04 April 2013 | 16:55 wib | Cermin

Seni adalah Alat Persatuan

image
Foto: cmi

 

SEPAGI itu kompleks Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) di Solo terlihat lengang. Beranjak siang, datang beberapa orang yang naga-naganya hendak latihan. Benar, mereka mempersiapkan diri dan memutar musik pengiring keras-keras. Mereka adalah anggota kelompok Solo Dance Studio (SDS). 

Di kompleks nan teduh itu mereka mematangkan tarian "Fayer-fayer (Api-api)". Tarian yang dibawakan enam orang itu diambil dari cerita Ramayana. Dikisahkan, Shinta diculik sekian lama oleh Rahwana. Setelah kembali ke istana, Shinta ditantang Rama melakukan prosesi obong, yakni menceburkan diri ke bara api. Jika terbakar, Shinta telah hilang kesucian. Jika tidak, dia perempuan yang dapat dipercaya. Latihan berlangsung serius, karena awak SDS berencana membawakan tarian itu di Solo, Jakarta, Kamboja, Thailand, dan Vietnam. 

Pentas di luar negeri bukan pengalaman pertama bagi awak SDS. Kelompok yang dibentuk penari kondang, Eko Supriyanto, pada 1996 itu kerap diundang menari di mancanegara. Tentu itu tak lepas dari jejaring yang dia bangun. Ya, sebagai penari, lelaki yang akrab disapa Eko Pece itu punya lingkup pergaulan dan wawasan luas. Dia telah berkali-kali unjuk kebolehan di luar negeri. Baru-baru ini, misalnya, Eko berkolaborasi dengan penari Jerman mementaskan "Solid State" di Belgia. Untuk mempersiapkan proyek yang disponsori Stuk Teater Belgia Flamist Government itu, dia berlatih intensif empat bulan di Indonesia dan dua bulan di Belgia. 

Tak sekadar menari, Eko juga kreator produktif. Selain "Fayer-fayer" dan "Solid States", dia menciptakan karya tari kontemporer bertajuk "Prang Buta", "Possible Dewa Ruci", dan "Ungratifying Life". Eko begitu lebur dan cinta mati pada seni tari. Dia adalah tarian itu sendiri.

 

Dibimbing Kakek

Lelaki kelahiran Banjarmasin, 26 November 1970, itu mulai menari sejak berumur tujuh tahun. Dia menari di bawah bimbingan sang kakek, Djojoprayitno, yang merupakan penari wayang orang Sriwedari, Solo. Selepas SMA, Eko memilih memperdalam kemampuan tari di Jurusan Seni Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Di lembaga pendidikan itulah dia mengenal ragam tari kontemporer. Lantaran berbakat, Eko berkesempatan mengikuti Indonesian Dance Festival yang kemudian mengantarkan dia ke ajang American Dance Festival di Durham dan Asia Pacific Performance Exchanges di Los Angeles 1997. Dia juga berkesempatan belajar di Departement World Arts and Culture di University of California Los Angeles (UCLA). Suatu ketika dia beroleh tawaran dari agen pencari bakat untuk ikut audisi penari latar diva pop Madonna. Kesempatan itu tak dia sia-siakan. Eko termasuk satu dari 11 penari terpilih, menyisihkan kurang-lebih 6.000 peserta lain. Bersama Madonna, dia tur panjang. Selama sembilan bulan, lelaki yang gemar menggelung rambut panjangnya itu menyelesaikan 268 kali pertunjukan.

Setelah menyelesaikan studi di Negeri Paman Sam, Eko kembali ke Solo. Dia tetap menggeluti dunia yang telah membesarkan namanya itu. Tak sekadar mengembangkan kesenian, Eko terpanggil membagikan ilmunya. Dia menjadi dosen koreografi di almamater tercinta, ISI Surakarta. Di luar kampus, Eko aktif mengikuti festival dan workshop tari.

Nama besar Eko di dunia tari membawa berkah. Dia sering beroleh tawaran menari secara profesional, seperti untuk acara Indonesia Mencari Bakat yang ditayangkan sebuah stasiun televisi nasional. Pada acara itu, Eko menjadi penari tamu yang berkolaborasi dengan peserta. 

Sekian lama menggeluti dunia seni, Eko menemukan kesadaran betapa kesenian merupakan potensi besar yang bisa dijadikan kebanggaan sekaligus alat pemersatu bangsa. Dan, ayah dua putri itu gembira melihat anak-anak muda saat ini mulai menemukan kesadaran tersebut.

 

(Dalhar Ahmad)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com