02 September 2013 | 14:11 wib | Asuh

Hindarkan Anak dari Kebiasaan Ngedot

image

Ketergantungan anak pada dot atau mengisap jari bisa terbawa sampai besar bila lingkungan keluarga kurang memperhatikan anak.

 

NGEMPONG alias ngedot, termasuk mengisap jempol, adalah kebiasaan buruk yang sulit dilepaskan. Biasanya ngempong yang dalam variasi adalah mempermainkan boneka, ujung bantal, atau selimut bayi rutin dilakukan anak menjelang tidur. Jika tak melakukan kebiasaan itu bisa jadi si anak sulit tidur atau bahkan tak bisa tidur. 

Ryan (3), bocah gembul yang tahun ini duduk di play group, tak bisa lepas dari botol susu. Padahal, dotnya sudah berlubang dan tinggal separuh. Meski sudah beberapa kali diganti dengan dot baru, dia selalu menolak. Setiap kali hendak tidur, dia selalu mencari botol susu kesayangan. Karena itulah setiap kali keluar kota, orang tuanya tak pernah lupa membawakan botol dengan dot berlubang itu.

Lain lagi Neny (4). Dia punya kebiasaan mengisap ibu jari yang sering membuat sang mama malu. Tak peduli di rumah atau di tempat umum, bocah berambut kriwil itu sering mengisap ibu jari. Terlebih setiap kali mengantuk dan hendak tidur. Sampai-sampai kuku ibu jarinya tinggal separuh.

Psikolog Dewi Umaroh SPsi menyatakan refleks mengisap sudah ada sejak bayi lahir. Saat lahir bayi secara refleks mencari puting susu sang ibu, lalu mengisapnya. Kebiasaan menyusu itu biasanya berhenti saat anak berusia antara 18 bulan dan dua tahun. Namun sebagian anak baru berhenti menyusu pada usia lima tahun, Bahkan sebagian lagi berhenti pada usia sembilan atau 10 tahun.

"Ngempong masih tergolong normal dan sering dijumpai karena kebiasaan. Dengan ngempong anak di bawah tiga tahun biasanya merasa lebih tenang dan aman,'' kata pengajar TK dan SD Aisyiah Tegal itu.

Ketergantungan anak pada dot atau mengisap jari, ujar dia, bisa terbawa sampai besar bila lingkungan keluarga kurang memperhatikan anak. Tak sedikit anak terlalu asyik dengan botol yang sudah kucel atau mengisap jari. Ironisnya, orang tua membiarkan dan bahkan senang karena anak tidak rewel. Padahal, dari sisi kesehatan kebiasaan ngempong bisa berefek terhadap pertumbuhan gigi. Juga mengancam kesehatan karena kuman bisa masuk dari dot atau jari yang tidak bersih.

Jika kebutuhan mengisap bayi kurang, yang jadi masalah bayi akan memulai kebiasaan baru, yakni ngempong dan ngedot. Terkadang orang tua risi melihat bayi mengisap jari. Mereka takut mengisap jari menjadi kebiasaan sampai anak besar. Jika sudah begitu tentu sulit sekali menghilangkan. Lagipula jika kebiasaan itu berlanjut, dikhawatirkan menghambat perkembangan gusi dan gigi.

Untuk mengganti air susu ibu (ASI), tak jarang orang tua memberikan susu botol. Namun jika kebutuhan akan susu formula tak terpenuhi, orang tua memilih jalan praktis dengan memberikan dot yang diolesi madu. Cara itu, kata Dewi , tak menyelesaikan masalah. Malah mengundang bahaya karena bisa saja anak yang semula rewel padahal sudah diberi ASI akan diam karena menikmati dot.

Ngedot atau ngempong berbeda dari mengisap jari. Dia menuturkan dot tak begitu berpengaruh terhadap perkembangan gusi dan gigi karena tak sekeras jari. Selain itu, dot adalah benda di luar tubuh bayi sehingga cara melepaskan kebiasaan itu relatif lebih mudah daripada mengisap jari.

Namun orang tua perlu mewaspadi efek samping  ngedot. Karena makin banyak udara masuk ke perut, bayi pun mudah kembung. Dot pun bisa saja jatuh dan penjaga bayi malas mencuci. "Biasanya bila dot jatuh cukup dilap sebentar ke baju pengasuh, lalu dimasukkan kembali ke mulut bayi. Nah, itu bisa jadi masalah tersendiri buat bayi."

Dengan kata lain, baik sarung tangan maupun dot akan menimbulkan masalah baru bila digunakan sebagai pengganti jari.

