04 April 2013 | 13:52 wib | Serambi Prie GS

Tindakan dan Tindakan

JUDUL kolom ini sangat saya sukai, "Tindakan dan Tindakan". Kenapa? Karena biasanya banyak tindakan disertai omelan. Padahal jika energi ngomel itu dialokasikan untuk menambah tindakan, hasilnya tentu lebih baik. Walau, mengomel tapi tetap bertindak tetaplah lebih baik katimbang mengomel tapi tidak bertindak.

Saya sendiri tak bebas dari rasa mengomel itu. Malah kalau dituruti, godaan untuk mengomel itu besar sekali. Sumber omelan rasanya ada di mana-mana. Di jalan, di pekerjaan sampai di rumah sendiri. Di mana-mana rasanya ada kekeliruan. Ada saja pengendara yang serampangan, ada atasan dan bawahan yang menyebalkan, ada anak-anak yang selalu menempatkan barang secara serampangan. Begitu banyak daftarnya karena di mana-mana banyak sekali ditemui kekeliruan.

Banyaknya kekeliruan itu membuat saya terpaku kepadanya hingga lupa pada kekeliruan sendiri. Saya baru sadar, bahwa mengomel tentang seluruh kekeliruan itu ternyata adalah sebuah kekeliruan. Keliru pertama: kita menyangka dengan mengomel yang keliru itu akan berhenti. Nyatanya tidak. Keliru kedua: kita menyangka dengan mengomel keadaan akan menjadi lebih baik. Padahal tidak. Omelan selalu membuat keadaan lebih buruk.

Sungguh, setelah saya amati, omelan ternyata hanya mengurangi tindakan. Siapa saja yang mengomel ternyata cenderung tidak bertindak. Anak saya yang kehilangan alat sekolahnya cenderung ngomel katimbang berpikir menyiapkan tindakan yang harus diambil kalau barang itu benar-benar hilang. Istri saya yang karena pembantu kesiangan sibuk ngomel katimbang langsung mengerjakan apa yang bisa dikerjakan. Saya yang karena sopir telambat datang sibuk uring-uringan katimbang langsung mengeluarkan mobil sendiri, toh itu juga soal yang mudah saya kerjakan.

Kini, setiap ada dorongan mengomel saya segera mengubahnya menjadi tindakan. Agak berat pada awalnya, tapi segera saya yakini, bahwa berat itu hanya selalu awalan. Setelah ia menjadi kebiasaan yang berat itu menjadi biasa-biasa saja. Kalau sopir terlambat saya buka gerbang sendiri dan segera mengerjakan soal-soal yang sebaiknya segera dikerjakan. Hasilnya pekerjaan tetap berjalan dan pak sopir yang karena tak enak hati berubah makin rajin dan makin hati-hati.

Dari hari ke hari makin saya yakini bahwa hanya tindakan yang mengubah keadaan, bukan omelan.  

(Prie GS)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com