02 Maret 2015 | 14:15 wib | Asuh

Waspadai Racun Idola pada Anak-anak

image

 

 

Kesukaan seseorang pada idola bisa menimbulkan obsesi dan fanatisme berlebihan. Bahkan bisa mengaburkan identitas diri sendiri. Waspadi sikap anak yang berperilaku negatif dan membahayakan itu. 

 

Setiap anak biasanya memiliki tokoh idola. Bisa orang tua, artis terkenal, atau superhero dalam kartun khayalan. Namun tak semua yang diidolakan bertabiat baik.

Seorang ibu di sebuah kota di Jawa Tengah heran atas perubahan sang anak. Si anak, Sifa (13 tahun), periang dan pandai bergaul. Belakangan sifat Sifa berubah. Prestasi di sekolahpun menurun.

Beberapa hari sang ibu memperhatikan tingkah polah anak kesayangan itu. Saat suatu hari Sifa sekolah, sang ibu membersihkan kamar tidurnya dan mendapati  buku harian Sifa di sudut ruangan. Salah satu kalimat Sifa berbunyi, "Pengen deh rasanya bunuh diri, pengen tau reaksi kalian gimana? Pengen tau siapa aja yang ngerasa kehilangan q? Siapa juga yang nangis ngeliat q kritis di ruang ICU yang penuh tabung oksigen dan infusan, saat q mati nanti, apa ada yang rela meluangkan waktu demi natap q untuk terakhir kalinya? Cukup! Q sadar, dunia ini hanya dipenuhi penderitaan kak Jang Ja Yun, q berjanji akan mengikuti jejakmu."

Sang ibu kaget dan terpukul. Terlebih setelah tahu melalui internet, Jang Ju Yun adalah artis Korea favorit Sifa, yang bunuh diri pada 2009. Ya, Sifa ternyata terobsesi pada artis yang naik daun itu.

Demam artis Korea memang melanda remaja Indonesia sejak lama. Penampilan modis, bergaya, dan penuh warna memang khas favorit remaja masa kini. Namun Sifa mengidolakan tokoh yang salah.

Psikolog asal Purwokerto, Ugung Dwi Ario Wibowo, menuturkan kata "idola" sangat familiar dalam realitas sosial berkait dengan faktor yang memengaruhi pikiran dan perilaku seseorang. Dalam kamus ilmiah, idola diartikan sebagai sembahan, pujaan, dan sanjungan. Dari pengertian itu, idola digambarkan sebagai aktualisasi diri untuk memuja dan meniru objek tertentu. Pemujaan hadir bukan semata-mata karena keinginan seseorang. Terkadang pemujaan pada idola terbentuk karena gejala massal yang disebut tren. ''Tak mengherankan banyak remaja memiliki idola yang secara tak langsung menstimulus motivasi atau sikap yang baik," kata Ugung.

Dia mengemukakan secara psikologis anak usia tujuh-12 tahun berada pada fase <I>concrete operational<P>. Anak dengan mudah terpengaruh oleh apa yang mereka lihat. Itu kemudian bisa menjadi panduan bagi anak dalam bersikap dan berperilaku. Pada periode itu, perkembangan kognitif anak makin baik sehingga mudah mengingat dan mencontoh berbagai hal menarik serta berperilaku seperti dari apa yang mereka lihat. Seperti tokoh idola anak, mereka cenderung meniru mereka.

Pada fase pertumbuhan, anak dan remaja sering mengidolakan sesuatu atau seseorang, misalnya tokoh film, tokoh kartun, atau selebritas. Tak jarang dari pengidolaan itu anak terobsesi pada tokoh kesayangan dan mengidolakan secara berlebihan. Sebenarnya tak masalah jika yang diidolakan berdampak positif. Sebaliknya, kesukaan pada idola bisa menimbulkan obsesi dan fanatisme berlebihan. Bahkan mengaburkan identitas diri sendiri.

"Ada beberapa penyebab anak obsesif terhadap idola, antara lain kebiasaan sehari-hari, kurang pengawasan, ketidakmampuan orang tua menyediakan diri sebagai model. Faktor itu menyebabkan anak dan remaja mencari tokoh di luar keluarga dan lingkungan primer untuk dijadikan pujaan hati atau idola. Ada pula tren yang selalu berkembang," kata bapak dari tiga putri itu.

Sebagian besar tren mengarahkan dan memperkuat minat seorang anak untuk mengidolakan, bahkan fanatik terhadap idola. Melihat seseorang dielu-elukan membuat diri anak dan remaja mencari tahu tentang orang itu. Bila dia terbawa aura dan euforia pemujaan tokoh itu, dengan sangat mudah mengidolakan dan meniru sang tokoh secara mentah-mentah.

Dengan pengarahan dan pendampingan yang baik dari orang tua dan lingkungan, sangat mungkin anak memperoleh energi positif. Misalnya, dengan film atau lagu idola, si anak bersemangat belajar. Terlebih jika yang diidolakan memiliki beragam berprestasi, baik pendidikan maupun di dunia keartisan. 

 

Tips

Tidak Asal Meniru

Orang tua perlu memperhatikan beberapa hal untuk meminimalkan dampak negatif dari fanatisme atau obsesi anak terhadap sang idola.

1. Cari informasi 

Sebaiknya orang tua mencari tahu sosok idola anak. Jadio tak sekedar mengabulkan keinginan anak untuk membelikan pernak-pernik tokoh idola itu. Jika orang tua mengerti karakter sang tokoh idola anak, hubungan antara anak dan orang tua pun bisa makin akrab.

2. Kenali karakter

Pastikan karakter sang idola dapat memberi contoh yang baik bagi anak. Kalau ada karakter kurang baik, orang tua harus memberikan penjelasan mengenai hal itu.

3. Berpedoman pada nilai sosial

Jelaskan pada anak, dalam hidup selalu ada aturan yang baik dan kurang baik di mata agama, norma, dan budaya di masyarakat.

4. Sesuaikan dengan usia

Anak yang mengidolakan sosok lebih dewasa cenderung meniru dari segi apa pun, baik dari cara berbusana maupun bicara. Beri penjelasan, perbedaan umur menentukan perbedaan cara berpakaian atau berbicara agar anak tetap tumbuh sesuai dengan usia.

5. Jangan fanatik

Wajar jika anak memiliki idola dan ingin mengikuti apa saja yang diperbuat sang idola. Namun bukan berarti semua hal dari sang idola harus ditiru. Beri penekanan agar anak tak terlalu fanatik kepada idola.

 

(dianingtyas)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com