26 Agustus 2016 | 14:38 wib | Prospek

Kreasi Seni Limbah Laut

image

 

 Kerang dan limbah laut lainya ditangan Suranto dikreasikan menjadi ragam benda seni bernilai tinggi.

 

Ide membuka usaha datangnya bisa dari mana saja. Namun yang paling sering dilakukan adalah berkaitan dengan mengembangkan hobi. Seperti yang dilakukan Suranto dan istrinya Nanik Antini. Pasangan yang bertemu dan tinggal di Cilacap Jawa Tengah ini terdorong menekuni usaha kreasi seni limbah laut berkat keterampilannya melukis dan  berkutat di bidang seni. Banyak ragam sovenir dan ragam benda seni yang dibuatnya. Antara lain kaca hias, lampu gantung, jam dinding, lampu berdiri, hiasan dinding, tempat sabun, gantungan kunci, aneka gelang dari kulit kerang dan masih banyak lainnya. ''Bahan baku barang-barang ini sebagain besar dari kulit kerang. Tapi kami menyebutnya limbah laut,'' kata Suranto kepada Cempaka di stand pameran Usaha Kecil Menengah (UKM) di kawasan Pekan Raya Promosi dan Pembangunan (PRPP) Semarang belum lama ini.

Jauh sebelum menjalankan usahanya ini, Suranto dikenal sebagai pelukis panggilan. Beberapa pekerjaan yang kerap dijalani adalah melukis tembok sekolah dengan aneka gambar  yang selain mempermanis lingkungan sekolah juga bersifat mendidik anak-anak. Demikian juga halnya istrinya, Nanik Antini yang sedari muda gemar pula dengan kegiatan seni khususnya membuat aneka jenis kerajinan. Maka ketika pasangan ini menikah keduanya sepakat menggarap produk seni sebagai mata pencaharian mereka.

Ide mengolah aneka limbah laut diakui pria kelahiran November 1975 ini muncul kala berjalan-jalan ke Bali dan beberapa obyek wisata pantai lainnya. Sering dijumpai di berbagai tempat wisata tersebut ragam sovenir terbuat dari limbah laut. ''Dari berbagai alternatif usaha yang kami lalukan, salah satunya adalah membuat aneka kerajinan dari limbah laut ini. Ternyata usaha ini banyak diminati konsumen dan terus berkembang hingga sekarang,'' ujarnya.

Ia memulai usaha ini pada tahun 2006 lalu. Jenis sovenir yang dibuatnya mula-mula adalah kotak tisu, rangkaian tirai pintu, gantungan kunci dan ragam perhiasan seperti gelang dan kalung dari kerang. Selanjutnya berkembang membuat aneka jam dinding, lampu duduk, lampu gantung, ragam jenis ikan, lampu berdiri dan ragam sovenir pesanan khusus konsumen. ''Sovenir tempat sabun ini pesanan sebuah hotel dari Menado. Ada juga asbak dan kotak perhiasan,'' imbuh Suranto.

Dari pameran ke pameran

Untuk memulai usaha ini diakui pria bertubuh kekar ini perlu modal relatif besar sekitar Rp 25 juta. Uang sebanyak itu dia gunakan untuk membiayai berbagai kebutuhan. Yakni sewa kios, alat kerja dan bahan baku. Meski disebut limbah, dia ungkapkan harga bahan bakunya relatif mahal, khususnya jenis kerang laut dari luar pulau Jawa. Menurutnya, kualitas kerang yang berasal dari luar pulau Jawa, misalnya Makasar dan Menado, jenis kerangnya lebih variatif dan lebih berkilau. Hal itu dipengaruhi kadar garam yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan kadar laut Jawa yang lebih asin.

Proses pembuatan kreasi seni limbah laut ini seperti benda seni lainnya diawali dengan membuat desain. Selanjutnya pembuatan bahan jadi dengan memadu dengan bahan-bahan pendukung atau pelengkap seperti kayu, raisin, fiber dan juga kain pelapis. Pengerjaan sovenir dan benda seni tersebut semula dia kerjakan sendiri berdua dibantu istrinya. Namun seiring waktu berjalan, usahanya lebih maju dan jumlah pesanan meningkat, ia pun mulai memperkerjakan sejumlah tetangganya yang sebelumnya telah ia latih terlebih dulu.

Ia sengaja tidak mengangkat sejumlah pegawai tetap. Alasannya volume pekerjaan belum bisa dipastikan. Meski telah memiliki dua kios untuk memajang barang daganganya, sebagian besar produk masih bisa ditangani sendiri. ''Kami memperkerjakan karyawan dengan sistem kontrak atau tenaga lepas. Biasanya mereka akan kami panggil kalau ada pesanan dalam jumlah besar,'' imbuh dia menjelaskan.

Ragam produk seni limbah laut ini dijual dengan harga bervariasi. Yang termurah gantungan kunci sebesar Rp 5 ribu, jam dinding dan aneka hiasan dinding berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu, lampu gantung sekitar Rp 100 ribu hingga lampu berdiri berkisar Rp 2 juta. ''Untuk lampu - lampu besar biasanya untuk konsumsi hotel,'' ucapnya.

Sejauh ini usaha yang ia jalankan bisa memberinya pendapatan cukup. Besarnya keuntungan yang dia raup sekitar 30 persen. Dalam sebulan ia  mengantongi omset tak kurang Rp 15 juta. Jumlah ini tidak dihitung saat ada pameran yang dia ikuti sebagai upaya mengenalkan produk buatannya yang dikelola dengan label Kharisma Kerang. Pasalnya, khusus saat pameran omset bisa naik cukup signifikan. Bayangkan saja, jika satu hari omset penjualan sebesar Rp 1 juta maka jika mengikuti pameran selama 15 hari jumlahnya Rp 15 juta. ''Omset harian tidak tentu. Pada saat ramai bisa sangat besar tapi sebaliknya pada kesempatan lain sangat sepi,'' katanya. Meski begitu Suranto tetap rajin mengikuti pameran. Setidaknya ajang pameran diyakini bisa mendatangkan banyak keuntungan. Terlebih bisa mendapatkan buyer untuk diekspor. 

 

 

(esty valentina)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com