21 Oktober 2016 | 14:48 wib | Prospek

REZEKI MENGALIR DARI JAMU SEGAR

image

 Pasar jamu segar masih terbuka luas. Kuncinya, bahan jamu harus alami dan  rasanya dijamin enak.

 

Kebiasaan minum jamu sejak kecil menjadikan Ninik Sri Rejeki piawai membuat jamu. Bukan itu saja. Kini wanita kelahiran Semarang, 11 November 1961 ini pun bisa dibilang sukses menjalankan usaha pembuatan jamu segar dengan label jamu Seger Sumringah.

Ditemui di rumahnya yang juga dijadikan tempat memproduksi jamu, di kawasan Amarta Raya, Karangayu Semarang, wanita yang orang tua dan leluhur lainnya berasal dari Solo, Jawa Tengah ini tengah sibuk memasak jamu kunir asam. Dibantu putrinya, Danis, wanita yang akrab disapa Ninik ini melakukan sendiri seluruh proses pembuatan jamu segar. Mulai dari mengupas kunyit, melembutkan kunyit, merebus kunyit berikut bahan campuran lainnya hingga mengemas jamu dalam botol plastik berlabel. ''Selama masih bisa dikerjakan sendiri ya kami lakukan berdua. Kecuali sedang banyak pesanan kami minta tetangga untuk membantu,'' kata Ninik belum lama ini.

Ide menjalankan usaha di bidang pembuatan jamu segar bermula dari inisiatif Ninik menampilkan produk  jamu buatannya setiap kali ada kunjungan pengurus pengerak PKK di kelurahan tempat dia tinggal. Semua jamu yang ditampilkan sekadar untuk dikenalkan dan dibagikan kepada pengurus maupun anggota PKK lain yang hadir. Semua orang boleh minum secara gratis. Sama sekali tak ada niatan untuk dijual.

Menurut Ninik, pemikiran menjadikan jamu segar sebagai lahan usaha justru datang dari beberapa pejabat dan anggota PKK yang telah mencipi jamunya. Jamu segar buatan Ninik dinilai enak dan menyehatkan. Diyakini bahwa pasar jamu segar masih terbuka luas hingga dimungkinkan bisa berkembang menjadi usaha yang menguntungkan.

Usaha pengolahan jamu segar ini secara serius dimulai pada tahun 2013. Dengan modal tak lebih Rp 500 ribu, Ninik mengolah tiga macam jamu. Yakni, kunir asam, beras kencur dan gula asam. Meskipun namanya jamu, ketiga jenis minuman tersebut bercitarasa manis. Hingga dimungkimkan banyak kalangan masyarakat, baik tua dan muda menyukainya.

Dikatakannya, modal awal yang dia miliki sebagian besar dihabiskan untuk membeli bahan baku. Diantaranya, empon-empon seperti kunyit dan kencur. Selebihnya gula aren, gula merah, gula pasir, alat masak dan botol kemasan. Khusus mengenai bahan baku yakni kunyit dan kencur, ia mengatakan sengaja menggunakan bahan baku organik. Harapannya, jamu buatannya selain enak juga dijamin sehat. ''Sebagian kunyit dan kencur saya beli di kebun organik di Krobokan. Sebagian lain saya tanam sendiri,'' ucap Ninik.

 

Dari pameran dan bazar

Berbeda dengan jamu dalam kemasan yang memiliki masa layak konsumi relatif panjang, jamu segar buatan Ninik tak bisa disimpan lama. Jika dibiarkan dalam suhu ruang, jamu kunyit asam hanya bertahan sehari. Namun bila disimpan dalam kondisi beku bisa bertahan hingga 2 minggu lebih. Itu sebabnya jangkauan jamu segar buatan Ninik ini hanya bisa dipasarkan di Semarang dan sekitarnya.

''Semua bahan jamu ini menggunakan  bahan alami. Sama sekali tidak menggunakan  bahan pewarna, apalagi bahan pengawet. Untuk bisa tahan lebih lama campuran bahan jamu menggunakan gula pasir dan garam,'' imbuh Ninik.

Sejauh ini konsumen yang menjadi pelanggan jamu segar buatan wanita yang aktif menjadi pengurus PKK ini adalah karyawan di beberapa perkantoran. Setiap hari tak kurang 50 botol laku terjual. Jumlah ini meningkat secara signifikan setiap kali mengikuti pameran dan bazar. Bahkan sejak dirinya bekerja sama sengan sejumlah reseller yang menjual jamu buatannya secara on line, jamu buatannya lebih diminati kalangan anak muda. Tercacat beberapa mahasiswa menjadi reseller produk jamunya.

Menjelaskan sistem pemasaran yang dia jalankan, Ninik mengatakan masing-masing reseller menjual produknya dengan sistem konsinyasi. Harga yang dia patok pun sama dengan harga jual pada umumnya yakni Rp 4.500 per botol. 'Selanjutnya mau dijual berapa ya terserah mereka. Yang jelas dari saya harganya sama dan ongkos kirim ditanggung mereka sendiri,'' tutur dia menyebutkan omset yang didapat tidak sama, bisa naik turun dipengaruhi musim dan  minat masyarakat terhadap jamu.

Menyinggung soal keuntungan, ia mengatakan profit yang didapat bisa  mencapai 50 persen lebih. Namun sebaliknya, resiko yang ditanggung juga relatif besar. Pasalnya, jamu yang sehari tidak habis dikonsumsi tidak bisa disimpan. Harus dibuang agar tidak menimbulkan efek yang membahayakan  bagi kesehatan. Semua itu demi menjaga kualitas dan kepercayaan konsumen kepada produknya. Baginya kepercayaan pelanggan adalah kunci sukses usahanya.

 

 

 

 

(esti valentina)

© 2013 Tabloid Cempaka
Jl. Merak 11 Semarang Jawa Tengah. Telp. 3548118. Fax. 3545770
Email: redaksi@tabloidcempaka.com, iklan@tabloidcempaka.com