15 Agustus 2013 | 15:27 wib | Asuh

Menhadapi Menstruasi Pertama

image

 

Agar tetap terkontrol, ajari anak mencatat tanggal menstruasi.

 

PAGI itu Riri menangis histeris. Sambil mendekap perut, anak gadis yang tahun ini berusia 11 tahun itu tak mau beranjak dari tempat tidur. Kawatir anak kesayangan kesakitan, sang mama sontak berlari ke kamar. Saat ditanya apa yang menyebabkan menangis, dengan jujur Riri menyatakan perutnya sakit dan kemaluannya mengeluarkan darah. ''Riri takut, Ma. Riri sakit apa?'' ucapnya sambil tersedu.

Mendapati kejadian itu, mama Riri pun menarik napas lega. Sambil tersenyum dia menjelaskan pada anak gadisnya bahwa itulah menstruasi pertama. ''<I>Nggak<P> usah takut atau malu. Riri sekarang sudah gadis. Darah yang keluar dari kemaluan itu bukan karena Riri sakit, melainkan karena proses pelepasan dinding rahim. Lebih jelasnya nanti ya. Sekarang mandi dan bersihkan dulu, terus memakai pembalut,'' kata mama Riri lembut.

Pengalaman serupa dialami Mariska, gadis kecil putri bungsu pasangan Adi Baskoro dan Renjani. Meski sebelumnya sudah diberi tahu perihal menstruasi oleh sang mama dan kakak perempuan, bocah perempuan yang naik kelas V SD itu tetap takut melihat darah membasahi celana dalamnya. Namun berkat arahan dan nasihat sang mama dan kakaknya, Mariska pun belajar dan tahu bagaimana memakai pembalut, mencuci, dan menyikapi datang bulan.

Menstruasi pertama bagi anak perempuan sering menakutkan, meski beberapa yang lain menganggapnya menyenangkan. Itu semua tergantung pada bagaimana kita memperlakukan menstruasi. Psikolog yang juga Humas RS Elisabeth Semarang, Probowatie Condronegoro, menuturkan menstruasi pertama atau menarche biasanya terjadi pada usia antara 10 dan 14 tahun. Namun dalam perkembangan, karena faktor gizi, usia, anak mengalami menarche cenderung lebih awal. ''Ada kasus khusus anak usia sembilan tahun sudah menstruasi,'' katanya kepada Cempaka.

Tanda pertama pubertas pada anak perempuan adalah pembesaran payudara (thelarche), yang umumnya terjadi pada usia rata-rata 10 tahun. Itu diawali pembentukan kuncup payudara atau benjolan kecil atau nodul di bawah salah satu atau kedua puting payudara. Benjolan itu dapat terasa nyeri dengan berbagai ukuran pada awalnya. Hal itu biasanya merupakan awal dari laju pertumbuhan. Sekitar enam bulan berikutnya, rambut kemaluan tumbuh (adrenarche), meskipun pada beberapa anak pertumbuhan rambut kemaluan justru menjadi tanda awal pubertas. Kemudian bulu-bulu ketiak pun tumbuh. Beberapa tahun berikutnya, ukuran payudara membesar dan akan terjadi pertumbuhan progresif rambut kemaluan dan genitalia luar, dilanjutkan kemunculan haid pertama.

Menarche didefinisikan sebagai kali pertama menstruasi, yaitu keluarnya cairan darah dari alat kelamin wanita berupa luruhnya lapisan dinding dalam rahim yang mengandung banyak pembuluh darah. Periode awal biasanya terjadi beberapa tahun setelah pertumbuhan rambut kemaluan, pembesaran payudara, dan pertumbuhan yang cepat yang dikenal sebagai growth spurt atau laju pertumbuhan.

Menarche umumnya terjadi pada usia antara 11 dan 14 tahun. Normal terjadi lebih dini pada usia sembilan tahun atau lama pada usia 15 tahun. Siklus menstruasi adalah waktu yang dimulai dari hari pertama muncul haid hingga hari pertama haid berikutnya. Siklus menstruasi yang normal antara 21 dan 35 hari, tetapi kebanyakan anak perempuan mengalami siklus menstruasi antara 25 dan 30 hari. Seorang anak yang kurus atau berat badan kurang karena diet, terlalu banyak latihan, memiliki banyak tekanan dalam hidup, atau justru kelebihan berat badan atau obesitas, akan sulit memprediksi siklus haidnya.