<B>Berhenti Sendiri<P>

Namun, tutur Dewi, orang tua tak perlu terlalu cemas karena kebiasaan mengisap jari akan berhenti dengan sendirinya. Dengan catatan, si bayi tumbuh di lingkungan menyenangkan. Jadi bayi tak perlu dipaksa berhenti mengisap jari, apalagi sampai menarik jarinya dari mulut. Justru jika dipaksakan, bayi lebih frustrasi dan lebih giat lagi mengisap jari untuk mengatasi frustrasi.

Karea itu dia menyarankan orang tua membiarkan dulu. "Orang tua perlu memberi toleransi agar bayi dapat memenuhi kebutuhan mengisap. Toh kelak kebiasaan itu berhenti sendiri. Lagipula mengisap jari merupakan pertanda bayi sehat dan normal. Juga salah satu kebutuhan bayi sejak lahir sampai usia tiga bulan. Jadi wajar saja."

Bahkan sampai usia tujuh bulan pun, kata dia, kebiasaan mengisap jari masih wajar. Lain bila setelah usia tujuh bulan bayi masih kebiasaan mengisap jari. Orang tua sebaiknya mencari tahu penyebabnya. Mungkin si bayi memerlukan waktu lebih lama untuk menyusu. Jadi perpanjanglah waktu menyusui. Toh bayi tak akan kekenyangan.

Namun bila cara itu tak menyelesaikan masalah, bahkan bayi makin sering mengisap, orang tua harus mencari penyebabnya. Bisa jadi bayi mencari pengganti sesuatu, lalu mendapatkan jempol sebagai benda penghibur. Jika bayi memperoleh rasa nyaman dari jempol, ada kemungkinan mengalami fase jenuh, frustrasi, atau kecapekan.

Namun orang tua tak boleh memaksa bayi langsung menghentikan kebiasaan. Cobalah mengalihkan perhatian bayi ke kegiatan lain yang menarik. Misalnya, ciptakan permainan dengan tangan atau jari. Bisa pula dengan memberikan mainan kesenangan atau ganti dengan mainan khusus untuk digigit. Namun jangan lupa, pastikan mainan itu aman dan bersih.

Bila semua cara itu tak membuahkan hasil, tutur Dewi, orang tua tak perlu terlalu cemas, selama bayi tumbuh-kembang secara normal. Jadi meski memiliki kebiasaan mengisap jari, bayi juga suka bermain dan ceria, tak apa- apa. Namun kalau bayi mulai melamun dan sepanjang hari cuma mengisap jari, barulah orang tua boleh khawatir. Dan, orang tua perlu segera konsultasi dengan dokter ahli untuk mencari penyebab dan menemukan cara untuk mengatasi.

 

Tips

 

Anak Berhenti Ngedot

 

1. Berikan rasa nyaman

Para ibu hamil hendaknya mempersiapkan mental untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan dan tetap memberikan ASI sampai anak usia dua tahun. Itu bisa mendekatkan emosi anak dan orang tua, khususnya ibu.

2. Aktivitas menyenangkan

Bila anak telanjur ngedot sampai besar, ajak bicara pelan-pelan dengan memberi pengertian atau alihkan perhatian dengan mengajak beraktivitas yang menyenangkan sehingga lupa kebiasaan ngedot.

3. Olesi tangan dengan minyak kayu putih

Jika anak senang mengisap ibu jari, olesi jarinya dengan minyak kayu putih atau zat aman lain. Jadi anak tak merasakan keasyikan saat mengisap jari.

4. Temani anak tidur

Alihkan aktivitas tangan si kecil. Tidurlah di sampingnya agar saat mulai ngedot bisa Anda alihkan tangan si kecil dengan memegang atau mengelusnya.

5. Bacakan buku dongeng

Bacakan buku pengantar tidur yang menarik perhatian agar anak tenang. Jika anak merasa aman dan tenang kebiasaan ngedot pun akan berhenti.

6. Beri pengertian

Jika anak sudah beranjak besar, ajaklah berkomunikasi dan beri pengertian atau alasan mengapa ngedot tidak baik dan bisa menganggu kesehatan. Sering tunjukkan dan katakan, teman-temannya sudah tak ngedot lagi. Katakan hanya bayi yang suka ngedot.

7. Perlihatkan contoh

Perlihatkan gambar-gambar gigi rusak akibat sering ngedot.

8. Beri pujian

Dukung dan puji setiap kali anak tidak mengisap jempol. #Akbar Budi

 

(Akbar Budi)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com