29 Januari 2016 | 11:17 wib | Prospek

Aliran Rejeki Topeng & Patung Koran Bekas

image

 

 

 

Koran bekas yang biasa dijual kiloan oleh Suryadi diolah menjadi topeng dan patung. Harga jual tergantung ukuran.

 

Apa yang terpikir dalam benak Anda saat mendapati tumpukan koran bekas? Menjual ke tukang rosok, barangkali. Tapi tidak demikian yang dilakukan Suryadi (49 tahun). Bagi pria yang tinggal di Sidoharjo RT 3 RW 4 Kelurahan Kejajar Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo itu, koran bekas adalah bahan baku yang bisa diolah menjadi berbagai karya seni.  Pria yang membiarkan rambutnya memanjang itu mendaur ulang koran bekas untuk dibuat topeng dan patung. 

Ditemui Cempaka di lantai dua di rumahnya yang tidak begitu luas, Suryadi tengah sibuk menyelesaikan beberapa topeng kertas. Di ruangan itu terlihat banyak jenis topeng buatannya yang sudah jadi dan siap dipasarkan. Sebagian topeng masih setengah jadi, belum dicat dan difinishing. Beberapa jenis topeng yang dibuat antara lain topeng dayak, kubro, jatilan, cakil dan jenis lainnya yang biasa dipakai penari kuda kepang. Di ruangan itu juga terlihat patung-patung mini yang berbentuk orang rimba. ''Kalau topeng mini ini dijual untuk mainan anak-anak,'' kata Suryadi yang akrab disapa Pak Sur kepada Cempaka.

Topeng hasil kreasi ayah dua putra itu, setelah jadi lalu dipasarkan di tempat-tempat wisata, seperti di Dataran Tinggi Dieng, Candi Borobudur maupun di tempat-tempat wisata di wilayah Yogyakarta. "Khusus di Dieng kadang saya memasarkan topeng dan patung sendiri. Tapi jika ke Magelang dan Yogyakarta dipasarkan orang lain. Mereka datang sendiri ke rumah mengambil topeng dan patung buatan saya", katanya kepada Cempaka.

Dia menjual topeng berbagai jenis dan bentuk seharga antara Rp 200.000 sampai Rp 300.000. Sedang untuk patung anak rimba karena ukurannya kecil dibandrol Rp 50.000 hingga Rp 100.000. "Harga juga tergantung besar-kecilnya ukuran topeng dan patung", ucapnya.

Sementara itu, tarif pembuatan lukisan dinding dan taman Rp 150.000 permeter. Harga tersebut hanya terhitung tenaga sedang materian taman atau bahan lukisan dari pemesan. Dia kerap melukis dan membuat taman di hotel, kantor atau rumah pribadi. Pak Sur mengaku mahir membikin topeng, patung, melukis dan mendesain taman tumbuh secara alamiah dan belajar otodidak. Karena dirinya selama ini tidak pernah menempuh sedikit pun pendidikan di bidang seni lukis maupun seni kriya.

Suami dari seorang perempuan asal Magelang yang juga menguasai seni anyaman bambu itu, sangat bersyukur punya ketrampilan di bidang seni. Karena dari keahliannya itu ternyata bisa mendatangngkan rezeki dan menjadi penopang ekonomi keluarganya.

 

Proses Produksi

Menurut Pak Sur, topeng dan patung hasil kreasi tangan trampilnya, dibuat dari bahan kertas koran bekas bukan dari bahan kayu atau bahan lainnya seperti yang banyak dibuat seniman lain. Kertas koran bekas, tuturnya, sebelum dibikin topeng dan patung, terlebih dulu direndam dalam air agar mudah dihancurkan. Kertas koran yang sudah basah itu lalu dilembutkan dengan cara dibebek atau diblender hingga menjadi bubur.

Bubur kertas koran tersebut seterusnya dibentuk atau dicetak pada tempat cetakan yang sudah dibuat seperti model topeng. "Khusus pembuatan patung tidak menggunakan mal atau sketsa tapi langsung dibentuk" tutur Pak Sur. Setelah dicetak atau dibuat topeng dan patung dijemur di bawah terik sinar matahari. Penjemuran dilakukan agar topeng dan patung yang baru dibentuk cepat kering. Bila sudah kering baru diberi cat warna-warni.

Agar bentuk topeng menyerupai bentuk aslinya, maka topeng perlu diberi asesoris berupa bulu ekor kuda, sapi atau kerbau. Vareasi lain bisa dbuat menggunakan spon. "Untuk patung kaki dilapaki menggunakan stereofom", tandasnya. Dalam sehari, setidaknya seniman berambut gondrong itu, bisa menyelesaikan sekitar 10 topeng dan 10 patung. Pembuatan tidak bisa banyak karena dalam membuat topeng dan patung butuh ketrampilan khusus serta ketelatenan.

Dia mengungkapkan, produksi topeng dan patung, bisa berhenti jika dirinya kebetulan ada order pembuatan lukisan atau desain taman. Pasalnya, pria yang ramah ini juga dikenal sebagai pelukis dan tukang taman. Baru setelah lukisan dan desain taman selesai produksi topeng dilanjutkan. Topeng dan patung kertas buatan Pak Sur laris terjual di tempat wisata jika musim liburan tiba. Kebanyakan pembelinya adalah anak-anak atau orang tua yang membelikan sovenir wisata untuk anaknya di rumah.

 

Namun demikian, ada pula kelompok kesenian kuda kepang, jatilan atau jaranan yang memesan untuk dipakai saat kelompoknya pentas. Karena terbuat dari kertas, topeng dan patung buatannya tidak terasa berat.  Bentuk patung orang rimba tampak unik sekali karena bentuknya mini dan wajahnya terlihat lucu dengan cat warna hitam dikombinasi putih pada bagian wajahnya. "Patung orang rimba sangat disukai oleh anak-anal,'' tandasnya.

(muharno zarka)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com