Bagaimana menyiapkan anak perempuan mendapat menstruasi? Probo menyarankan setiap ibu mengajak bicara anak gadisnya secara terbuka dan tanpa kesan menakutkan. Bahkan bila perlu lakukan sambil lalu dan dengan dialog ringan sesuai dengan tingkat pemahaman anak atau dengan gaya bahasa anak. ''Biarkan anak-anak mengungkapkan apa yang dia ketahui. Tidak usah dicela atau berkesan digurui. Biarkan anak-anak merasa nyaman dan tidak ada rasa takut untuk menanyakan berbagai hal langsung pada mama atau ibunya,'' ucap Probo.

Bahkan jadikan ibu sumber informasi pertama bagi anak perempuan untuk mengetahui masalah menstruasi. ''Jangan sampai anak justru mencari tahu dari orang lain,'' kata dia.

Selain mengatakan secara ilmiah atau proses biologis menstruasi, orang tua perlu mengajari anak perempuan mendapatkan pembalut yang sesuai, cara menggunakan, mencuci, membungkus, dan membuang di tempat sampah. Untuk mengenalkan pengertian menstruasi bisa dimulai dengan mengajak anak melihat atau belanja pembalut di toko. Selanjutnya, saat sudah menstruasi temani anak perempuan pergi ke toko membeli pembalut yang sesuai. Penting ditekankan untuk mengganti pembalut setiap maksimal empat jam sekali, setiap kali habis buang air besar/kecil, mengeringkan vagina dengan handuk setiap selesai dicuci, termasuk bagaimana mencuci celana dalam. ''Katakan juga saat menstruasi berarti ada luka di dinding perut sehingga harus dijaga kebersihannya,'' imbuh dia.

Beberapa orang mengalami sindrom pramenstruasi (PMS) beberapa hari sebelum menstruasi dimulai. Gejala umum PMS adalah rasa kembung, payudara sakit, mudah marah, murung, kepala pusing, muncul jerawat, rasa haus bertambah, kedinginan, atau kepanasan. Tidak semua perempuan mengalami itu, namun sebuah riset menunjukkan enam dari 100 perempuan mengalami PMS yang parah yang dapat mengganggu kegiatan sehari-hari. Jika anak perempuan kita mengalami PMS, kita bisa memintanya minum air putih, sayur, dan buah-buahan yang banyak.

Pada saat menstruasi terkadang perempuan mengalami kram perut yang bisa membuat kejang. Kram perut disebabkan oleh darah yang belum mengalir lancar, menumpuk di uterus dan membentuk gumpalan. Uterus merespons dengan berkontraksi untuk mengeluarkan. Tidak ada obat yang benar-benar ampuh untuk mengatasi. Namun orang tua atau ibu bisa berbagi informasi dengan anak perempuan bagaimana mengatasi itu semua. Apakah menggunakan resep tradisional seperti kunir asem, mengonsumsi pil pereda sakit, atau cara lain yang cocok untuk anak.

 

Mengenalkan Haid pada si Upik

 

1. Cari tahu apa yang sudah dia ketahui. Koreksi konsep yang salah. Upayakan Anda dan putri Anda memperoleh informasi yang akurat.

2. Ceritakan pengalaman Anda. Dengan mengingat dan menceritakan pengalaman Anda ketika mendapat haid pertama, Anda bisa memberi putri Anda banyak dukungan emosional yang dibutuhkan.

3. Kenalkan dan tunjukkan cara pemakaian pembalut sesuai dengan kebutuhan anak. Sampaikan pula cara mencuci dan membungkus bekas pembalut.

4. Jelaskan fakta-fakta dengan sederhana. Sesuaikan penjelasan menurut usia dan kesanggupan putri Anda untuk memahami.

5. Anjurkan untuk bersikap sopan dan mengatur cara duduk agar tertutup. Mulailah pula berbicara dengan putri Anda sebelum haid pertama, dan lanjutkan pembicaraan sesuai dengan kebutuhan, bahkan setelah dia mulai haid secara teratur.

 

(esty)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com