01 April 2016 | 15:28 wib | Prospek

Mendulang Untung dari Kreasi Decoupage

image

 Di tangan Erlina Handari telenan kayu yang murah dikreasikan menggunakan napkin decoupage menjadi hiasan dinding yang mahal dan lebih fungsinal.

 

Sekilas lukisan bunga berbingkai yang menempel di dinding ruang tamu rumah Elrina Handari seperti bunga sungguhan. Pasalnya, kelopak bunga terlihat menyembul dan bergerak-gerak kala tertiup angin. Cantik, unik dan menarik. ''Lukisan ini salah satu kreasi Napkin Decoupage,  yakni kerajinan tangan/craft menempelkan tisu  pada sebuah media, atau biasa disebut juga servittentechnik,'' kata wanita berparas manis yang akrab disapa Ade ini di rumah sekaligus tempat usaha di Perumahan Payung Asri Selatan, Banyumanik belum lama ini.

Seni menempel tisu pada media kayu atau bahan lainnya seperti tas pandan, hiasan dinding, kaleng susu dan bahkan lilin kini menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Seperti dilalukan Ade yang boleh dibilang sukses menjalankan  usaha pembuatan ragam kerajinan tangan berlabel Ade Handycraft. Selain menggarap tudung saji, batik kotemporer dan seni pactwork, kini Ade sibuk memenuhi pesanan  aneka produk kerajinan napkin decoupage. Beberapa jenis produk yang dikerjakan antara lain telenan untuk gantungan kunci, tempat tisu, tas dan lukisan.

Bermula dari mengikuti kursus di Jakarta sekitar 6 bulan lalu, Ade terinispirasi mengembangkan bakat seninya menggarap seni decoupage ini. Awalnya ia membuat ragam lukisan di atas kanvas. Menurutnya, olah seni yang satu ini mudah digarap dan memberi dia peluang berkreasi yang luas. Sebagai contoh lukisan gadis bermain musik di kebun bunga. Dalam lukisan tersebut ia bisa menggabungkan beberapa teknik melukis. Antara lain, membuat lukisan menggunakan cat air dikombinasi dengan teknik menempel kertas tisu serta dipadupadankan dengan gambar yang dibuat dengan teknik menjiplak menggunakan cat aklirik. Hasilnya adalah hiasan dinding yang sekilas terkesan sebagai tiga dimensi atau bahkan disebut lukisan lima dimensi.

Mengenai peluang bisnis ini, ibu dua anak; Adam dan Egy mengakui peluang bisnis handycraft yang satu ini potensial menghasilkan keuntungan yang besar. Pasalnya, untuk membuat satu kreasi, telenan untuk gantungan kunci misalnya, modal dasar yang dibutuhkan sekitar Rp 20 ribu. Biaya sebanyak itu untuk membeli telenan dari kayu, cat dan paku khusus untuk gantungan.

Setelah diolah dengan sedikit kreativitas menggunakan napkin decoupage atau di cat, telenan yang telah berubah menjadi hiasan dinding sekaligus tempat gantungan kunci nan cantik tersebut laku dijual seharga Rp 50 ribu lebih. ''Keuntungan yang bisa didapat bisa mencapai 100 persen lebih. Tapi nilai ini belum dihitung biaya operasional tenaga kerjanya lho,'' ujar Ade. Kemungkinan yang sama berlaku juga untuk produk lukisan, tempat tisu maupun tas tangan. Masing-masing dijual dengan harga yang berbeda sesuai ukuran, bahan baku yang dibutuhkan dan lama pengerjaan. Lukisan dijual seharga Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu, tempat tisu sekitar Rp 100 ribu dan tas berkisar Rp 125 ribu.

 

Mengandeng reseller

Tak ubahnya produk lainnya, untuk memasarkan hasil kerajinan buatannya wanita kelahiran Surabaya tahun 1967 ini lebih banyak mengandalkan pameran. Itu sebabnya, ia kerap mengikuti pameran baik yang diadakan oleh pemerintah maupun swasta. Diakui Ade, pameran adalah ajang yang efektif untuk mengenalkan produk baru sekaligus meluaskan jaringan. Meski demikian, menurut dia, kesempatan pameran lebih banyak dimanfaatkan untuk meluaskan jaringan, khususnya untuk mendapatkan reseller baru.

''Siapapun tentu ingin kalau pameran maunya semua barang kita bawa habis terjual. Tapi bagi saya, saat pameran adalah kesempatan untuk menjalin hubungan kerja dengan banyak reseller. Sebab jika mendapat reseller sama halnya mendapat pembeli baru  yang membeli produk kita dalam jumlah banyak dan berulang,'' kata dia memberi alasan. Sejauh ini, produk napkin decoupage buatan Ade telah beredar ke berbagai kota di Indonesia, khususnya Semarang, Bandung, Samarinda, dan Palembang.

Mengenai bahan baku ia mengatakan bahan baku seperti tas mendong, telenan atau tempat tisu dibelinya langsung dari pengrajin. Khusus untuk tempat tisu dari kayu, selama ini ia bekerjasama dengan pengrajin dari Sukoharjo. Sementara telenan dan tas masing-masing dibeli dari pengrajin di Tasikmalaya dan Bandung. Sedangkan cat aklirik dan kertas tisu atau dalam hal ini dikenal dengan napkin decoupage dia beli secara online. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal ia menggunakan dua jenis kertas tisu, masing-masing buatan Cina dan Eropa. ''Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Yang buatan Cina lebih murah tapi motifnya kurang bagus, sedangkan buatan Eropa motif dan kualitas lebih bagus tapi harganya mahal. Karena itulah saya kombinasi kedunya agar menghasilkan kreasi yang bagus tapi murah,'' tandas Ade.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(esty)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com