04 April 2013 | 13:56 wib | Serambi Prie GS

Sengat Kalajengking

image

 

SAYA pernah mengalami hari yang sungguh elok. Saat besok harus syuting acara TV di luar kota, hari ini wajah saya dihajar virus herpes. Puncak bengkak dan gatal itu diramalkan justru akan terjadi tepat ketika waktu syuting itu terjadi. Dan di mata pula letak penyakit ini. Tambahan berikutnya, pekerjaan itu mustahil ditunda mengingat begitu panjang konsekuensinya. Ia seperti rumah kartu. Runtuh satu, roboh seluruhnya.

Tapi syukurlah syuting itu rampung juga. Bengkak di wajah saya juga sudah mulai melewati masa puncak. Tapi baru saya mau gembira bengkak itu malah mendapat bonus luka karena tergores restluiting kaos saya. Saking hati-hatinya malah ceroboh jatuhnya. Tapi syukurlah pendarahan kecil itu terhenti juga. Sampailah jadwal pulang. Syuting di Bandung pulang ke Semarang tapi harus lewat Surabaya karena memang cuma itu penerbangan yang ada.

Sebetulnya tak mengapa kalau tidak berbarengan dengan merosotnya stamina. Gabungan demam dan kelelahan itu membuat penyakit favorit saya datang: masuk angin. Jadi sambil harus terbang berputar-putar saya harus menahan limbung berjam-jam dari pagi sampai petang. Tapi syukurlah akhirnya saya bisa juga pulang. Lega rasanya. Sakit itu sebetulnya sederhana jika sudah berhadapan dengan istirahat.   

Dan hanya rumah tempat terbaik meredam seluruh lelah. Demam yang menyiksa itu pelan-pelan mereda juga. Lega rasanya. Tapi baru hendak lega sejenak, lepas magrib saya menginjak sesuatu yang langsung menyerang  tanpa pernah saya duga. Sesuatu itu kalajengking.

Tubuh saya langsung serasa terbakar. Ini kalajengking ketiga dalam hidup saya. Kabar buruknya, saya mengerti betul kualitas bisa yang akan membuat tubuh segera demam berhari-hari. Tapi kabar baiknya, saat itu saya hanya demam, tidak mati. Referensi itu menguatkan saya. Jadi sambil mengerang-ngerang kesakitan, hati saya tenang karena sebuah kalkulasi. Syukurlah gangguan tidur hanya pada malam pertama. Malam kedua, tidur saya sudah normal kembali.

Karena umumnya, setidaknya butuh tiga hari untuk menenteramkan racun berbahaya ini. Lalu apa inti catatan ini? Telitilah, di saat berulang kali kesakitan itu saya rasakan, saya malah berulangkali menuliskan kata syukur. Kata itu bukan cuma saya tuliskan, tapi benar benar saya rasakan. 

 

(Prie GS)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com