04 April 2013 | 13:57 wib | Serambi Prie GS

Buah Pertama

image

 

POHON sawo di depan rumah saya mulai remaja dan berbunga. Senang sekali memandang pohon ini menjadi bagian dari rumah sejak mula. Ia saya tanam berbarengan dengan kami membangun rumah. Ketika rumah itu siap ditempati, pohon ini telah meninggi.

Ketika mulai berbunga, ia saya sambut gembira. Saya amati dengan teliti kalau-kalau bunga itu akan tumbuh dan menjadi. Karena tak setiap bunga menjadi buah, dan tak setiap buah akan terus membesar dan menua. Tak jarang bunga-bunga itu gugur sebelum waktu begitu juga dengan putik buah itu. Karenanya ketika ada satu dua yang menunjukkan ketahanan ekstra saya menyambutnya dengan gembira.

Di antara aneka kelopak yang berguguran itu ada beberapa yang bertahan. Tak banyak, hanya sekitar empat buah saja. Saya hafal betul jumlahnya bukan karena ia cuma beberapa melainkan karena setiap kali saya mengamatinya. Buah yang cuma bertahan empat biji ini saya amati setiap kali. Saya semprot dari gangguan

hama dan saya lindungi dari tangan iseng anak- anak.

Target saya jelas, saya ingin memanen buah ini untuk kali pertama. Ini pasti bukan sekadar sawo. Ini adalah sejarah. Tapi seperti lazimnya sejarah, ia sungguh soal yang tak mudah. Rasanya lama nian menunggu buah ini

matang. Membesar iya. Tapi setiap kali ia saya pijit masih keras belaka. Saya ingin buah-buah itu matang di pohon agar sempurna mutu kematangannya. Maka memijit hampir setiap kali adalah pekerjaan saya setiap melewati pohon ini. Tapi melulu buah yang keras itulah yang saya dapati.

Sampai suatu hari kami kedatangan saudara yang mengajak putri kecilnya ke rumah kami. Setelah hilir-mudik kesana-kemari sampailah ibu dan anak ini ke pohon sawo kami. Mereka sungguh takjub, betapa sependek itu pohonnya, tapi sudah sebesar itu buahnya. Saya bangga dibuatnya. Saya pun memamerkan sawo-sawo itu dengan jumawa sampai gadis kecil itu merasa leluasa memijit-mijit sawo kami dan akhirnya kaget sendiri. "Matang," teriaknya.

Saya sebetulnya juga kaget tapi pura-pura tenang. Sungguh, kematangan itulah yang saya tunggu lama. Tapi gadis inilah pihak pertama yang mengetahuinya dan tak elok rasanya kalau bukan ia pula yang memanennya. Matanya, meskipun takut-takut  tapi mengharap dan dengan pura-pura gagah saya berkata: "Ambil nak. Petiklah. Itu untukmu."

Berat benar mengucapkan kata-kata itu. Cuma karena saya pembicara terlatih saja sehingga gaya saya tampak bijaksana. Begitulah memang rezeki. Ada yang menanam dan ada yang memanen. Keduanya tak harus pihak yang sama.

 

(Prie GS)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com