26 September 2013 | 15:00 wib | Cermin

Istri Setia, Ibu nan Jelita

image

Dia ingin menjalankan peran dengan baik: menjadi pendamping Gubernur sekaligus ibu yang baik bagi Alam.

MENJADI istri pejabat penting itu repot, tetapi menyenangkan. Repot karena harus menyesuaikan dengan jadwal suami yang padat. Menyenangkan lantaran bisa berinteraksi dengan banyak orang. Itulah yang kini dirasakan Hj Siti Atikoh Suprianti STP MT, istri Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Sejak resmi menjadi first lady di provinsi ini, medio Agustus lalu, mau tak mau dia harus menjalani segala kerepotan dan hal-hal yang menyenangkan itu.
Awal-awal mendampingi Ganjar sebagai gubernur, Atikoh masih kikuk. Maklum, dia harus melakukan banyak penyesuaian dengan peraturan protokoler. Namun hal itu tak sampai membuat dia syok. Pelan-pelan wanita berparas manis yang akrab disapa Mbak Atik itu belajar menjadi pendamping sang gubernur.
"Sebagai istri gubernur, otomatis saya menjabat ketua Dharma Wanita, ketua Tim Penggerak PKK, ketua Dekranasda, dan masih banyak lagi. Learning by doing saja, sambil mengerjakan melakukan observasi, banyak mendengarkan dan bertanya. Kan saya baru kali pertama menjadi istri gubernur. Yang terpenting bekerja keras," kata Atikoh dalam perbincangan hangat dengan <I>Cempaka<P> di rumah dinas Gubernur, Puri Gedeh, Semarang, baru-baru ini.
Namanya belajar, tentu mesti rela menerima sesuatu yang tak menyenangkan. Atikoh, misalnya, pernah suatu kali "diusir" oleh pengawal gubernur. Dia yang sejatinya mendampingi sang suami, malah diminta menjauh. "Ceritanya waktu itu banyak orang ingin melihat Mas Ganjar dari dekat. Karena khawatir ada apa-apa, petugas mengamankan. He-he-he saya termasuk yang diminta menjauh dari Mas Ganjar."
Namun terlepas dari hal-hal tak mengenakkan itu, Atikoh bersyukur atas keterpilihan Ganjar. Sebagai istri, dia akan mendukung penuh dan memberi semangat. Salah satu wujud dukungan itu adalah mengambil cuti di luar tanggungan negara dari tugas sebagai pengawai negeri sipil Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi DKI Jakarta.
"Saya cuti tiga tahun dan selama itu tidak digaji. Dan, setelah berakhir cuti bisa diperpanjang atau saya berhenti menjadi pegawai negeri," kata Atikoh.
Kewajiban mendukung karier suami membuat Atikoh tak berkeberatan ketika harus "melepaskan" karier untuk sementara waktu. Padahal, semestinya dalam waktu dekat dia bisa mengurus kenaikan pangkat PNS menjadi golongan IVA.
"Rekan saya menyarankan tidak cuti dulu, nanti saja setelah kenaikan golongan. Namun saya berpikir, mendampingi Mas Ganjar lebih penting," kata ibu dari anak semata wayang, Muhammad Zinedine Alam Ganjar, itu.
Jika tak ada kegiatan PKK, Dharma Wanita, atau organisasi lain yang membutuhkan kehadirannya, dia selalu mendampingi sang suami dalam acara-acara seremonial. "Saya bukan sekadar tampil. Dengan mendampingi Mas Ganjar, saya bisa mencerap ilmu sekaligus mencatat apa yang saya butuhkan dalam menjalankan tugas sebagai istri gubernur. Saya harus menyinkronkan dengan program yang dicanangkan Mas Ganjar. Program 18."
Salah satu program yang segera dia jalankan adalah memberdayakan desa mandiri dengan fokus pada  perempuan. Dia menyebut, keberadaan perempuan di daerah harus makin diberdayakan, antara lain membekali mereka dengan banyak keterampilan.
"Beda dari perempuan yang tinggal di perkotaan, perempuan desa lebih banyak melakukan kegiatan untuk  menjaga keberlangsungan hidup saja. Belum terpikirkan untuk hal lain," katanya.
