06 Januari 2016 | 19:15 wib | Prospek

Laku Keras Bisnis Batu Hias

image

Pesona batu alami menginpirasi Nur Hadi menjalankan usaha mengolah  batu hias. Nilai jual batu dilihat dari bentuk batu. 

 

KECINTAAN masyarakat akan keindahan batu alami sepertinya tak pernah habis. Setelah demam akik, kini banyak orang tertarik mengoleksi batu hias.  Jika batu akik lebih banyak dipakai untuk perhiasan, batu hias alami dipakai sebagai  hiasan rumah atau taman. 

Salah satu pengusaha yang melirik potensi bisnis batu hias adalah  Nur Hadi. Pria berusia 34 tahun ini sudah beberapa tahun belakangan berburu batu alami  dan mengolahnya menjadi batu hias.  Menurut pria asal Desa Lamuk Kecamatan Kaliwiro Kabupaten Wonosobo ini, bahan pembuatan batu hias nyaris sama dengan batu yang digunakan untuk memproduksi batu akik.  

Desa Lamuk sendiri termasuk penghasil batu berkarakter unik dan langka. Desa ini berbatasan dengan wilayah Sadang yang masuk Kabupaten Kebumen itu, temasuk daerah aliran sungai Luk Ulo. Selama ini sungai Luk Ulo merupakan sungai yang populer dengan populasi batu-batu unik untuk membuat akik. 

Sebelum menekuni produksi batu hias, Nur Hadi bersama teman-teman sekampungnya, beberapa tahun lalu, terlebih dahulu memproduksi batu akik. Batu akik asal Desa Lamuk dikenal punya ciri khas berbentuk hiasan batik dengan aneka warna. Tapi lantaran pamor akik mulai redup, pria bertubuh gempal itu, mulai merambah bisnis  baru berupa produkis batu hias. Bahan-bahan batu hias didapat di sungai Luk Ulo maupun di lahan persawahan dan tegalan milik warga setempat.

Bahan batu hias tersebut sebelumnya banyak dihancurkan atau dipotong kecil-kecil untuk disulap jadi kerajinan batu akik. Namun kini batu-batu yang punya warna dan bentuk unik di permak manjadi kerajinan batu hias. Kerajinan batu hias tersebut, dikatakan Nur Hadi, banyak dibeli penggemar untuk ditaruh di taman depan rumah atau hiasan interior di dalam rumah. Selain itu, banyak pula ditempatkan di taman-taman kota atau di taman perkantoran pemerintah maupun swasta.

Bentuk dan ukuran batu dibiarkan alami. Namun, justru dari bentuk dan ukuran alami itulah, kadang terdapat batu yang berbentuk unik dan langka. Seperti mirip kendi, cobek penguin, patung dan bentuk hewan lainnya.  "Bentuk unik dari batu dan langka tersebut yang menjadikan batu hias buatan warga Lamuk banyak digemari dan dibeli orang,'' ujar Nur Hadi ketika ditemui di sela-sela pameran batu hias di Wonosobo belum lama ini. 

 

Ragam Batu

Sebelum dipasarkan, batu hias tersebut diproses terlebih dulu. Batu dipoles sesuai bentuk asli batu tanpa pahatan atau  dibentuk seperti dalam kerajinan seni rupa kayu atau batu lainnya. Jenis batu yang dihias meliputi batu jesper, nevrit, dendeng, kalsidon, bandar besi dan basal. Jenis batu punya keunikan tersendiri setelah dihias. Sebab, ada batu yang begambar batik warna-warni, batu berwarna abu-abu, hijau lumut, putih, hitam, coklat dan kuning.

Batu bahan hiasan itu biasa tertanam dalam areal persawahan atau sungai. Perajin harus mengambil batu tersebut dalam tanah yang kadang cukup dalam dengan cara mengeduk tanah di atasnya. Batu kadang hanya kelihatan menyembul atau menggunduk dalam tanah. Setelah dikeruk tanahnya batu baru kelihatan bentuk unik keseluruhannya. Jika batu punya bentuk unik lalu diambil untuk dipoles.

Setelah berhasil diambil dari benaman tanah di sawah atau timbunan pasir di sungai, batu lalu dibersihkan untuk selanjutnya diusung ke rumah masing-masing perajin hiasan batu. Di bengkel produksinya batu dihaluskan menggunakan gerenda atau amplas kayu. Semakin lama pengamplasan warna batu bisa semakin unik dan langka. Batu jenis ini biasanya banyak diburu penggemar meski dengan tarif tinggi. Karena jenis batu tersebut tidak bisa didapat di sembarang tempat dan tidak mudah ditemukan.

Namun demikian ada pula batu yang tidak bisa digosok karena tekturnya kasar dan tidak halus. Jenis batu ini tak kalah unik karena terdapat patahan-patahan dengan warna yang berbeda-beda. Batu ini biasnya bentuknya menyerupai susunan candi. 

"Jika batu bertingkat dan berbentuh patahan-patahan akan dibiarkan asli, cukup dicuci dengan air setelah didapat dari sawah. Namun jika menginginkan lebih bersih dan mengkilap, bisa diplitur,'' kata Nur Hadi.

Penggarapan batu hias ini, tambahnya, paling tidak membutuhkan waktu dua hari. Akan tetapi lamanya waktu juga tergantung dari besar kecil dan bentuk batu. Jika batu  ukuran besar dan bentuknya rumit tentu butuh waktu lebih lama. Batu ukuran kecil dan bentuknya biasa dihargai Rp 300 ribu. Sedang batu ukuran besar dan mempunyai bentuk yang langka dan unik bisa sampai seharga Rp 5 juta lebih. 

"Harga tergantung ukuran dan rupa,'' tandas dia. 

Perajin batu hias akan merasakan hasil kerja kerasnya saat karyanya dipamerkan. Biasanya melalui berbagai pameran batu hias maupun batu akik, karya unik dan langka ini, akan laku cepat. Selain membeli di arena pameran, tidak sedikit, penggemar yang memburu batu hias kesukaannya ke rumah produksi di Lamuk Kaliwiro Wonosobo. Hanya saja untuk sampai ke lokasi, membutuhkan perjuangan yang berat karena kondisi jalan yang rusak dan letaknya jauh dari pusat kota Wonosobo. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(muharno zarka)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com