tidak terasa. Belajar tidak mudah uring-uringan itulah pelajaran keempat. Dan barang siapa tidak mudah uring-uringan itulah pihak yang mulai mudah bahagia.

Pihak yang mudah bahagia itu sungguh akan mendapat aneka kemudahan berikutnya. Dari mulai mudah memaklumi, mudah memahami, sampai akhirnya mudah memaafkan. Saya belum ada di level itu, tapi saya pernah berdekatan dengan seseorang di level itu. Rasanya tak ada yang menekan orang ini dan seluruh persoalan cuma menjadi pintu kegembiraan. Jadi tak peduli apakah yang sedang ia dapatkan itu ramah transaksional atau ramah fundamental, yang tak terbayang di matanya selalu cuma kata pertamanya: keramahan. Ia tak peduli apakah yang ia terima adalah pelayanan dengan ramah asli atau ramah palsu, yang ia perhatikan cukup satu kata di depan: pelayanan.

(Prie GS)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com