29 Juli 2013 | 15:15 wib | Asuh

Ajak Anak Shalat Berjamaah

image

 

 

Ramadan adalah saat tepat  bagi orang tua melatih anak shalat, puasa, dan sedekah.

 

SEJAK awal Ramadan beberapa hari lalu, Deva rajin mengaji sore hari di mushala dekat rumah. Bocah kelas II sekolah dasar (SD) ini disamper setiap sore oleh kawan-kawan mainnya untuk berlatih membaca Iqra. Padahal, sebelumnya Deva sering malas berangkat mengaji, walau sang bunda membujuk.

Tak beda jauh dari Rendy. Bocah lelaki penyuka bakso itu antusias mengikuti shalat isya dan tarawih bersama abang dan ayahnya. Di masjid dekat rumah, Rendy shalat setiap hari. Dia tak pernah bolos shalat berjamaah, walau puasa hanya setengah hari. Namun tetap saja, namanya anak-anak, pada awal khusyuk menjalani setiap rakaat saat shalat, tetapi pertengahan hingga akhir Rendy lebih senang bermain-main dengan teman sebaya.

Ramadan memang bulan penuh berkah. Bulan ini dapat dimanfaatkan orang tua melatih anak melakukan berbagai ibadah, seperti shalat, puasa, dan sedekah. Jika dilatih secara intens dan berkala, setelah bulan puasa berlalu, anak akan tetap rajin menjalani ibadah. Sebaliknya, bila tidak serius, bisa saja anak rajin beribadah sebatas pada bulan puasa. Setelah Ramadan berlalu, tingkat ketaatan anak cenderung memudar.

"Sebenarnya ibadah atau ritual mengabdi adalah salah satu dari tiga komponen dasar agama, selain keimanan dan akhlak. Ketiganya penting diajarkan sejak dini. Jadi bisa diharapkan dalam pendidikan selanjutnya, anak dapat terus mempelajari dan mengamalkan secara lebih mudah dan meningkat," ujar Ugung Dwi Ario Wibowo, psikolog anak.

Kesalehan anak tak dapat terbentuk begitu saja secara instan. Semua tergantung pada cara orang tua mendidik anak. Mendidik anak dalam soal ibadah bisa sulit dan berat, tetapi bisa pula mudah dan menyenangkan. Itu tergantung pada cara orang tua melatih dalam suasana yang diinginkan. Cara atau metode bisa bermacam-macam, namun penyampaian disertai contoh dan tak berbelit-belit lebih dapat diterima anak. Anak akan meniru kegiatan ibadah orang tua daripada orang tua hanya berteori tanpa mencontohkan.

Pembelajaran mengenai ibadah bagi anak juga perlu memperhatikan faktor usia. Misalnya, dalam menjalankan shalat, anak usia antara tujuh dan 10 tahun harus lebih tegas diingatkan untuk shalat. Anak yang sudah akil balig berkewajiban melaksanakan shalat. Karena itu orang tua harus menekankan bahwa ibadah itu perlu.

Ugung menuturkan sebaiknya orang tua tak memasang target dan memaksa, sehingga anak pun tak terpaksa dan membenci aktivitas ibadah. Pada usia 10 tahun anak harus dibiasakan melaksanakan ibadah tanpa syarat. "Pemberian metode sanksi baru digunakan seandainya metode pendekatan dari hati ke hati gagal. Usahakan anak nyaman beribadah sambil menjadikan orang tua sebagai model. Bentuk sanksi bertahap sesuai dengan kadar kesalahan. Misalnya, yang teringan dikurangi jatah uang saku hingga yang berat berupa bentuk sanksi sosial atau hukuman fisik, ketika memasuki akil balig," kata dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto itu.

Anak terkadang sulit diajak beribadah, khususnya shalat, karena sibuk bermain. Anda dapat menanamkan tanggung jawab tanpa anak merasa waktu bermain mereka terganggu. Misalnya, saat terdengar azan, jangan langsung menyuruh anak berhenti bermain. Beri pengertian waktu shalat telah tiba, ajak anak berwudu lebih dahulu, lalu melaksanakan kewajiban. Boleh menjanjikan anak bermain lagi setelah shalat. Ketika memasuki masa sekolah, pengaruh guru juga bisa jadi tambahan motivasi eksternal yang memperkuat anak beribadah, meski sekadar ritual sampai anak memasuki masa balig.

"Lingkungan sangat penting dikontrol dalam perkembangan akhlak anak. Lingkungan yang taat beribadah akan menjadi kondisi yang baik bagi perilaku dan aktivitas ibadah anak. Rasulullah bersabda, 'Katakan siapa saja temanmu, maka saya akan tahu siapa kamu.' Artinya, anak kita adalah lingkungannya. Memberikan lingkungan positif akan membantu anak mengembangkan kebiasaan positif," tutur psikolog yang sering menghiasi berbagai media lokal Banyumas itu.

 

Tips

 

Agar Anak Rajin Beribadah

 

1. Jadilah contoh

Orang tua harus menjadi contoh bagi anak-anak. Apabila orang tua meminta anak rajin mengaji, padahal orang tua jarang melakukan, anak akan merasa itu tidak penting dilakukan.

 

2. Perbanyak dialog tentang agama

Ajak anak berbincang tentang agama. Dari hal-hal ringan seperti selalu mensyukuri nikmat Tuhan yang telah diberikan. Saat bercerita, gunakan bahasa yang mudah dimengerti dan jangan terlalu membebani mereka dengan bahasan berat. Jadi anak dapat menangkap dengan baik inti pembicaraan.

 

3. Beri pujian

Anak selalu merasa senang mendapat pujian. Beri mereka pujian jika telah mau dan mampu melaksanakan kewajiban. Itu akan meningkatkan motivasi dan antusiasme anak.

 

4. Jangan memaksa

Bila anak belum mau beribadah sesuai dengan keinginan orang tua, jangan memaksa dan menghakimi. Bisa saja anak belum mengerti dan menangkap dengan jelas maksud ibadah kepada Tuhan.

(Dianingtyas S)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com