26 Februari 2016 | 14:13 wib | Prospek

Tas Unik dari Limbah Gelas Plastik

image

 Limbah gelas platik yang semula terbuang percuma diolah menjadi piring, tas dan aneka perlengkapan rumah tangga. Unik dan memiliki daya jual yang menguntungkan.

 

Reka ulang limbah gelas platik ternyata  bisa menjadi lahan bisnis yang menjanjikan. Seperti yang dilakukan  Nurlaelatul Aqifah, wara jalan Nanas Gang 23 No, 12 Kota Tegal. Dari bahan limbah gelas plastik bisa dikreasikan menjadi aneka peralatan rumah tangga. Antara lain  piring, keranjang buah, vas bunga, kap lampu dan yang tak kalah unik adalah tas wanita aneka gaya.

''Awalnya saya prihatin melihat banyak limbah gelas air kemasan yang berserakan di halaman. Dari situ  jiwa kreatifitas saya pun terusik dan muncul ide membuat kerajinan dari limbah gelas platik ini,'' kata wanita yang akran disapa Nur ini kepada <I>Cempaka <P>di rumahnya.

Ditangan wanita berkerudung ini, limbah gelas plastik yang dia kumpulkan direka ulang menjadi aneka bentuk. Mengandalkan kreativitas semata, limbah gelas plastik dibuat menjadi ragam bentuk. Hasil kreasinya pun tak hanya indah namun juga fungsional. Karenanya peralatan yang diproduksinya pun banyak diminati masyarakat. Hampir semua barang-barang yang dia buat laku dijual dan memberi dia penghasilan yang relatif besar. Bisa jadi karena itu, Nur juga sering diminta menjadi tutor untuk pelatihan berbagai kegiatan pelatihan kerajinan tangan sejumlah sekolah maupun komunitas perempuan.

Usaha yang dijalankan wanita yang tak pelit berbagai informasi ini dirintis pada tahun 2013. Seperti kebanyakan orang, saat awal menjalankan usaha ia menemui banyak kendala. Tak sedikit tetangga dan bahkan beberapa kenalan dekatnya yang mencibirnya. Mereka bahkan menganggap usaha Nur akan gagal. Satu hal yang menurutnya menjadi tantangan berat saat tangannya berulang kali terluka bahkan kena alergi ketika melepas bagian tutup gelas untuk dijadikan tas dan jenis kerajinan lainnya.

''Berulangkali tangan saya terluka  karena pisau yang digunakan untuk memotong sisa plastik tidak dibersihkan dengan benar,'' kata Nur.

Seiring berjalannya waktu, usaha yang dijalankan wanita murah senyum ini berjalan stabil. Bahkan menunjukan kemajuan yang membuatnya gembira. Cibiran demi cibiran pun tak diabaikan dan justru memotivasinya untuk  lebih berhasil.  ''Saat ini ada beberapa karyawan yang mengerjakan usaha ini. Bahkan karena sudah dikenal banyak tukang rongsok plastik bekas air kemasan yang setia mengirim limbah plastik siap pakai. Hal ini sangat membantu saya karena bisa mengurangi biaya produksi,'' imbuhnya.

Meski memakai bahan limbah yang harus diproses terlebih dulu, ia mengaku mudah mendapatkan bahan baku dengan harga yang relatif murah. Bahan dari limbah siap pakai ia beli dengan harga  Rp 2500  s/d Rp  3000 kilogram. Sayang, semua bahan tersebut sampai saat ini Ia beli dari pemasok di luar daerahnya. Bukan saja karena stok limbah di sekitar rumahnya relatif sedikit, tapi lebih dikarenakan sebagian besar masyarakat di sekitarnya yang enggan bekerja di sektor limbah plastik ini.

Untuk menjalankan usahanya, Nur dibantu  delapan karyawan. Mereka terbagi dalam beberapa bidang, yakni 2 orang di bidang menjahit dan sisanya  di tempatkan pada bagian persiapan dan packing.

Untuk memasarkan produknya Nur dibantu karyawannya pada awalnya menawarkan door to door ke berbagai instansi maupun pasar lainnya. Yang menarik, meski awalnya banyak yang mencibir dan bahkan beberapa karyawannya pun meragukan keberhasilan usahanya, Nur terus maju dan yakin usahnya bisa sukses.

" Alhamdulillah usaha saya tidak sia-sia. Setidanya  dari Kantor Disperindag Kota Tegal merespon dan memberi bantuan  1 unit mesin Obras, dua unit meja potong dan dua unit etalase,'' kata Nur.

 

Proses pembuatan

Menilik tampilan yang unik dan cantik bisa jadi tak banyak yang mengira kalau berbagai kerajinan buatan Nur terbuat dari limbah. Namun melihat proses pembuatannya tak bisa dipungkiri bahan baku ragam kerajinan tersebut sebagian besar memang menggunakan limbah gelas plastik.

Proses pembuatan piring, tas maupun kap lampu dimulai dari menyiapkan  bahan baku yakni memotong bagian lingkaran pada sisi atas dari gelas plastik tersebut. Setelah terpotong rapi, plastik yang sudah berbentuk lingkaran ini dicuci bersih. Selanjutnya bahan ini di jemur hingga kering kemudian dirangkai sesuai selera menggunakan tali tambang ukuran paling kecil. Untuk menguatkan ikatan digunakan lem tembak yang sekaligus berfungsi menutup bagian dari rangkaian yang masih berlubang. ''Pada proses penjahitan atau menyusun bentuk sesuai yang kita inginkan jangan terlalu kencang karena hasilnya akan melengkung.''

Dalam sehari, Nur mengaku bisa menyelesaikan lebih dari 4 produk. Jadi jika dia dibantu 8 karyawan maka dala satu bulan usahanya bisa memproduksi rata-rata 500 buah barang dengan variasi bentuk yang berbeda.

Harga masing-masing produk bervariasi. Untuk piring dijual dengan harga Rp 5000, keranjang Rp. 20.000 dan tas berkisar Rp. 30.000 tergantung ukuran.

Mengenai keuntungan, Nur tidak mau menyebut angka dengan pasti. Namun ia mengaku dari usaha yang dia lalukan bisa untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Karena itulah ia pun tak ragu membantu sesama dengan membagikan ketrampilannya kepada sejumlah siswa sekolah SMA dan ibu-ibu PKK .

Selanjutnya untuk mengembangkan usahanya, Nur juga membuat diversifikasi usaha dengan membuat aneka kerajinan dari bahan kulit pisang. Antara lain tas, File Box, dompet  dan map surat.

 

 

(akbar budi)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com