Berkait dengan program PKK, Atikoh berjanji mencari formulasi bagaimana memberikan hadiah kepada tim penggerak PKK, terutama yang menjadi ujung tombak. "Sebagai contoh pengurus dasawisma, mereka yang paling aktif menjalankan program-program PKK meski tak ada imbalan. Itu perlu dipikirkan," kata Atikoh.
<B>Selalu Bersyukur<P>
Satu hal yang membantu Atikoh memahami kesibukan Ganjar Pranowo sebagai gubernur adalah latar belakang keluarganya. Dulu, sang ayah, H Supriyadi, tokoh NU di Purbalingga pernah menjadi ketua DPRD Purbalingga dan anggota MPR RI. Adapun sang kakek, KH Hisyam A Karim, adalah pendiri Pesantren Roudlatus Sholikhin Sukawarah, Kalijaran, Karanganyar, Purbalingga.
Dia mengungkapkan Ganjar masuk ke dunia politik juga atas saran dan dukungannya. Bahkan atas pilihan itulah tahun 2004-2006 dia dan sang suami harus hidup terpisah. Atikoh menjalani rutinitas sebagai pegawai Pemerintah Daerah Purbalingga, sedangkan Ganjar menjalani kegiatan di Jakarta. Baru pada 2006 mereka berkumpul kembali. Atikoh juga mengenyam pendidikan magister perencanaan di ITB dan magister kebijakan publik di Tokyo, Jepang. Saat itu sang suami menjadi <I>single parent<P> selama dua tahun.
"Kami saling terbuka. Bahkan saat ada pekerjaan pada akhir pekan, Mas Ganjar sering mengajak saya dan Alam. Jadi tak ada masalah," ujar perempuan kelahiran Purbalingga, 25 November 1971, itu.
Bersahaja dalam menjalani hidup, bersyukur dalam kesederhanaan, itulah "kesepakatan" yang dia buat bersama sang suami dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Atikoh bertemu Ganjar saat kuliah kerja nyata Universitas Gadjah Mada. Saat itu Ganjar yang sudah menyelesaikan skripsi sengaja mengambil mata kuliah kerja nyata paling akhir. "Itulah strategi para cowok; mencari pacar saat KKN sekaligus pendamping wisuda," cerita Atikoh sambil tertawa geli mengingat kenangan masa lalu.
"Mas Ganjar juga terkenal sebagai mak comblang," kata Atikoh terkekeh saat mengenang si mak comblang ternyata jatuh hati pada wanita yang hendak dicomblangi.
Perempuan berhobi membaca itu tak menyangka bisa jatuh hati dan berpacaran dengan Ganjar, aktivis badan eksekutif mahasiswa, mahasiswa pencinta alam, dan Kagama. "Teman-teman Mas Ganjar kaget saat dia memperkenalkan saya sebagai pacar. Mereka melihat saya dan Mas Ganjar sebagai figur berbeda. Mas Ganjar 'gaul', sedangkan saya lebih dikenal sebagai mahasiswi yang aktif di musala kampus," tutur Atikoh, yang menilai Ganjar sebagai suami yang sabar dan tak banyak menuntut.
Atikoh juga menyebut sang suami pandai memasak. Ganjar, kata dia, jago membuat sambal tempe. Bahkan saat lebaran, lelaki berambut perak itu biasa terjun ke dapur untuk memasak ayam panggang. "Hanya lebaran kemarin Mas Ganjar tidak sempat masak karena banyak tamu yang datang."
Meski mendukung sepenuhnya karier suami, Atikoh tak mengabaikan kepentingan putra semata wayang mereka. Alam semula bersekolah di Jakarta, tetapi kini sudah dipindah ke SD H Isriati Semarang. Dia juga menuruti keinginan sang putra untuk tinggal di rumah dinas Puri Gedeh yang dianggap lebih tenang dan nyaman.
Sebagai ibu, Atikoh sangat memahami perasaan sang buah hati yang kehilangan banyak waktu untuk bertemu sang ayah. Pernah suatu ketika Alam menyatakan kangen jalan bertiga lagi seperti dulu. Mendengar hal itu, dia langsung menyampaikan pada Ganjar.
Meski susah, Atikoh berusaha membagi waktu sebaik-baiknya. Dia ingin semua bisa berjalan baik, mendampingi suami tanpa harus melupakan Alam.

(Unik A Mumpuni)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com