04 April 2013 | 14:03 wib | Cermin

Srikandi dari Lereng Sindoro

image
cmi

JALAN menuju Desa Kayugiyang, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo terus menanjak. Makin ke atas kondisi jalan kian rusak. Maklum, sebagian jalan masih berupa makadam alias tatanan batu. Udara di desa yang berada persis di kaki Gunung Sindoro itu cukup dingin. Hanya dengan sedikit mendongakkan kepala, puncak gunung akan terlihat jelas. Kabut tebal sesekali menyapu rumah-rumah warga.

Sehari-hari Wilda Inayah bertugas sebagai bidan desa di sana. Sulitnya medan dan jauhnya lokasi tak menyurutkan semangat Ahli Madya Kebidanan ini menjalani kewajibannya. Ia tetap bersemangat mendatangi tempat-tempat jauh, mengulurkan tangan kepada warga yang membutuhkan bantuannya. Dan jerih payah perempuan 37 tahun itu seolah terbayar ketika ia beroleh anugerah sebagai bidan terbaik ketiga dalam ajang Srikandi Award 2012. Wilda berhasil menyingkirkan lebih dari 500 bidan lain dari penjuru Indonesia.

"Dari 500 lebih peserta yang ikut, dikerucutkan menjadi 250, 50, 20 bidan dan terakhir sembilan finalis. Alhamdulillah saya bisa menyabet peringkat ketiga se-Indonesia," tutur Wilda ketika ditemui Cempaka di rumah dinasnya.

Selain kegigihan tugas di pedesaan, penghargaan diberikan terkait kreatifitasnya dalam mengolah makanan lokal menjadi sumber gizi balita. Sumber gizi itu didapatkan dari sayur dan bebuahan yang ditanam warga. Ikhtiar ini ia lakukan berangkat dari keprihatinan terhadap balita yang mengalami kekurangan gizi. Pada awal masa tugas di Desa Kayugiyang tahun 1999, Wilda menemukan sedikitnya 23 balita mengalami kekurangan gizi dan satu balita gizi buruk. Tentu fakta ini mengejutkan, mengingat Desa Kayugiyang melimpah oleh hasil pertanian.

"Anak-anak mengalami gizi kurang dan gizi buruk akibat rendahnya kesadaran orang tua terhadap asupan gizi. Mereka terbiasa hanya diberi nasi kerupuk atau makanan instan," ucapnya.

 

Melatih Kader PKK

Mendapati kenyataan itu, ibu dari Syifa Khoirunnisa (16) dan Aryan Ma'ruf Al Haqeem (3) ini, melakukan terobosan dengan melatih kader PKK dan Posyandu untuk mengolah sayuran, singkong, kedelai dan kacang hijau menjadi tepung. Tepung kaya gizi itu dijadikan bahan dasar pembuatan aneka makanan tambahan untuk balita selain air susu ibu. 

Menu makanan tambahan yang berhasil dibuat, kata Wilda antara lain: bolu kukus dan puding ubi ungu yang kaya protein, kue lapis kacang hijau, kue sakura, susu, jenang singkong kedelai, onde-onde ketela rambat, wingko babad, mendut ketela, cucur jagung serta karamel wortel.

"Sejak makanan tambahan itu dikonsumsi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, kini tidak ada lagi anak-anak yang mengalami gizi kurang maupun buruk. Makanan bergizi yang dikreasikan dalam berbagai bentuk dan rasa itu disukai anak-anak dan ibu-ibu," ujar Wilda.

Rupanya kreasi dalam menciptakan makanan tambahan yang penuh gizi, berhasil memikat dewan juri. Untuk memilihnya meraup juara III kategori bidan yang punya inisiatif melakukan pemberdayaan ekonomi dan pangan lokal yang penuh gizi.

Sebagai bidan desa, istri Farid Ma'ruf (40) ini, harus tinggal di desa setempat. Selain memeriksa perempuan hamil, dan menolong persalinan, ia getol membangkitkan kesadaran warga terhadap pentingnya kesehatan. Alumnus Stikes Aisyiyah Yogyakarta dan SPK Pemprov Jawa Tengah di Wonosobo ini juga menggelar program kelas ibu hamil (ante natal class). Dalam kelas ini diajarkan cara senam ibu hamil, perawatan kehamilan, nifas dan persalinan, serta perawatan bayi.

(Muharno Zarka)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com