04 April 2013 | 14:09 wib | Cermin

Pemahaman Multikulturalisme Itu Penting

image
Foto: Sanjaya

 

PADA suatu masa, Prof Dr Ir Yohanes Budi Widianarko MSc pernah menyembunyikan asal-usulnya. Ya, pernah Rektor Unika Soegijapranata ini mengingkari fakta bahwa dia adalah keturunan Tionghoa. Dia bahkan membenci orang-orang yang seetnis dengannya. Sedemikian benci, hingga terbersit keinginan mencari pasangan hidup dari kalangan non-Tionghoa. 

Sikap Budi Widianarko tak lepas dari pengaruh arus besar politik di Indonesia. Dia lahir 23 November 1963 dan tumbuh pada peralihan rezim dari Orde Lama ke Orde Baru. Orde Baru, seperti kita tahu, alergi dengan semua yang bertalian dengan China. Mereka memberangus produk kebudayaan dan membatasi ruang gerak warga keturunan Tionghoa.

''Pada masa itu, keberagaman ditindas. Akibatnya, warga keturunan seperti saya menjadi trauma,'' kata Budi, saat ditemui Cempaka di rumah peristirahatan di kawasan Bandungan, Kabupaten Semarang, Sabtu (26/1). 

Pengasingan terhadap etnis Tionghoa dipelihara Orde Baru sepanjang masa kekuasaannya. Hingga Mei 1998, terjadi huru-hara di beberapa kota. Dalam situasi kacau, warga Tionghoa kembali jadi sasaran amuk. Aset milik warga keturunan Tionghoa dijarah dan dibakar massa. Menyedihkan, banyak perempuan Tionghoa diperkosa. Namun justru dari peristiwa kelam itulah Budi menemukan kesadaran akan identitas dirinya sebagai keturunan Tionghoa.

Gerakan reformasi membawa angin segar perubahan, tak terkecuali bagi warga keturunan Tionghoa. Hak politik dan kultural yang selama ini hilang dipulihkan. Bahasa Mandarin yang dulu dilarang, sejak itu kembali digunakan. Ragam seni budaya Tionghoa, seperti barongsai dan wayang potehi, digelar kembali di tempat umum. Tahun baru China atau Imlek dijadikan hari libur nasional. Era hiruk-pikuk itu membuat Budi menemukan kembali jati dirinya yang hilang.

''Sebagai keturunan Tionghoa, saat itu saya sering diajak para senior melakukan sesuatu. Saya terlibat banyak diskusi tentang etnis China serta menulis di berbagai media tentang betapa penting keberagaman."

Dengan lantang Budi meneriakkan pendapat ihwal etnis Tionghoa yang berhak atas profesi apa pun di bumi Indonesia. Bukan hanya sebagai pedagang atau pengusaha, melainkan juga berhak menjadi pengawai negeri sipil, guru, dokter, wartawan, polisi, dan tentara.

Sekarang, kata Budi, semua sudah berubah. Warga keturunan Tionghoa sudah beroleh kesetaraan hak. Mereka bebas berekspresi dan memilih profesi yang disuka. Sebagai contoh, di dunia hiburan ada Agnes Monica, Deddy Corbuzier, Delon. Di dunia politik ada Kwik Kian Gie, Alvin Lie, dan yang terbaru Ahok.

''Keturunan Tionghoa sudah tumbuh kesadaran menjadi warga negara Indonesia. Etnisitas bukan lagi masalah,'' kata ayah Arya Pratama Widianarko (23) dan Erlangga Dwitama Widianarko (21) itu.

Lelaki berkumis tipis itu mengaku bangga menjadi orang Indonesia. Kebanggaan itu dia buktikan saat menempuh pendidikan magister di Belanda. Selepas kuliah, Budi beroleh tawaran pekerjaan menjanjikan di Belanda. Namun dia beserta keluarga memilih kembali ke Indonesia. Begitu pun saat krisis moneter 1997-1998, Budi yang baru menuntaskan program doktoral di Belanda kembali ke Indonesia.

''Seorang rekan di Belanda, yang mengetahui kondisi Indonesia saat itu, berkata jika saya membutuhkan bantuan, silakan mengontak dia. Namun kecintaan saya pada Indonesia membuat saya kembali ke sini,'' kata penulis buku Mainstreaming Environmental Ethics dan Ecology and Social Justice Environmental Toxicology in South East Asia itu.

<B>Mitos<P>

Meski situasi politik Indonesia telah berubah, gambaran negatif tentang masyarakat Tionghoa tak sepenuhnya hilang. Sebagian orang masih menganggap orang Tionghoa sebagai kaum kaya raya yang mencari nafkah di sektor bisnis atau usaha. Mereka juga dicitrakan sebagai tidak nasionalis, pelit, dan asosial.

"Mitos-mitos seperti itu akhirnya justru membatasi ruang gerak warga keturunan Tionghoa. Saya bersyukur sentimen terhadap warga keturunan Tionghoa tak terlampau kuat di bidang yang kini saya geluti, yakni lapangan pendidikan dan ilmu pengetahuan."

Saat ini, kata Budi, pemahaman tentang multikulturalisme penting ditanamkan kepada anak-anak Indonesia. Selain lewat pendidikan, bisa dilakukan melalui pola pengasuhan dalam keluarga.

"Saya ingat waktu kecil sering dimarahi Ayah kalau mengadu usai berkelahi dengan anak-anak di kampung. Ayah menjelaskan, saya juga anak kampung, tidak berbeda dari mereka yang berkelahi dengan saya," katanya.

Kesadaran multikulturalisme yang ditumbuhkan di keluarganya, ujar dia, tertanam sampai saat ini. Dan, dia melanjutkan dalam pola pengasuhan anak-anaknya untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dan wawasan kebangsaan.

“Bagaimana caranya? Saya sekolahkan anak-anak di sekolah negeri yang siswanya relatif lebih plural, minimal SD dan SMP. Setelah kuliah, mereka baru saya bebaskan memilih perguruan tinggi,” kata anggota Board of Directors Society for Environmental Toxicology and Chemistry Asia Pacific itu.

Kini, setelah bertahun-tahun, Budi merasa semua yang pernah dia hindari justru datang menghampiri. Dia menikah dengan teman kuliah di Fakultas Peternakan Undip, Imevianti Lim, yang keturunan Tionghoa. Budi juga acap terlibat aktivitas bernuansa China. Hidup memang tak bisa sepenuhnya ditebak, pun ditolak. 

 

(Unik A Mumpuni)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com